Pengalaman 7 menit baca

5 Tahun Setelah Beasiswa: Di Mana Mereka Sekarang? (10 Alumni Berbicara)

Bukan semua jadi CEO — ada yang sukses, ada yang biasa, ada yang masih berjuang. Ini representasi jujur.


· 812 views

Setelah Wisuda, Lalu Apa?

Setiap cerita beasiswa biasanya berakhir di momen wisuda: toga, foto, caption inspiratif di Instagram. Tapi yang jarang diceritakan adalah apa yang terjadi setelahnya.

Saya menghubungi 10 alumni beasiswa Indonesia — beragam program, beragam negara, beragam bidang — dan bertanya satu pertanyaan sederhana: "5 tahun setelah beasiswa, di mana kamu sekarang?"

Hasilnya? Lebih beragam dari yang kamu kira.

Alumni #1: Dina, 32 — Dari Chevening ke Startup Edtech

Beasiswa: Chevening, MSc Education Technology, UK (2020)

5 tahun kemudian: Co-founder startup edtech yang membantu guru-guru di daerah 3T mengakses pelatihan digital. Sudah di-fund oleh impact investor. Team: 15 orang.

Koneksi dengan beasiswa: "Network Chevening yang membuka pintu pertama. Co-founder saya adalah alumni Chevening dari Filipina yang saya kenal di London. Dan investor pertama kami adalah alumnus Chevening dari India yang menjadi venture capitalist."

Yang tidak terlihat: Startup-nya hampir bangkrut 2 kali. Tahun pertama, zero revenue. Dina sempat harus pinjam uang orangtua untuk bayar gaji karyawan pertamanya.

Alumni #2: Rizal, 34 — Dari LPDP ke... Kerja Kantoran Biasa

Beasiswa: LPDP, MBA, universitas di Australia (2019)

5 tahun kemudian: Manager di perusahaan FMCG di Jakarta. Gaji bagus, benefit lengkap, jenjang karir stabil. Pekerjaan yang "biasa."

Koneksi dengan beasiswa: "MBA dari Australia memberi saya fast-track ke posisi managerial yang mungkin butuh 3-4 tahun lebih lama tanpa gelar itu. Tapi jujur, pekerjaan sehari-hari saya tidak jauh berbeda dari rekan tanpa MBA."

Honest take: "Saya sering merasa guilty. Orang expect alumni beasiswa jadi something extraordinary. Tapi saya cuma pekerja kantoran biasa yang kebetulan punya gelar dari luar negeri. Dan saya sudah belajar bahwa itu OK."

Alumni #3: Sarah, 29 — Dari Erasmus Mundus ke Career Crisis

Beasiswa: Erasmus Mundus, Master in Public Health, Eropa (2020)

5 tahun kemudian: Baru saja resign dari posisi ke-3 dalam 5 tahun. Sedang gap year untuk re-evaluate karir.

Apa yang terjadi: "Setelah lulus, saya masuk NGO internasional — kontrak 1 tahun, tidak diperpanjang. Pindah ke WHO country office — kontrak 2 tahun, selesai. Pindah ke consulting firm — burn out setelah 1 tahun. Sekarang saya di titik: saya punya gelar keren tapi belum menemukan pekerjaan yang benar-benar saya cintai."

Pesan Sarah: "Beasiswa memberi saya tools dan perspektif yang luar biasa. Tapi beasiswa tidak memberi saya jawaban atas pertanyaan 'saya mau jadi apa.' Itu masih harus saya cari sendiri."

Alumni #4: Wahyu, 36 — Dari AAS ke Dosen dan Peneliti

Beasiswa: AAS, Master of Environmental Management, Australia (2019)

5 tahun kemudian: Dosen dan peneliti di universitas negeri. Sudah publish 8 paper internasional. Memenangkan 2 research grant. Pembimbing skripsi 15+ mahasiswa.

Koneksi dengan beasiswa: "S2 di Australia mengubah total cara saya melakukan riset. Metodologi yang saya pelajari, network dengan peneliti Australia yang sampai sekarang berkolaborasi — itu semua dari beasiswa."

Trade-off: "Gaji dosen? Jauh di bawah teman-teman yang kerja di korporat. Tapi saya bangun setiap pagi excited. Itu harganya."

Alumni #5: Mega, 31 — Dari DAAD ke Pindah Bidang Total

Beasiswa: DAAD, MSc Computer Science, Jerman (2020)

5 tahun kemudian: Food photographer dan content creator. Ya, pindah bidang total.

Ceritanya: "Saya lulus CS dari Jerman, kerja 2 tahun sebagai developer di startup. Burn out parah. Di masa recovery, saya mulai food photography sebagai hobi. Ternyata saya jauh lebih passionate di sini. Sekarang saya full-time photographer dengan klien F&B dan media. Penghasilan? Setara dengan gaji developer saya dulu."

Apakah beasiswa "terbuang"? "Tidak. Skill analytical thinking dari CS saya pakai setiap hari: workflow optimization, data-driven content strategy, bahkan coding website portfolio sendiri. Beasiswa tidak mendikte arah hidupmu — dia memberi kamu tools yang bisa kamu pakai ke manapun."

Alumni #6: Adi, 33 — Dari Fulbright ke PBB

Beasiswa: Fulbright, MA International Relations, AS (2019)

5 tahun kemudian: Staff di UNICEF country office di Jakarta. Posisi P-2 (professional level 2).

Jalurnya: Fulbright → magang di UNDP saat masih kuliah → kontrak jangka pendek → posisi tetap di UNICEF.

Realita: "Kerja di PBB itu prestisius dari luar. Dari dalam, banyak birokrasi yang frustrating, kontrak yang tidak pasti, dan politics internal yang melelahkan. Tapi dampaknya nyata — program yang saya kelola menyentuh 200.000 anak di Indonesia Timur."

Alumni #7: Fitri, 28 — Dari Stipendium Hungaricum ke Confused

Beasiswa: Stipendium Hungaricum, MSc International Economics, Hungaria (2021)

5 tahun kemudian: Kerja sebagai admin di kantor trading company. Posisi yang tidak berhubungan dengan gelar S2-nya.

Apa yang terjadi: "Pulang ke Indonesia, sulit cari kerja yang sesuai. Perusahaan Indonesia banyak yang tidak kenal universitas Hungaria. IPK saya bagus, tapi nama kampus tidak se-recognizable Oxford atau Melbourne. Akhirnya saya ambil pekerjaan yang available, bukan yang ideal."

Learning: "Saya tidak menyesal beasiswa — 2 tahun di Eropa membentuk saya sebagai manusia. Tapi saya wish seseorang bilang ke saya dulu: prestige kampus itu matter di pasar kerja Indonesia. Atau minimal, persiapkan network dan rencana karir SEBELUM pulang, bukan setelah."

Alumni #8: Budi, 37 — Dari LPDP ke Aktivis Lingkungan

Beasiswa: LPDP, MSc Environmental Science, UK (2019)

5 tahun kemudian: Pendiri organisasi non-profit yang fokus pada restorasi mangrove di pesisir Jawa.

Koneksi dengan beasiswa: "Thesis S2 saya tentang valuasi ekonomi ekosistem mangrove. Waktu itu cuma tulisan akademik. 5 tahun kemudian, thesis itu jadi basis argumen saya ke pemerintah daerah untuk melindungi 500 hektar mangrove dari reklamasi."

Financial reality: "Penghasilan saya sebagai aktivis? Jauh di bawah corporate. Tapi setiap kali saya lihat mangrove yang kami tanam tumbuh, saya tahu ini tempat saya."

Note: Budi masih mencicil kewajiban pulang LPDP sambil menjalankan organisasinya.

Alumni #9: Ika, 35 — Dari AAS ke Ibu dan Konsultan Part-time

Beasiswa: AAS, Master of Public Policy, Australia (2018)

5 tahun kemudian: Ibu 2 anak yang bekerja part-time sebagai konsultan kebijakan untuk beberapa NGO. Sengaja memilih part-time untuk bisa hadir di kehidupan anak-anak.

Honest take: "Ada pressure dari masyarakat: 'sudah beasiswa ke luar negeri, kok cuma kerja part-time?' Seolah investasi beasiswa harus di-return dalam bentuk karir cemerlang full-time. Tapi hidup saya bukan milik ekspektasi orang lain. Saya memilih keseimbangan."

Apakah beasiswa worth it? "100%. Gelar S2 memberi saya fleksibilitas untuk kerja part-time tapi tetap di level strategic. Tanpa itu, pilihan saya jauh lebih terbatas."

Alumni #10: Hendra, 40 — Dari Fulbright ke Wiraswasta Gagal ke Wiraswasta Berhasil

Beasiswa: Fulbright, MBA, AS (2017)

5 tahun kemudian: Pemilik 3 outlet coffee shop dan 1 roastery di Yogyakarta. Employee: 25 orang.

Jalurnya yang tidak linear: MBA di AS → kerja di consulting firm 1 tahun → resign, buka startup tech → startup gagal, rugi Rp300 juta → depresi 6 bulan → pulang ke Yogyakarta, buka coffee shop kecil → coffee shop berkembang → sekarang 3 outlet dan roastery.

Honest take: "MBA Fulbright tidak membuat saya sukses di percobaan pertama. Startup saya gagal total. Tapi skill yang saya pelajari — financial modelling, market analysis, negotiation — akhirnya kepake semua di bisnis kopi. Beasiswa memberi kamu tools. Kamu yang tentukan kapan dan bagaimana menggunakannya."

Pola dari 10 Cerita Ini

Setelah mendengar semua cerita, ini pattern yang muncul:

1. Tidak ada satu jalur "benar" setelah beasiswa. Dari 10 alumni: 2 di sektor publik/NGO, 2 wirausaha, 2 di korporat, 1 dosen, 1 freelancer, 1 pindah bidang total, 1 masih mencari. Semua valid.

2. Beasiswa membuka pintu — tapi kamu yang harus melangkah masuk. Gelar S2 luar negeri bukan autopilot ke kesuksesan. Masih butuh kerja keras, adaptasi, dan kadang keberuntungan setelahnya.

3. "Sukses" versi masing-masing berbeda. Budi dengan mangrove-nya merasa sukses. Ika dengan part-time dan keluarganya merasa sukses. Rizal dengan kerja kantoran "biasa" belajar untuk merasa sukses. Tidak ada standar tunggal.

4. Kegagalan setelah beasiswa itu NORMAL. Sarah yang pindah-pindah kerja, Hendra yang gagal startup, Fitri yang struggle cari kerja — ini realita yang perlu di-normalize. Beasiswa bukan jaminan hidup mulus.

5. Skills dari beasiswa transferable. Mega yang pindah dari CS ke photography, Hendra yang dari MBA ke coffee shop — mereka membuktikan bahwa yang kamu pelajari di S2 bisa dipakai di bidang yang sama sekali berbeda.

Pesan untuk Kamu yang Sedang Apply Beasiswa

Apply beasiswa bukan karena kamu ingin hidup sempurna setelahnya. Apply karena kamu ingin tools, perspektif, dan network yang membuat kamu lebih siap — apapun yang terjadi setelahnya.

5 tahun dari sekarang, kamu mungkin jadi CEO. Atau dosen. Atau aktivis. Atau ibu yang memilih part-time. Atau masih mencari. Semua itu OK.

Yang penting: kamu pernah mengambil langkah itu. Kamu pernah berani. Dan kamu punya tools yang tidak kamu miliki sebelumnya.

Beasiswa membuka pintu — tapi kamu yang harus melangkah masuk.

Cek panduan beasiswa dan cerita alumni lainnya di beasiswa.net. Langkah pertamamu dimulai dari satu klik.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...