Pengalaman 7 menit baca

Dari Desa yang Tidak Ada di Google Maps — ke Universitas Top 100 Dunia

Perjalanan dari infrastruktur minimal: tidak ada internet, sekolah bocor, guru honorer. Tapi curiosity dan determination mengalahkan segalanya.


· 1684 views

Desa Tanpa Nama di Peta Digital

Coba buka Google Maps. Ketik nama kota terbesarmu. Zoom in. Kamu akan melihat jalan-jalan, bangunan, bahkan toko-toko kecil.

Sekarang bayangkan sebuah tempat yang kalau kamu zoom in, yang muncul hanya hijau. Tidak ada jalan berlabel. Tidak ada bangunan yang ditandai. Tidak ada nama. Seolah tempat itu tidak ada.

Tapi tempat itu ada. Dan saya lahir di sana.

Desa saya terletak di pedalaman salah satu pulau besar di Indonesia. Untuk sampai ke sana dari kota kabupaten, kamu harus naik ojek 3 jam melewati jalan tanah yang berubah jadi sungai lumpur saat hujan. Tidak ada angkutan umum. Tidak ada sinyal telepon. Tidak ada internet.

Dan dari tempat yang "tidak ada" itu, saya sekarang kuliah di universitas yang masuk top 100 dunia.

Ini bukan cerita tentang kejeniusan. Ini cerita tentang kenaifan seorang anak desa yang terlalu bodoh untuk tahu bahwa mimpinya "mustahil" — dan karenanya, tetap bermimpi.

Bab 1: Sekolah dengan 3 Ruang Kelas

SD saya punya 3 ruang kelas untuk 6 tingkat. Artinya, kelas 1-2 digabung, kelas 3-4 digabung, kelas 5-6 digabung. Satu guru mengajar dua kelas sekaligus.

Gurunya ada 3 orang. Semuanya honorer. Gaji mereka ditanggung patungan oleh orangtua murid — masing-masing keluarga Rp20.000-50.000 per bulan.

Perpustakaan? Tidak ada. Buku? Hanya buku paket dari pemerintah yang sudah lusuh dan halaman-halamannya sobek. Laboratorium? Yang benar saja. Komputer? Kami bahkan tidak punya listrik yang stabil.

"Saya pertama kali melihat komputer di kelas 2 SMP, di kota kabupaten. Saya takjub. Saya tidak tahu benda apa itu. Saya pikir itu TV yang bisa diketik."

Tapi Ada Satu Hal

Di tengah keterbatasan itu, saya punya satu kekayaan: rasa ingin tahu yang tidak bisa dimatikan.

Saya bertanya tentang segalanya. Kenapa langit biru? Kenapa banjir datang setiap tahun? Kenapa ada orang kaya dan orang miskin? Guru-guru saya kadang tidak bisa menjawab. Tapi mereka tidak pernah menghentikan saya bertanya.

"Pak Guru pernah bilang: 'Saya tidak tahu jawabannya. Tapi suatu hari, kamu yang akan menemukan jawabannya sendiri.' Kalimat itu mungkin basa-basi dari beliau. Tapi bagi saya, itu izin untuk terus mencari tahu."

Bab 2: SMP di Kota Kabupaten — Dunia Baru

Untuk melanjutkan ke SMP, saya harus pindah ke kota kabupaten. Tinggal di rumah saudara jauh. Pertama kali jauh dari orangtua. Umur 12 tahun.

Kota kabupaten yang bagi kebanyakan orang Indonesia terasa "biasa," bagi saya adalah dunia yang mengagumkan.

  • Ada listrik 24 jam (di desa, listrik hanya 6 jam per hari dari genset)
  • Ada jalan aspal (di desa, jalannya tanah)
  • Ada internet (di warnet — Rp3.000 per jam)
  • Ada perpustakaan (kecil, tapi bagi saya seperti surga)

Di warnet itulah saya pertama kali mengetik nama saya di Google. Dan di warnet itu pula saya pertama kali menemukan kata "beasiswa".

"Saya Googling 'cara kuliah gratis' dan menemukan artikel tentang beasiswa. Saya baca sampai warnet tutup. Lalu keesokan harinya datang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Saya menyerap informasi seperti tanah kering yang akhirnya diguyur hujan."

Bab 3: SMA — Membangun dari Nol

SMA di kota yang sedikit lebih besar. Masih bukan Jakarta, bukan Surabaya, bukan kota besar. Tapi sudah ada bimbingan belajar (meskipun saya tidak mampu), sudah ada akses internet yang lebih baik, dan sudah ada satu-dua guru yang pernah mendengar tentang beasiswa luar negeri.

Di sinilah saya mulai membangun secara serius:

Bahasa Inggris dari Nol

Di desa saya, tidak ada pelajaran bahasa Inggris yang berarti. Guru bahasa Inggris di SD saya juga mengajar olahraga dan seni. Kemampuan bahasa Inggris saya di awal SMA: nol.

Saya belajar dari YouTube (di warnet). Saya menonton film berbahasa Inggris dengan subtitle bahasa Indonesia, lalu dengan subtitle bahasa Inggris, lalu tanpa subtitle. Saya mendengarkan podcast BBC Learning English setiap malam sebelum tidur.

3 tahun kemudian, IELTS saya: 6.5. Tidak sempurna, tapi cukup.

Pengalaman yang Bermakna

Saya tidak punya magang di perusahaan multinasional. Tidak ada pengalaman di organisasi besar. Yang saya punya:

  • Mengajar anak-anak SD di desa saya setiap liburan sekolah (gratis)
  • Membantu petani di desa mengurus administrasi pertanian
  • Menulis di blog tentang masalah lingkungan di daerah saya
  • Menjadi relawan saat banjir melanda desa tetangga

"Saya pikir pengalaman saya tidak bernilai. Tidak ada nama perusahaan terkenal. Tidak ada organisasi besar. Tapi ternyata, pengalaman NYATA yang dekat dengan komunitas justru yang paling dihargai oleh panel seleksi beasiswa."

Bab 4: Aplikasi Beasiswa — Bermodalkan Keberanian

Saya apply 8 beasiswa. Ditolak 7. Diterima 1.

Yang satu itu mengubah segalanya.

"Essay saya tidak sophisticated. Bahasa Inggris saya masih kaku. Tapi saya menulis dengan JUJUR. Saya menulis tentang desa tanpa internet, tentang sekolah dengan 3 ruang kelas, tentang pertama kali melihat komputer, tentang belajar bahasa Inggris dari YouTube di warnet. Saya menulis bukan untuk mengesankan, tapi untuk bercerita."

"Panel seleksi kemudian memberitahu saya: 'Your essay was the most authentic we read this year. We could feel the hunger for knowledge in every sentence.' Mereka tidak terkesan oleh prestasi saya — yang memang minimal. Mereka terkesan oleh PERJALANAN saya."

Bab 5: Pertama Kali Naik Pesawat

Ini momen yang akan saya ingat selamanya.

Usia 22 tahun. Pertama kali di bandara. Pertama kali melewati security check (saya bingung kenapa harus melepas sepatu). Pertama kali melihat pesawat dari dekat.

"Saya duduk di seat dekat jendela. Ketika pesawat take off, saya menangis. Bukan karena takut. Tapi karena saya melihat daratan Indonesia mengecil di bawah sana — dan saya sadar betapa kecilnya dunia yang selama ini saya kenal, dan betapa luasnya dunia yang menunggu."

Bab 6: Pertama Kali Melihat Salju

"Saya keluar dari asrama di pagi pertama musim dingin, dan ada sesuatu yang jatuh dari langit. Putih. Lembut. Dingin di kulit.

Saya berdiri di sana, mendongak ke langit, membiarkan salju jatuh ke wajah saya, dan tertawa seperti anak kecil. Orang-orang yang lewat mungkin bingung melihat mahasiswa yang berdiri di tengah salju sambil tertawa sendirian.

Mereka tidak tahu bahwa saya berasal dari tempat di mana suhu tidak pernah turun di bawah 25 derajat. Mereka tidak tahu bahwa saya baru saja mengalami sesuatu yang selama ini hanya saya lihat di TV. Salju pertama saya adalah konfirmasi bahwa saya benar-benar sudah jauh dari desa tanpa nama di peta digital itu."

Bab 7: Kontras yang Dramatis

Setiap hari, saya hidup dalam kontras yang kadang membuat kepala saya pusing.

  • Dulu: Belajar di bawah lampu minyak | Sekarang: Belajar di perpustakaan 24 jam dengan WiFi unlimited
  • Dulu: Buku pelajaran berbagi satu untuk berdua | Sekarang: Akses ke jutaan jurnal dan buku digital
  • Dulu: Internet di warnet 3 jam per minggu | Sekarang: Laptop pribadi dengan koneksi super cepat
  • Dulu: Guru honorer yang mengajar 2 kelas sekaligus | Sekarang: Profesor pemenang Nobel yang mengajar kelas saya

"Kadang, di tengah kuliah, saya tiba-tiba teringat anak-anak di desa saya yang sekarang duduk di sekolah yang sama dengan atap yang bocor. Dan saya merasa bersalah. Bersalah karena saya ada DI SINI sementara mereka masih DI SANA. Rasa bersalah itu tidak pernah hilang. Dan mungkin seharusnya memang tidak hilang — karena rasa bersalah itu yang mengingatkan saya untuk kembali dan melakukan sesuatu."

Rencana Pulang

Saya akan pulang. Bukan karena kewajiban beasiswa saja. Tapi karena saya tahu apa yang menunggu di desa saya: anak-anak dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan yang saya punya dulu, tapi tanpa akses yang saya miliki sekarang.

Rencana saya:

  • Membangun learning center di desa dengan akses internet
  • Program mentoring online untuk anak-anak desa di seluruh Indonesia
  • Advokasi kebijakan pendidikan untuk daerah terpencil
  • Dokumentasi dan riset tentang kesenjangan pendidikan Indonesia

"Saya tidak bisa mengubah seluruh sistem pendidikan Indonesia sendirian. Tapi saya bisa memastikan bahwa setidaknya SATU anak lagi dari desa tanpa nama di peta digital bisa duduk di tempat saya duduk sekarang."

Untuk anak-anak di desa terpencil yang mungkin tidak akan pernah membaca artikel ini: Kalian ada. Kalian dilihat. Kalian punya potensi yang sama besarnya dengan anak manapun di Jakarta, London, atau New York. Dunia belum memberikan kalian kesempatan yang adil — dan itu salah dunia, bukan salah kalian. Tapi suatu hari, kesempatan itu akan datang. Dan ketika datang, AMBIL.

Penutup

"Orang bilang saya inspiratif. Saya tidak merasa begitu. Saya hanya anak desa yang terlalu keras kepala untuk berhenti bermimpi. Yang terlalu penasaran untuk berhenti bertanya. Yang terlalu naif untuk tahu bahwa yang saya coba lakukan itu 'mustahil.' Dan mungkin kenaifan itu adalah berkah terbesar yang pernah saya terima — karena orang yang tidak tahu bahwa sesuatu mustahil akan terus mencoba sampai berhasil."

Dari desa yang tidak ada di Google Maps, ke universitas top 100 dunia. Jaraknya bukan cuma ribuan kilometer. Jaraknya adalah sejuta langkah kecil yang diambil oleh anak yang menolak untuk berhenti melangkah.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...