Helm Hijau dan Mimpi yang Terdengar Gila
Tahun 2021, saya baru saja di-PHK dari pabrik garmen di Tangerang. Umur 24 tahun. Uang tabungan: Rp2 juta. Tanggungan: ibu yang sakit dan adik yang masih SMA.
Pilihan yang masuk akal saat itu: daftar ojol. Dalam seminggu, helm hijau sudah di kepala, HP di holder motor, dan saya mulai narik penumpang dari jam 6 pagi sampai 10 malam.
3 tahun kemudian, saya duduk di lecture hall di Oxford University.
Baca Juga:
Cerita ini terdengar seperti fiksi. Saya sendiri kadang masih tidak percaya. Tapi ini nyata — dan jalannya jauh lebih berliku dari yang orang bayangkan.
Background: Bukan dari Nol, Tapi dari Minus
Saya lulus S1 Sastra Inggris dari universitas swasta di Jakarta. Biaya kuliah: sebagian beasiswa prestasi dari kampus, sebagian cicilan yang baru lunas 2 tahun setelah lulus. IPK: 3.3.
Setelah lulus, saya kerja di pabrik garmen sebagai admin export — pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan sastra Inggris, tapi yang membayar tagihan. 2 tahun di sana sebelum pandemi memakan perusahaan dan 300 karyawan termasuk saya.
Di-PHK di tengah pandemi, dengan tanggungan keluarga, tanpa safety net. Ojol bukan pilihan romantis — itu survival.
Titik Balik: Penumpang yang Mengubah Segalanya
Bulan ke-4 narik ojol, saya mengantarkan seorang bapak ke Kemang. Perjalanan 45 menit dalam macet Jakarta. Kami ngobrol — ternyata beliau dosen di universitas negeri, baru pulang dari sabbatical di Inggris.
Entah bagaimana, pembicaraan nyambung ke pendidikan. Saya cerita bahwa saya lulusan Sastra Inggris. Beliau kaget: "Kamu sarjana Sastra Inggris? Bahasa Inggrismu bagus begini? Kenapa tidak apply beasiswa ke luar negeri?"
Saya tertawa. "Pak, saya driver ojol. Beasiswa itu untuk orang pintar dan beruntung."
Beliau diam sebentar, lalu bilang sesuatu yang saya ingat sampai sekarang: "Yang membedakan orang yang dapat beasiswa dan yang tidak bukan pintar atau beruntung. Yang membedakan: yang satu apply, yang satu tidak."
Sebelum turun, beliau memberikan kartu nama dan bilang: "Hubungi saya kalau serius mau apply. Saya bisa bantu review dokumen."
Saya simpan kartu nama itu di dompet. Butuh 2 bulan sebelum saya berani menghubungi beliau.
3 Tahun Persiapan: Grind yang Tidak Terlihat
Dari bulan ke-6 narik ojol, saya mulai double life: ojol siang, belajar malam.
Jadwal harian:
- 05.30-06.00: Bangun, siap-siap
- 06.00-15.00: Narik ojol (target minimum Rp150 ribu/hari)
- 15.00-16.00: Istirahat, makan
- 16.00-17.00: Narik lagi (mengejar bonus)
- 18.00-19.00: Makan malam, urus rumah
- 19.30-22.30: Belajar IELTS / riset beasiswa / menulis essay
- 23.00: Tidur
Ini berjalan selama hampir 3 tahun. Bukan seminggu, bukan sebulan. Tiga. Tahun.
Tahun 1: IELTS dari Nol
Meskipun saya lulusan Sastra Inggris, IELTS adalah binatang yang berbeda. Academic writing IELTS berbeda dari essay sastra. Listening dengan aksen British pada kecepatan penuh itu brutal.
Saya belajar dari:
- YouTube: IELTS Liz, British Council channel (gratis)
- Cambridge IELTS practice books (beli bekas di Tokopedia, Rp50 ribu/buku)
- BBC Learning English podcast (gratis, saya dengarkan saat narik ojol)
IELTS pertama (setelah 8 bulan belajar): 6.5. Writing 6.0. Belum cukup untuk Oxford yang butuh 7.5 overall dan 7.0 per section.
IELTS kedua (5 bulan kemudian): 7.0. Writing 6.5. Masih kurang.
IELTS ketiga (4 bulan kemudian): 7.5. Writing 7.0. Akhirnya.
Total biaya 3x IELTS: Rp9,9 juta. Hampir 2 bulan penghasilan ojol. Setiap sen dari uang yang saya sisihkan sedikit demi sedikit.
Tahun 2: Riset dan Essay
Dosen yang saya antar itu — Pak Dharma — benar-benar membantu. Beliau review motivation letter saya 5 kali. Beliau hubungkan saya dengan 2 alumni Oxford yang bersedia menjadi unofficial mentor.
Research proposal saya tentang peran literasi digital dalam pemberdayaan pekerja gig economy di Indonesia — topik yang lahir langsung dari pengalaman saya sebagai driver ojol. Saya menulis tentang apa yang saya alami setiap hari: algoritma yang menentukan penghasilan, gap digital antara driver yang tech-savvy dan yang tidak, dan bagaimana platform technology mengubah relasi kerja.
Salah satu alumni Oxford yang mereview proposal saya bilang: "This is powerful because it's authentic. You're not theorizing about gig economy — you're living it."
Tahun 3: Apply dan Menunggu
Saya apply ke 6 program:
- Oxford — MSc in Social Data Science — Wentworth Scholarship — DITERIMA
- LSE — MSc in Media and Communications — Ditolak
- Chevening — Ditolak di shortlist (kurang experience di organisasi formal)
- Edinburgh — MSc in Digital Sociology — Diterima tanpa funding
- LPDP — Ditolak di interview
- Jardine Scholarship — Ditolak
5 penolakan. 1 penerimaan. Dan yang 1 itu kebetulan adalah Oxford.
Momen Pengumuman
Maret 2024. Saya baru selesai narik ojol, parkir motor di depan kontrakan, buka email di HP yang layarnya retak. Subject line: "Offer of admission and scholarship..."
Saya baca 3 kali. Lalu 3 kali lagi. Lalu saya masuk rumah, duduk di lantai, dan menangis.
Bukan tangis bahagia yang elegan seperti di film. Tangis yang brutal — 3 tahun kelelahan, keraguan, dan ketakutan yang keluar sekaligus.
Ibu saya yang sedang berbaring (sakit ginjal kronis) bertanya dari kamar: "Kenapa kamu nangis?"
"Bu, saya diterima di Oxford. Beasiswa penuh."
Ibu saya diam lama. Lalu bilang, dengan suara pelan: "Oxford itu... yang di Inggris itu?"
"Iya, Bu."
"Alhamdulillah."
Dari Helm Hijau ke Oxford: Yang Tidak Orang Lihat
Cerita ini viral ketika teman saya posting di Twitter. "Dari driver ojol ke Oxford." Ribuan retweet, ribuan komentar. Kebanyakan positif. Tapi ada juga yang skeptis: "Pasti bohong," "Pasti ada backing," "Cerita dibuat-buat."
Yang tidak mereka lihat:
- 3 tahun belajar setelah seharian narik ojol sampai badan sakit
- 3 kali tes IELTS yang menghabiskan tabungan
- Essay yang ditulis ulang 12 kali
- Malam-malam di mana saya hampir menyerah dan berpikir "siapa saya, kok berani mimpi Oxford"
- Rasa bersalah meninggalkan ibu yang sakit untuk pergi ke negara jauh
Tidak ada shortcut. Tidak ada privilege tersembunyi. Yang ada: 3 tahun grind yang konsisten.
Sekarang: Di Oxford, Masih Belajar
Saya menulis ini dari Bodleian Library, perpustakaan yang umurnya 400+ tahun. Di sebelah saya duduk mahasiswa dari Harvard, dari Tokyo University, dari Sciences Po. Dan saya — dari jalanan Jakarta.
Apakah impostor syndrome menyerang? Setiap hari. Apakah saya kadang merasa tidak pantas? Sering. Apakah saya menyesal? Tidak pernah.
Perspektif saya sebagai mantan driver ojol justru menjadi kekuatan di kelas. Ketika diskusi tentang platform economy, gig work, atau digital inequality — saya bukan orang yang baca tentang itu. Saya orang yang hidup di dalamnya.
Profesor saya bilang di minggu pertama: "The best research comes from people who have lived their research questions."
Tips untuk Kamu yang Merasa "Terlalu Biasa"
1. Background apapun bisa menjadi kekuatan di essay beasiswa. Driver ojol, guru honorer, petani, tukang las — cerita autentik dari pengalaman nyata itu POWERFUL. Jangan sembunyikan — tonjolkan.
2. Cari 1 orang yang percaya pada kamu. Bagi saya itu Pak Dharma, penumpang ojol yang menjadi mentor. Kamu hanya butuh 1 orang yang bilang "kamu bisa" ketika semua orang bilang "kamu gila."
3. Invest di IELTS secara serius. Ini barrier terbesar. Budget waktu 6-12 bulan dan uang untuk 2-3 kali tes. Tidak ada jalan pintas.
4. Tulis research interest dari pengalamanmu sendiri. Topik terbaik bukan yang paling "canggih" — tapi yang paling kamu pahami secara mendalam. Pengalaman hidupmu adalah data yang tidak dimiliki orang lain.
5. Apply banyak dan expect banyak ditolak. Saya ditolak 5 dari 6. Itu normal. Yang penting: 1 yang diterima sudah cukup mengubah hidup.
6. Jangan pernah berhenti. Titik. 3 tahun itu lama. Akan ada malam-malam di mana kamu ingin menyerah. Jangan. Besok pagi, buka buku lagi, buka laptop lagi, tulis satu paragraf lagi.
Pesan Terakhir
Asal kamu tidak pernah berhenti, background apapun bisa ditembus.
Saya bukan orang spesial. Saya cuma orang biasa yang memilih untuk tidak berhenti. Dari helm hijau ke Oxford — bukan karena keajaiban, tapi karena 3 tahun grind yang konsisten dan 1 penumpang yang percaya.
Kalau kamu di posisi yang kelihatannya jauh dari beasiswa — pekerja, driver, tukang, kasir — kamu tidak sejauh yang kamu kira. Mulai dari belajar bahasa Inggris. Mulai dari buka beasiswa.net. Mulai dari 1 langkah kecil hari ini.
Karena 3 tahun lagi, kamu bisa jadi orang yang menulis cerita ini untuk orang lain.
Komentar & Diskusi