Panduan 6 menit baca

Mereka Orang Indonesia Tapi Mengajar di Harvard, MIT, dan Oxford — Siapa Saja?

Profesor dan peneliti Indonesia di universitas top dunia — siapa mereka, apa riset mereka, dan bagaimana mereka bisa jadi supervisor kamu.


· 620 views

Wajah Indonesia di Kampus-Kampus Paling Prestisius

Bayangkan kamu masuk ke ruang kuliah di sebuah universitas top dunia. Dosennya berdiri di depan — dan ternyata orang Indonesia. Bukan cerita fiksi. Ada profesor dan peneliti Indonesia yang mengajar, meneliti, dan memimpin riset di kampus-kampus paling bergengsi di planet ini.

Mereka jarang muncul di media. Tapi kontribusi mereka dalam sains, teknologi, dan kebijakan global sangat nyata. Dan yang lebih penting untuk kamu: beberapa dari mereka bersedia menjadi supervisor atau mentor untuk mahasiswa Indonesia.

Nelson Tansu — Lehigh University, Amerika Serikat

Bidang: Fotononika dan Nanoelektronika

Posisi: Daniel E. '39 and Patricia M. Smith Endowed Chair Professor, Direktur Center for Photonics and Nanoelectronics (CPN)

Nelson Tansu tumbuh di Indonesia dan bermimpi menjadi profesor sains di Amerika sejak kecil. Pada usia 17 tahun, ia berangkat ke University of Wisconsin-Madison dan meraih gelar sarjana serta doktoral dalam fisika terapan dan teknik. Pada usia 25, ia sudah menjadi profesor di Lehigh University.

Risetnya fokus pada fisika dan teknologi nanostruktur semikonduktor untuk aplikasi fotonika dan efisiensi energi. Ia memiliki lebih dari 16 paten AS, dan inovasinya terintegrasi dalam teknologi pencahayaan solid-state yang digunakan secara global. Ia terpilih sebagai Fellow of National Academy of Inventors — penghargaan tertinggi bagi inventor akademik.

Kisah hidupnya diterbitkan sebagai buku anak best-seller di Indonesia: "Nelson the Boy who Loved to Read" — menginspirasi generasi muda bahwa anak Indonesia bisa menjadi pemimpin inovasi di level tertinggi.

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo — Chiba University, Jepang

Bidang: Penginderaan Jauh dan Teknologi Radar

Posisi: Full Professor, Center for Environmental Remote Sensing (CEReS)

Josaphat Tetuko menempuh pendidikan di Kanazawa University dan meraih PhD di Chiba University. Kini ia adalah Full Professor di salah satu pusat riset penginderaan jauh terkemuka di dunia.

Risetnya mencakup pengembangan synthetic aperture radar (SAR) untuk drone dan mikrosatelit — teknologi yang sangat krusial untuk Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Penginderaan jauh membantu pemantauan bencana alam, deforestasi, perubahan garis pantai, dan perubahan iklim.

Dalam orasi ilmiah di ITB, Josaphat menyatakan bahwa teknologi penginderaan jauh adalah kunci Indonesia untuk memimpin dunia. Ia aktif berkolaborasi dengan universitas Indonesia dan membimbing mahasiswa Indonesia yang ingin mendalami bidang ini.

Untuk pencari beasiswa: Jika kamu tertarik riset di bidang remote sensing, geospasial, atau teknologi satelit, Prof. Josaphat adalah koneksi yang sangat berharga. Program beasiswa MEXT Jepang bisa menjadi jalur untuk belajar di bawah bimbingannya.

Akademisi Indonesia di Universitas Australia

Bidang: Beragam — dari bioteknologi hingga kebijakan publik

Australia adalah salah satu tujuan utama akademisi Indonesia. Di University of Adelaide, Prof. Nelson Tansu kini juga memegang profil sebagai peneliti, memperluas jaringannya ke hemisfer selatan. Dr. Ines Atmosukarto, alumni University of Adelaide yang meraih PhD di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler, menjadi CEO Lipotek dan penerima UNESCO L'Oreal Fellowship for Women in Science.

Australian National University (ANU) memiliki Indonesia Institute yang secara khusus meneliti Indonesia — memberikan platform bagi akademisi Indonesia dan Australia untuk berkolaborasi dalam isu-isu penting: ekonomi, politik, lingkungan, dan kesehatan.

Untuk pencari beasiswa: Australia Destination Scholarship, Australia Awards, dan Endeavour Scholarship menyediakan jalur bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di universitas-universitas ini.

Profesor Indonesia di Kampus-Kampus Eropa

Warisan BJ Habibie di RWTH Aachen membuka jalan bagi generasi berikutnya. Universitas-universitas Jerman, Belanda, dan Inggris memiliki catatan panjang dalam menerima dan menghasilkan akademisi Indonesia.

Di Belanda, TU Delft dan Wageningen University memiliki sejarah kuat dengan Indonesia — tidak mengherankan mengingat hubungan historis kedua negara. Banyak program riset di bidang teknik air, pertanian, dan pembangunan berkelanjutan melibatkan peneliti Indonesia.

Di Inggris, University of Oxford dan Cambridge memiliki alumni Indonesia yang terus tumbuh. Carina Joe dari Jenner Institute, Oxford, menjadi salah satu pemilik paten vaksin AstraZeneca — membuktikan bahwa Indonesia punya tempat di pusat inovasi ilmiah dunia.

Laksana Tri Handoko: Dari Hiroshima ke Pimpinan BRIN

Bidang: Fisika Teoretis dan Partikel

Laksana Tri Handoko menempuh pendidikan di Kumamoto University dan pascasarjana di Hiroshima University, Jepang. Spesialisasinya adalah fisika partikel — bidang yang biasanya membawa ilmuwan ke laboratorium paling elit di dunia.

Tapi Handoko memilih jalur yang berbeda: pulang ke Indonesia dan membangun ekosistem riset nasional. Ia menjadi Ketua LIPI pada 2018, lalu Ketua BRIN pada 2021. Di posisi ini, ia merancang program untuk merekrut diaspora peneliti Indonesia — termasuk ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 — untuk berkolaborasi dengan peneliti dalam negeri.

Handoko berharap untuk menjembatani diaspora peneliti di luar negeri dengan peneliti domestik, dalam hal kolaborasi dan capacity building di Indonesia.

Bagaimana Menghubungi Profesor Indonesia di Luar Negeri

Ini bagian praktisnya. Kalau kamu ingin apply beasiswa riset (S2 atau S3), mendapatkan supervisor yang tepat adalah kunci. Berikut langkah-langkahnya:

1. Identifikasi Profesor yang Relevan

Gunakan Google Scholar untuk mencari peneliti Indonesia di bidang yang kamu minati. Cari publikasi terbaru mereka — ini menunjukkan apa yang sedang mereka riset sekarang.

2. Baca Publikasi Mereka

Sebelum mengirim email, baca setidaknya 2-3 paper terbaru mereka. Ini menunjukkan bahwa kamu serius dan paham bidang riset mereka.

3. Kirim Email yang Profesional dan Spesifik

Jangan kirim email generic "Dear Professor, I am interested in your research." Sebutkan paper spesifik yang kamu baca, jelaskan bagaimana riset mereka terhubung dengan minat kamu, dan tanyakan apakah mereka sedang menerima mahasiswa.

4. Manfaatkan Jaringan Alumni Indonesia

Banyak universitas memiliki asosiasi mahasiswa Indonesia (PPI). Hubungi PPI di universitas target — mereka bisa memberikan insight tentang profesor mana yang ramah terhadap mahasiswa Indonesia.

5. Pertimbangkan Beasiswa yang Mensyaratkan Supervisor

Beberapa beasiswa (MEXT, DAAD, AAS) mensyaratkan atau sangat menganjurkan kamu sudah memiliki calon supervisor sebelum apply. Mendapatkan persetujuan dari profesor Indonesia di universitas target bisa menjadi keunggulan besar.

Regulasi Baru: Karir Akademik untuk Diaspora

Kabar baik: pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi baru yang memungkinkan dosen WNI dari perguruan tinggi luar negeri untuk beralih menjadi dosen di Indonesia dengan penyetaraan jabatan akademik. Artinya, Associate Professor dari luar negeri bisa langsung diakui setara Lektor Kepala — tidak perlu memulai dari nol.

Ini membuka peluang baru: profesor Indonesia di luar negeri yang ingin pulang kini memiliki jalur karir yang lebih jelas. Dan untuk mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri, ini berarti ada lebih banyak mentor berkualitas yang akan tersedia di kampus-kampus Indonesia di masa depan.

Kamu Bisa Menjadi Mereka

Setiap profesor Indonesia di universitas top dunia pernah menjadi mahasiswa biasa yang mengirim aplikasi beasiswa. Nelson Tansu pernah menjadi anak 17 tahun yang baru pertama kali naik pesawat. Josaphat Tetuko pernah menjadi mahasiswa baru yang bingung dengan bahasa Jepang.

Mereka membuktikan bahwa jalan dari Indonesia ke podium akademik dunia itu ada — dan bisa ditempuh. Yang kamu butuhkan adalah langkah pertama.

Mulai perjalanan beasiswa kamu di beasiswa.net/daftar.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...