Pengalaman 12 menit baca

20 Hal yang Cuma Dipahami oleh Sesama Mahasiswa Beasiswa (Yang Lain Gak Akan Ngerti)

Inside jokes yang cuma bikin ngakak kalau lo pernah merasakannya sendiri


· 1713 views

Ini Bukan Artikel. Ini Support Group.

Ada hal-hal dalam hidup yang cuma bisa dipahami oleh orang yang mengalaminya. Dan buat mahasiswa beasiswa Indonesia di luar negeri, ada setidaknya 20 hal yang kalau lo ceritakan ke orang lain, mereka cuma bisa bilang "oh, gitu ya" sambil tidak benar-benar paham. Tapi kalau lo ceritakan ke sesama anak beasiswa? "ANJIR, ITU GUE BANGET."

Ini daftar yang akan membuat setiap mahasiswa beasiswa angguk-angguk setuju, tertawa miris, dan mungkin sedikit nangis. You have been warned.

1. Anxiety Setiap Kali Laporan ke Pemberi Beasiswa

Setiap 6 bulan atau setahun sekali, lo harus kirim laporan akademik ke pemberi beasiswa. Dan setiap kali, anxiety-nya level 11 dari 10.

"Apakah IPK gue cukup?" "Apakah mereka expect lebih dari ini?" "Kalau mereka kecewa gimana?" "Apakah beasiswa gue bisa dicabut?"

Lo nulis laporan itu dengan hati-hati luar biasa. Setiap kalimat ditimbang. Achievement di-highlight. Kekurangan di-frame sebagai "challenges that contributed to my growth." Pada dasarnya, laporan beasiswa itu seni diplomasi tingkat tinggi.

Dan setelah dikirim? Refresh email setiap 2 jam menunggu balasan. Kalau belasan tidak datang dalam seminggu, mulai paranoid: "Apakah mereka baca? Apakah mereka marah? Apakah mereka sedang memproses pencabutan beasiswa gue?" (Spoiler: biasanya mereka cuma sibuk dan belum baca.)

2. "Berapa Stipend Kamu?" — Pertanyaan Tabu Tapi Semua Penasaran

Ini pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan langsung (biasanya). Tapi semua orang penasaran. Berapa sih stipend mahasiswa Chevening? LPDP? MEXT? Fulbright? AAS?

Kalau ditanya langsung, jawaban standar: "Cukuplah buat hidup." Atau: "Lumayan, tapi tergantung kotanya." Atau paling diplomatik: "Alhamdulillah, cukup."

Tapi di antara sesama penerima beasiswa yang sudah akrab? Angkanya dibisikin. "Between us ya... EUR [jumlah] per bulan." Dan selalu ada reaksi: "BANYAK DONG" atau "Aduh, segitu doang di kota itu?" Relativitas ekonomi mahasiswa beasiswa itu complex.

Yang lebih awkward: ketika teman lo dari beasiswa berbeda dapat stipend 2x lebih besar tapi kerjaannya sama. "We don't talk about that," kata lo sambil makan Indomie yang keempat minggu ini.

3. Feeling Guilty Kalau Liburan — "Harusnya Belajar"

Natal break. Semua orang liburan. Lo booking tiket ke Barcelona karena ada promo. Tiba di Barcelona. Buka Instagram: foto di Sagrada Familia. Caption: "Well deserved break!" Realita di dalam kepala: "Gue harusnya baca paper. Gue harusnya nulis chapter 2. Gue buang-buang duit beasiswa. Gue gak deserve liburan ini."

Guilt trip mahasiswa beasiswa itu real dan persistent. Karena di belakang kepala, selalu ada suara yang bilang: "Ini duit rakyat/donor/pemerintah. Lo harus produktif 24/7." Dan suara itu bikin setiap momen santai terasa seperti dosa.

Realitanya? Lo butuh liburan. Otak yang tidak pernah istirahat itu tidak produktif. Dan pemberi beasiswa juga tidak expect lo jadi robot. Tapi try explaining that to your guilt. Dia tidak mau dengar.

4. Exchange Rate Anxiety — Setiap Rupiah Melemah = Panik

Buat yang stipend-nya dalam rupiah (hello, LPDP), exchange rate itu musuh nomor satu. Setiap kali rupiah melemah terhadap euro/pound/dollar/yen, stipend efektif-nya turun.

"Kemarin 1 EUR = Rp 17.000. Hari ini 1 EUR = Rp 17.500. Itu artinya stipend gue turun EUR 30 bulan ini." Perhitungan yang dilakukan secara otomatis, setiap hari, tanpa diminta. Exchange rate app ada di home screen HP, dilihat lebih sering dari Instagram.

Dan ketika rupiah menguat? Party. "Guys, rupiah menguat 200 perak! Nanti malam makan di luar yuk!" Kebahagiaan yang dipicu oleh fluktuasi mata uang. Only scholarship students understand.

5. "Kapan Lulus?" — Pertanyaan Paling Ditakuti

Tante di grup keluarga: "Kapan lulus, Nak?"
Teman SMA di Instagram: "Eh, lo kapan lulus?"
Mama saat video call: "Kapan ya selesainya?"
Otak sendiri jam 3 pagi: "Kapan gue lulus?"

Pertanyaan ini haunting. Terutama buat yang S2 atau S3 di mana timeline-nya tidak selalu predictable. Thesis yang harusnya selesai 6 bulan bisa jadi 12 bulan. Penelitian yang harusnya straightforward ternyata butuh eksperimen tambahan. Supervisor yang harusnya available ternyata sabbatical.

Dan setiap kali ditanya "kapan lulus?", ada mini existential crisis. "Kapan ya?" — pertanyaan yang sebenarnya lo juga tidak tahu jawabannya.

6. Perpanjang Beasiswa vs Cari Kerja: Drama Internal

Menjelang akhir masa beasiswa, ada dilema klasik:
A) Perpanjang beasiswa (kalau memungkinkan) dan lanjut riset/studi
B) Cari kerja di negara tempat kuliah
C) Pulang ke Indonesia

Setiap opsi punya pro dan kontra. Dan inner monologue-nya bisa berlangsung berbulan-bulan:

"Kalau perpanjang, gue bisa dapat lebih banyak publications..."
"Tapi kalau kerja, gue dapat pengalaman dan gaji..."
"Tapi kalau pulang, gue bisa dekat keluarga..."
"Tapi job market di Indo untuk bidang gue gimana?"
"Tapi kalau stay, visa gimana?"
"Tapi kalau pulang, apakah worth it semua yang gue invest di sini?"

Loop ini bisa berlangsung dari semester 3 sampai hari wisuda. Dan kadang, bahkan setelah memutuskan, lo masih bertanya-tanya "gimana ya kalau gue pilih yang lain?"

7. LinkedIn Penuh "Scholarship Recipient | Aspiring..."

Cek LinkedIn mahasiswa beasiswa Indonesia. Profile headline-nya pasti salah satu dari:
"[Nama Beasiswa] Awardee | MSc [Jurusan] at [Universitas]"
"Scholarship Recipient | Aspiring [Profesi] | Lifelong Learner"
"[Beasiswa] Scholar | Passionate about [Bidang] | Impact-driven"

Dan bio-nya selalu ada kalimat: "Grateful to be supported by [nama beasiswa] to pursue my dream of..." Kita semua melakukannya. Kita semua tahu kita melakukannya. Dan kita semua tidak akan berhenti melakukannya. Karena di dunia professional branding, beasiswa itu currency.

8. Impostor Syndrome: "Kok Bisa Saya Diterima Ya?"

Momen lo buka email penerimaan beasiswa: "CONGRATULATIONS! You have been selected..." Reaksi: teriak, nangis, telepon mama. Kemudian, 2 minggu sebelum berangkat: "Wait... kok gue bisa diterima ya? Pasti ada yang lebih layak. Mungkin mereka salah pilih. Mungkin gue cuma lucky."

Impostor syndrome itu teman setia mahasiswa beasiswa. Duduk di kelas bareng mahasiswa dari seluruh dunia yang kedengarannya lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih segalanya — dan lo merasa "gue ngapain di sini?"

Fakta: lo diterima karena lo layak. Panitia seleksi mengevaluasi ratusan, kadang ribuan, aplikasi. Mereka pilih lo bukan karena kebetulan. Tapi ya, try telling that to your impostor syndrome. Dia keras kepala.

9. Setiap Ketemu Orang Indonesia: "Beasiswa Apa?"

Lo di luar negeri, ketemu orang Indonesia random. Perkenalan:
"Halo, dari Indonesia juga ya?"
"Iya, lo juga?"
"Kuliah di sini?"
"Iya, S2."
"Beasiswa apa?"

Pertanyaan kelima. Selalu. Tanpa gagal. Sebelum tanya nama lengkap, sebelum tanya asal kota, sebelum tanya jurusan — "beasiswa apa?" Ini bukan kepoan. Ini bonding mechanism. Karena jawaban atas pertanyaan ini langsung memberikan konteks: timeline, funding, dan (kadang tidak adil tapi nyata) "status" di komunitas.

10. Berat Badan Naik Karena Stress Eating

Deadline thesis? Makan. Presentasi besok? Makan. Professor beri feedback harsh? Makan. Homesick? Makan. Bored? Makan. Happy? Celebrate — makan.

Mahasiswa beasiswa dan berat badan itu hubungan yang complicated. Di satu sisi, masak sendiri harusnya lebih sehat. Di sisi lain, comfort food itu biasanya tinggi kalori — Indomie goreng double, nasi goreng pakai extra telur, rendang yang berminyak, coklat yang dibeli saat stress.

"Gue berangkat ke sini berat 60kg. Sekarang 72kg. Thesis gue yang bertambah? 10 halaman. Berat badan gue? 12kg." Korelasi yang menyedihkan tapi relatable.

11. Jadi Informal Counselor untuk Juniors

Begitu lo senior — semester 3 atau 4 — lo otomatis jadi counselor, mentor, dan kadang therapist untuk juniors. Pertanyaannya bisa dari yang praktis sampai eksistensial:

"Kak, beli SIM card di mana?" (praktis)
"Kak, professor gue galak, gimana ya?" (akademik)
"Kak, gue homesick banget, gue mau pulang" (emotional)
"Kak, gue ngerasa gue gak cukup pintar untuk di sini" (deep)

Dan lo jawab semuanya. Karena dulu, ada senior yang jawab pertanyaan lo juga. Ini tradisi. Ini tanggung jawab. Dan jujur, kadang membantu orang lain juga membantu diri sendiri.

12. Kangen Makanan Indonesia > Kangen Pacar

Kontroversial tapi jujur. Setelah beberapa bulan di luar negeri:
Kangen pacar: rindu, tapi bisa video call, bisa chat.
Kangen rendang mama: TIDAK ADA SUBSTITUSI. Video call sama rendang tidak bisa. Foto rendang cuma bikin makin galau.

Seorang mahasiswa pernah posting: "Long distance relationship itu susah. Tapi long distance dari rendang mama itu lebih susah." 500 likes. Semua orang setuju. Pacar bisa sabar. Perut tidak.

13. CV Inflasi Setelah Beasiswa

Sebelum beasiswa: CV 1 halaman, pengalaman organisasi kampus, volunteer lokal.
Setelah beasiswa: CV 3 halaman, international conference, research paper, volunteer di NGO, "cross-cultural leadership experience", "global mindset".

Beasiswa itu CV steroid. Dan kita semua tahu cara mengemas pengalaman biasa jadi terdengar luar biasa. "Masak untuk acara PPI" jadi "organized multicultural culinary event for 50+ attendees." Technically true. Tapi ya... itu masak nasi goreng untuk potluck.

14. Fear of Missing Out Career-Wise

Lo di luar negeri belajar, sementara teman-teman seangkatan di Indonesia sudah kerja 2-3 tahun. Mereka sudah naik jabatan. Sudah punya pengalaman industri. Sudah punya gaji. Dan lo? Masih jadi mahasiswa. Stipend yang kalau di-convert ke rupiah mungkin lebih kecil dari gaji mereka.

"Gue kejar S2 biar karir lebih bagus. Tapi teman gue yang langsung kerja sekarang sudah jadi manager. Apakah gue salah ambil keputusan?" Pertanyaan ini datang minimal sebulan sekali. Dan jawabannya selalu: "Jalur setiap orang berbeda." Benar, tapi tidak selalu menenangkan.

15. "Mau Lanjut S3 atau Pulang?" — Existential Crisis Bulanan

Ini versi upgrade dari dilema nomor 6. Biasanya muncul di semester terakhir S2:

"Supervisor nawarin posisi PhD..."
"Tapi gue kangen Indonesia..."
"Tapi prospek riset di sini lebih bagus..."
"Tapi keluarga..."
"Tapi kalau pulang, penyesalan gak ya?"
"Tapi kalau stay, 3-5 tahun lagi jauh dari rumah..."

Crisis ini bisa berlangsung berminggu-minggu dan melibatkan: curhat ke 10 orang berbeda, bikin pros-cons list jam 2 pagi, googling "is PhD worth it" 50 kali, dan akhirnya... mengambil keputusan berdasarkan gabungan logika, intuisi, dan "yaudah lah, bismillah."

16. Tahu Harga SEMUA Barang dalam 3 Mata Uang

"Susu ini EUR 1.50, itu Rp 25.000, hmm di Indo susu UHT cuma Rp 10.000. Mahal juga ya."

Mahasiswa beasiswa punya built-in currency converter di otak. Setiap kali beli sesuatu, otomatis di-convert ke rupiah. Dan setiap kali, hasilnya bikin sakit hati. "Kopi EUR 3.50 itu Rp 58.000. Di Indo bisa dapat 5 kopi sachet."

Kemampuan ini tidak hilang bahkan setelah pulang ke Indonesia. "Nasi goreng Rp 20.000? Itu cuma EUR 1.20! MURAH BANGET!" Perspektif harga yang sudah permanent shifted.

17. Sleep Schedule Rusak karena Timezone Video Call

Indonesia WIB = GMT+7. Kalau lo di Eropa (GMT+1/+2), gap-nya 5-6 jam. Artinya: kalau mama mau video call habis Isya (jam 8 malam WIB), di Eropa itu jam 1-2 siang — masih oke. Tapi kalau papa baru bisa call setelah kerja jam 9 malam WIB, di Eropa itu jam 2-3 siang — masih oke.

Yang challenging: kalau lo di USA (gap 12-13 jam). Mama mau call jam 8 malam WIB = jam 7-8 pagi di East Coast. Papa mau call jam 9 malam WIB = jam 8-9 pagi. Masih manageable.

Yang destructive: kalau lo punya teman/pacar/keluarga yang suka call mendadak. "Eh, bisa call gak sekarang?" (jam 11 malam WIB = jam 4-5 pagi di Eropa). Dan karena kita tidak mau mengecewakan... kita angkat. Mata setengah melek, suara serak, tapi call tetap jalan. Sleep schedule? Apa itu?

18. Hafal Jadwal Penerbangan Jakarta-[Destination]

Lo tahu ada penerbangan Jakarta-Amsterdam via Singapore Airlines transit Changi jam 10 malam, atau via Emirates transit Dubai jam 1 pagi, atau via Turkish Airlines transit Istanbul jam 8 malam? Lo tahu mana yang paling murah di bulan apa? Lo tahu kapan harus booking untuk dapat harga terbaik?

Mahasiswa beasiswa itu unofficial travel agent untuk rute Jakarta ke kota tujuan mereka. Pengetahuan ini dibangun dari pengalaman dan berbagi info di grup WA: "Guys, Garuda promo ke Amsterdam Rp 8 juta PP! Booking sekarang!" Informasi yang lebih cepat menyebar dari breaking news.

19. "Bawa Apa dari Indonesia?" — Selalu Lebih dari yang Dibutuhkan

Setiap kali balik dari Indonesia, lo bawa terlalu banyak barang. Bukan karena lo gak tahu. Lo TAHU lo bawa kebanyakan. Tapi lo tidak bisa menolak.

"Bawa aja, siapa tahu butuh" — mantra ibu Indonesia yang tidak bisa dilawan. Hasilnya: 2 koper penuh, 1 tas kabin penuh, 1 backpack penuh, dan kadang 1 kardus yang dikirim pakai cargo karena koper sudah tidak cukup.

Isinya: makanan (60%), baju dari mama yang "bagus ini, bawa aja" (15%), oleh-oleh untuk teman (15%), dan barang yang sebenarnya tidak perlu tapi mama maksa (10%). "Mama, gue gak butuh selimut dari Indonesia, di sana ada pemanas." — "Bawa aja, Nak. Selimut rumah beda." Lo bawa selimut itu. Dan honestly? Mama benar. Selimut rumah memang beda.

20. Momen Lulus: "Worth It Semua Perjuangannya"

Hari wisuda. Lo pakai toga. Berdiri di depan universitas yang 2-3 tahun lalu cuma lo lihat di brosur. Di sekitar lo, teman-teman dari seluruh dunia yang sudah jadi keluarga kedua. Di HP, mama nangis lewat video call. Di dada, rasa bangga yang tidak bisa diukur.

Dan di momen itu, semua hal di daftar ini — anxiety laporan, stipend yang pas-pasan, impostor syndrome, homesickness, rendang yang tidak pernah seenak buatan mama — semua itu worth it. Setiap detik, setiap air mata, setiap Indomie tengah malam, setiap video call sambil nangis — worth it.

Lo bukan cuma dapat gelar. Lo dapat perspektif, ketahanan, persahabatan internasional, dan cerita-cerita yang akan lo ceritakan ke anak cucu. "Dulu, Mama/Papa pernah kuliah di luar negeri dengan beasiswa..." Dan cerita itu akan menginspirasi generasi berikutnya untuk bermimpi yang sama.

Penutup: Kita Paham, Karena Kita Merasakannya

Dua puluh hal di atas bukan cuma daftar. Itu shared experience yang menyatukan ribuan mahasiswa beasiswa Indonesia di seluruh dunia. Lo tidak perlu menjelaskan kenapa lo anxiety soal exchange rate, atau kenapa foto rendang buatan sendiri itu achievement, atau kenapa pertanyaan "kapan lulus" bikin lo ingin menghilang. Sesama anak beasiswa paham. Tanpa perlu penjelasan.

Dan itu yang bikin komunitas ini spesial. Di antara semua perbedaan — negara, jurusan, beasiswa, kepribadian — ada kesamaan pengalaman yang mengikat kita. Pengalaman yang tidak akan pernah bisa dipahami sepenuhnya oleh orang lain, tapi akan selalu dikenang oleh kita.

Jadi untuk semua mahasiswa beasiswa di luar sana: lo gak sendirian. Lo gak aneh. Dan semua yang lo rasakan — itu valid. Terus berjuang. Karena suatu hari, lo akan berdiri di panggung wisuda dan tahu bahwa semua ini worth it.

Share ke SEMUA teman beasiswa lo. Ini artikel yang bikin ketawa, terus diam sebentar, terus senyum. Karena "itu gue banget." Wkwk.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...