Trigger Warning
Artikel ini membahas kesehatan mental, kesepian, dan momen-momen sangat gelap. Jika kamu sedang dalam kondisi yang rentan, mohon baca dengan bijak atau simpan untuk nanti. Jika kamu membutuhkan bantuan, hubungi Into The Light Indonesia: 119 ext. 8.
Minggu ke-9
Matahari terbenam jam 3 sore. Langit berubah dari abu-abu ke hitam dalam 20 menit. Suhu di luar minus 5 derajat. Angin menusuk tulang.
Saya duduk di kamar asrama. Sendirian. Lampu mati — bukan karena listrik padam, tapi karena saya tidak punya energi untuk menyalakan. Saya duduk di gelap, menatap tembok, dan bertanya:
Baca Juga:
"Kenapa saya di sini?"
Ini bukan pertanyaan filosofis. Ini pertanyaan yang lahir dari keputusasaan. Dari 9 minggu di negara asing yang tidak terasa seperti rumah. Dari kesendirian yang begitu dalam sampai rasanya fisik — seperti ada lubang di dada yang tidak bisa ditutup.
Ini adalah hari tergelap saya di luar negeri. Dan ini ceritanya.
Bagaimana Semuanya Dimulai
Minggu pertama terasa seperti liburan. Semuanya baru, exciting, penuh adrenalin. Kota baru, kampus baru, teman baru, makanan baru. Saya posting foto di Instagram. Saya balas ucapan selamat dari teman-teman di Indonesia. Saya merasa di puncak dunia.
Minggu kedua: adrenalin mulai turun. Reality hits.
Minggu ketiga: saya sadar bahwa saya benar-benar SENDIRIAN.
Bukan sendirian dalam arti fisik. Ada teman sekelas, ada roommate, ada orang-orang di sekitar. Tapi sendirian dalam arti yang lebih dalam — tidak ada satu pun orang di negara ini yang benar-benar MENGENAL saya. Tidak ada yang tahu cerita hidup saya. Tidak ada yang tahu lagu apa yang saya dengarkan waktu sedih. Tidak ada yang bisa saya telepon jam 2 pagi ketika dunia terasa terlalu berat.
Di Indonesia, saya punya jaringan pengaman yang tidak saya sadari: teman lama, keluarga besar, tetangga, warung langganan yang penjualnya hafal pesanan saya. Semua itu hilang dalam satu penerbangan 12 jam.
Spiral yang Tidak Saya Prediksi
Makanan
Ini terdengar sepele, tapi makanan adalah pemicu pertama.
Saya rindu nasi. Rindu sambal. Rindu mie ayam. Rindu bakso dari tukang bakso keliling. Rindu makan sambil duduk lesehan. Rindu rasa yang BENAR menurut lidah saya.
Masak sendiri? Bahan-bahan Indonesia mahal dan sulit didapat. Rempah-rempah yang di Indonesia murah, di sini harganya 5-10 kali lipat. Masak nasi goreng yang rasanya HAMPIR sama — tapi "hampir" itu yang menyiksa. Karena "hampir" mengingatkan betapa jauhnya saya dari rumah.
Cuaca
Saya dari kota tropis. Matahari terbit jam 6, terbenam jam 6. Konsisten. Sepanjang tahun.
Di sini, musim dingin berarti matahari terbit jam 8 dan terbenam jam 3 sore. Tujuh jam cahaya matahari per hari. Sisanya gelap.
Dampaknya pada mental saya: luar biasa. Saya merasa lesu sepanjang waktu. Tidak ada motivasi. Tidak ada energi. Seasonal Affective Disorder — saya baru tahu istilah ini setelah mengalaminya. Seperti depresi yang datang bersama musim dingin dan pergi bersama musim semi.
Bahasa
IELTS saya 7.0. Saya pikir bahasa Inggris saya cukup bagus. Salah.
Di kelas, professor berbicara cepat dengan aksen yang tidak saya familiar. Diskusi kelas bergerak dalam kecepatan yang tidak bisa saya ikuti. Saya ingin berkontribusi, tapi saat saya merumuskan kalimat dalam kepala, topik sudah bergerak. Saya diam. Kelas demi kelas. Minggu demi minggu.
"Saya merasa bodoh. Padahal di Indonesia saya selalu aktif di kelas. Tapi di sini, saya menjadi orang yang paling diam."
Ujian Pertama
Dan kemudian, ujian pertama. Hasilnya: gagal.
Pertama kali dalam hidup saya gagal ujian. Saya yang selalu di top 10 di Indonesia. Saya yang dibanggakan dosen-dosen saya. Saya yang keluarganya mengandalkan saya. Gagal.
Saat itu, semua runtuh. Semua keraguan yang sudah menumpuk selama 9 minggu meledak sekaligus. Saya tidak cukup pintar. Saya tidak seharusnya di sini. Beasiswa ini salah diberikan. Saya akan mengecewakan semua orang.
Hari Itu
Hari itu adalah 3 hari setelah ujian gagal. November. Gelap jam 3 sore. Suhu minus. Saya tidak keluar kamar sejak kemarin.
Saya berbaring di tempat tidur. Belum mandi. Belum makan. Ponsel saya mati karena saya tidak charge. Curtain tertutup. Lampu mati.
Di kegelapan itu, pikiran-pikiran yang menakutkan datang:
- "Saya mau pulang"
- "Saya tidak bisa melanjutkan ini"
- "Semua orang akan kecewa"
- "Saya bukan siapa-siapa di sini"
- "Tidak ada yang peduli saya ada atau tidak"
Saya menangis. Lama. Tanpa suara. Karena tembok kamar asrama tipis dan saya tidak mau roommate mendengar.
Yang Menyelamatkan Saya
Ketukan di Pintu
Jam 7 malam. Saya masih di tempat tidur. Ada ketukan di pintu.
Saya tidak menjawab. Ketukan lagi. Masih tidak menjawab.
Suara dari luar: "Hey, it's Maria. Are you okay? I haven't seen you in two days."
Maria. Teman sekelas dari Brasil. Yang duduk di sebelah saya di kelas. Yang pernah saya bantu memahami bacaan. Yang sering tersenyum pada saya di kantin.
Saya tidak menjawab. Tapi Maria tidak pergi.
"I'm leaving some soup at your door. Please eat. And if you want to talk, I'm in room 204."
Saya mendengar langkah kakinya menjauh. Saya menunggu 10 menit. Lalu membuka pintu. Di lantai, semangkuk sup hangat.
Saya makan sup itu sendirian di kamar gelap. Dan saya menangis lagi. Tapi kali ini, tangisan yang berbeda. Bukan tangisan keputusasaan, tapi tangisan karena seseorang peduli.
Telepon Pulang
Setelah makan, saya charge ponsel dan menelepon ibu saya. Saya tidak bercerita tentang ujian gagal atau tentang kegelapan. Saya cuma bilang: "Bu, saya kangen."
Ibu saya, dengan instinct yang hanya dimiliki ibu, tahu ada sesuatu yang salah. "Nak, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Bu. Cuma kangen aja."
Hening sejenak. Lalu: "Ibu juga kangen. Tapi Ibu bangga sama kamu. Selalu."
Enam kata itu. "Ibu bangga sama kamu. Selalu." Enam kata yang menjadi tali yang menarik saya keluar dari lubang gelap.
Langkah Kecil
Keesokan harinya, saya memaksakan diri keluar kamar. Langkah kecil. Mandi. Makan sarapan. Jalan ke kampus. Masuk kelas.
Di kelas, Maria tersenyum pada saya. "Good to see you," bisiknya. Senyum sederhana itu lebih berarti dari yang dia tahu.
Proses Penyembuhan (yang Tidak Linear)
Saya ingin bilang bahwa setelah hari itu, semuanya membaik. Tapi itu bohong.
Penyembuhan itu TIDAK linear. Ada hari-hari baik dan hari-hari buruk. Ada minggu di mana saya merasa kuat, lalu minggu berikutnya saya kembali ingin mengunci diri di kamar.
Tapi perlahan, dengan langkah-langkah kecil, saya menemukan jalan:
1. Counseling Service Kampus
Saya akhirnya pergi ke university counseling service. Gratis. Confidential. Counselor-nya tidak menghakimi. Dia mendengarkan. Dan dia bilang sesuatu yang mengubah perspektif saya:
"What you're feeling is normal. Almost every international student goes through this. You're not weak. You're adapting."
Normal. Kata itu membebaskan saya dari rasa malu.
2. Komunitas Indonesia
Saya bergabung dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Di situ saya bertemu orang-orang yang PAHAM. Yang pernah merasa seperti saya. Yang bisa saya ajak ngomong dalam bahasa Indonesia. Yang masak nasi goreng bareng setiap Jumat malam.
Komunitas itu bukan cuma teman. Itu rumah kedua.
3. Rutinitas Kecil yang Menyelamatkan
- Jalan pagi 20 menit setiap hari (bahkan di cuaca buruk)
- Masak nasi setiap hari (ritual yang menghubungkan saya dengan rumah)
- Video call keluarga setiap Minggu (dijadwalkan, tidak boleh dilewatkan)
- Tidur sebelum jam 11 (kedengarannya sederhana, efeknya luar biasa)
4. Vitamin D dan Light Therapy
Counselor merekomendasikan suplemen vitamin D (karena kurang sinar matahari) dan light therapy lamp. Efeknya nyata — energi saya membaik, mood saya lebih stabil.
Ujian Kedua
Ujian kedua datang 2 bulan kemudian. Kali ini, saya lebih siap. Bukan karena lebih pintar, tapi karena lebih STABIL secara mental.
Hasilnya: B+. Bukan sempurna. Tapi setelah apa yang saya lewati, B+ terasa seperti medali emas Olimpiade.
Sekarang
Sekarang saya sudah di semester akhir. Thesis sedang berjalan. Nilai bagus. Punya teman-teman dari seluruh dunia. Punya rutinitas yang membuat saya waras.
Tapi saya tidak pernah lupa hari tergelap itu. November. Gelap jam 3 sore. Sendirian di kamar. Menangis tanpa suara.
Saya tidak lupa karena saya tidak MAU lupa. Momen itu mengingatkan saya bahwa saya bisa melewati apa saja. Bahwa kegelapan itu sementara. Bahwa bantuan selalu ada kalau kita mau meminta.
Pesan Terakhir
"Hari tergelap dalam hidup saya bukan hari di mana saya gagal ujian. Bukan hari di mana saya sendirian. Hari tergelap adalah hari di mana saya percaya bahwa kegelapan itu permanen — bahwa tidak akan ada cahaya lagi. Tapi saya salah. Cahaya datang. Kadang dalam bentuk sup hangat di depan pintu. Kadang dalam bentuk enam kata dari ibu. Kadang dalam bentuk senyuman teman di kelas. Cahaya itu kecil, tapi cukup untuk menuntun jalan keluar."
Untuk kamu yang sedang dalam kegelapan: cahayamu sedang dalam perjalanan. Bertahanlah satu hari lagi. Lalu satu hari lagi. Dan satu hari lagi.
Sampai cahaya itu tiba.
Komentar & Diskusi