Pengalaman 6 menit baca

Ilmuwan Indonesia yang Diperebutkan Universitas Dunia — Dan Mereka Pulang

Otak Indonesia dihargai dunia. Yang lebih mengharumkan: banyak yang memilih pulang untuk membangun negeri.


· 852 views

Ketika Dunia Menginginkan Mereka, Indonesia Memanggil Pulang

Ada narasi yang sering terdengar: ilmuwan Indonesia pergi ke luar negeri dan tidak kembali. Tapi cerita yang jarang diangkat justru lebih menginspirasi — ilmuwan Indonesia yang ditawari posisi bergengsi di universitas top dunia, laboratorium riset terkemuka, dan perusahaan multinasional, tapi memilih pulang ke Indonesia.

Bukan karena tidak punya pilihan. Justru karena mereka punya terlalu banyak pilihan — dan mereka memilih Indonesia.

Prof. Adi Utarini: Masuk Nature's 10 dan TIME 100, Tetap di Yogyakarta

Ketika jurnal Nature memasukkan nama Adi Utarini dalam daftar "Nature's 10: Ten People Who Helped Shape Science" pada 2020, universitas-universitas di seluruh dunia pasti melirik. Ketika TIME Magazine menamakannya salah satu dari 100 Most Influential People 2021, tawaran kolaborasi internasional pasti membanjir.

Tapi Adi Utarini tetap di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mengapa? Karena risetnya — menggunakan nyamuk ber-Wolbachia untuk memberantas demam berdarah — dirancang untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia. Riset ini berhasil mengurangi kasus demam berdarah hingga 77 persen di beberapa kota besar Indonesia.

Adi Utarini membuktikan bahwa menjadi ilmuwan kelas dunia tidak berarti harus meninggalkan Indonesia. Justru, Indonesia adalah laboratorium terbaiknya — tempat di mana risetnya paling dibutuhkan dan paling berdampak.

Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo: Profesor di Jepang, Hati di Indonesia

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo menempuh pendidikan di Kanazawa University dan meraih PhD di Chiba University, Jepang. Ia kini menjabat sebagai Full Professor di Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University — posisi yang sangat bergengsi di dunia akademik Jepang.

Risetnya fokus pada pengembangan synthetic aperture radar (SAR) untuk penginderaan jauh, termasuk sistem untuk drone dan mikrosatelit. Teknologi ini sangat relevan untuk Indonesia — negara kepulauan terbesar di dunia yang butuh pemantauan bencana, deforestasi, dan perubahan iklim.

Meskipun berbasis di Jepang, Josaphat tetap aktif berkontribusi untuk Indonesia. Ia rutin berkolaborasi dengan ITB dan universitas Indonesia lainnya, membimbing mahasiswa Indonesia, dan mentransfer teknologi yang ia kembangkan ke tanah air. Dalam orasi ilmiahnya di ITB, ia menyatakan bahwa teknologi penginderaan jauh adalah kunci Indonesia untuk memimpin dunia.

Tri Mumpuni: Ilmuwan yang Menerangi Desa-Desa Terpencil

Tri Mumpuni adalah peneliti, wirausaha sosial, dan penemu pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang telah membawa listrik ke lebih dari setengah juta orang Indonesia di daerah terpencil.

Melalui IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Tri Mumpuni telah membangun setidaknya 65 PLTMH di desa-desa terpencil di berbagai wilayah Indonesia. Ia masuk dalam daftar "The 500 Most Influential Muslims" yang diterbitkan Royal Islamic Strategic Studies Center — salah satu dari 22 ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia.

Tri Mumpuni bisa saja bekerja di perusahaan energi multinasional atau universitas ternama di luar negeri. Tapi ia memilih untuk hidup di antara masyarakat pedesaan Indonesia, membangun kemandirian energi dari bawah. Ia membuktikan bahwa dampak terbesar tidak selalu datang dari laboratorium mewah, tapi dari kerja nyata di lapangan.

Nelson Tansu: Profesor Asal Indonesia yang Menerangi Dunia (Secara Harfiah)

Nelson Tansu tumbuh di Indonesia dengan mimpi menjadi profesor sains di Amerika Serikat. Pada usia 17 tahun, ia berangkat ke University of Wisconsin-Madison dan meraih gelar sarjana serta doktoral di bidang fisika terapan dan teknik.

Pada usia 25 tahun, ia sudah menjadi profesor di Lehigh University. Kini ia menjabat sebagai Daniel E. '39 and Patricia M. Smith Endowed Chair Professor dan Direktur Center for Photonics and Nanoelectronics (CPN). Ia memiliki lebih dari 16 paten AS, dan inovasinya terintegrasi dalam teknologi pencahayaan solid-state mutakhir yang digunakan di seluruh dunia.

Ia terpilih sebagai Fellow of National Academy of Inventors (NAI) — penghargaan profesional tertinggi bagi inventor akademik. Kisah hidupnya bahkan diterbitkan sebagai buku anak best-seller di Indonesia: "Nelson the Boy who Loved to Read."

Nelson membuktikan bahwa anak Indonesia bisa menjadi pemimpin inovasi global — dan menginspirasi generasi berikutnya melalui ceritanya.

Laksana Tri Handoko: Fisikawan Partikel yang Memimpin BRIN

Laksana Tri Handoko lahir di Malang pada 1968. Ia menempuh pendidikan sarjana di Kumamoto University dan pascasarjana di bidang fisika partikel di Hiroshima University, Jepang. Spesialisasinya adalah fisika teoretis dan partikel — bidang yang biasanya membawa ilmuwan ke CERN atau laboratorium riset paling elit di dunia.

Tapi Handoko memilih pulang. Ia menjadi Ketua LIPI ke-10 pada 2018, lalu ditunjuk sebagai Ketua BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pada 2021. Di posisi ini, ia membangun jembatan antara diaspora peneliti Indonesia di luar negeri dengan komunitas riset dalam negeri.

Salah satu programnya yang paling ambisius: merekrut diaspora peneliti Indonesia — termasuk mereka yang terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 di Oxford-AstraZeneca — untuk berkolaborasi dan berkontribusi pada riset Indonesia.

Carina Joe: Dari Oxford Kembali Mengabdi

Setelah kontribusi monumental dalam produksi vaksin AstraZeneca di Jenner Institute, University of Oxford, Carina Citra Dewi Joe — ilmuwan kelahiran Jakarta — terus memperkuat koneksinya dengan Indonesia. Ia menjadi inspirasi bagi generasi muda ilmuwan Indonesia bahwa berkiprah di level tertinggi sains dunia adalah hal yang mungkin.

BRIN secara aktif mengundang ilmuwan seperti Carina untuk terlibat dalam proyek-proyek riset nasional — membuktikan bahwa pemerintah Indonesia mulai serius dalam mengubah brain drain menjadi brain gain.

Mengapa Mereka Pulang?

Jawabannya berbeda-beda, tapi ada benang merah:

"Indonesia membutuhkan saya." Adi Utarini tahu bahwa riset Wolbachia-nya paling berdampak di Indonesia, bukan di laboratorium Eropa. Tri Mumpuni tahu bahwa desa-desa terpencil Indonesia butuh listrik — bukan jurnal internasional.

"Saya ingin membangun sesuatu yang lebih besar dari diri saya." Laksana Tri Handoko bisa saja menikmati karir akademik yang nyaman di Jepang. Tapi ia memilih memimpin reformasi riset nasional — tugas yang jauh lebih berat, tapi juga jauh lebih bermakna.

"Indonesia adalah rumah saya." Sesederhana itu. Setelah bertahun-tahun di luar negeri, mereka pulang karena Indonesia adalah tempat di mana hati mereka berada.

Pesan untuk Pencari Beasiswa

Belajar di luar negeri bukan berarti meninggalkan Indonesia. Justru sebaliknya — belajar di luar negeri adalah cara terbaik untuk kembali dengan kemampuan yang lebih besar untuk membangun Indonesia.

Ilmuwan-ilmuwan ini membuktikan bahwa otak Indonesia dihargai dunia. Tapi yang lebih penting: mereka membuktikan bahwa otak Indonesia paling berdampak ketika digunakan untuk Indonesia.

Kamu bisa menjadi Adi Utarini berikutnya. Kamu bisa menjadi Nelson Tansu berikutnya. Tapi pertama-tama, kamu harus berani mengambil langkah pertama.

Mulai perjalanan beasiswa kamu di beasiswa.net/daftar.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...