Pengalaman 7 menit baca

Kebiasaan Orang Indonesia yang Bikin Teman Asing Bingung (dan Kadang Kagum)

Makan pakai tangan, senyum ke semua orang, dan 8 kebiasaan lain yang bikin bule bengong


· 967 views

Mereka Bingung, Kita Biasa Aja

Pernah gak sih lo lagi makan di kantin kampus, pakai tangan, terus teman asing lo ngeliatin dengan tatapan campuran antara takjub dan horor? Atau lo senyum ke orang di jalan dan mereka malah curiga? Welcome to the life of Indonesian students abroad — tempat di mana kebiasaan yang menurut kita normal ternyata bikin orang lain bingung setengah mati.

Tapi di balik kebingungan itu, sering kali ada kekaguman. Karena ternyata, banyak kebiasaan kita yang diam-diam dikagumi oleh teman internasional. Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Makan Pakai Tangan

Situasi: Lo lagi makan nasi di kantin kampus. Karena memang paling enak pakai tangan, lo cuci tangan dan langsung makan. Teman dari Jerman yang duduk di sebelah berhenti mengunyah sandwich-nya dan menatap lo.

Reaksi: "Wait... you eat rice with your hands? Isn't that... unhygienic?" Nadanya antara genuinely penasaran dan sedikit judgmental.

Realitanya: Lo jelasin bahwa cuci tangan sebelum makan itu wajib, dan makan pakai tangan itu tradisi yang sudah ratusan tahun. Bahkan ada filosofinya — makan pakai tangan katanya bikin rasa makanan lebih terasa. Seminggu kemudian, teman Jerman yang sama coba makan nasi pakai tangan di acara potluck Indonesia. Komentarnya? "Okay, I get it now. It IS different." Converted.

2. Senyum ke Semua Orang

Situasi: Lo jalan di kampus di Helsinki, Finlandia. Ketemu orang, lo senyum. Orang itu menghindari eye contact dan jalan lebih cepat.

Reaksi: Di Skandinavia, senyum ke orang asing itu dianggap aneh. Orang-orang di sana punya konsep "personal bubble" yang sangat kuat. Senyum tanpa alasan? Pasti ada maunya.

Realitanya: Setelah beberapa bulan, teman-teman Finlandia lo mulai bilang, "You know what, your smile actually makes the dark winter more bearable." Satu semester kemudian, ada yang mulai ikut-ikutan senyum ke orang di koridor. Misi penyebaran senyum Indonesia berhasil, walau pelan-pelan.

3. Terlalu Sopan — "Sorry" dan "Excuse Me" Berlebihan

Situasi: Lo mau lewat di lorong sempit. "Excuse me, sorry, permisi, sorry." Lo mau bertanya ke petugas perpustakaan. "Sorry, excuse me, maaf mengganggu, boleh tanya...?" Lo salah pencet tombol lift. "Oh sorry, sorry!"

Reaksi: Teman dari Australia: "Mate, you don't have to apologize for existing." Teman dari Belanda (yang terkenal blak-blakan): "Why do you say sorry so much? You didn't do anything wrong."

Realitanya: Ini bukan sekadar kebiasaan, ini sudah di DNA. Di Indonesia, "maaf" itu bukan cuma untuk minta maaf — itu pembuka kalimat, pelembut nada, dan tanda penghormatan. Tapi di luar negeri, khususnya di budaya Barat yang menghargai assertiveness, ini bisa dianggap kurang percaya diri. Belajar mengurangi "sorry" yang tidak perlu itu salah satu adaptasi tersulit.

4. Gotong Royong — Selalu Bantu Masak dan Bersih-Bersih

Situasi: Ada acara potluck di student housing. Mahasiswa Indonesia datang 2 jam sebelum acara untuk bantu masak. Setelah acara selesai, mereka langsung cuci piring, bersihkan meja, pel lantai — tanpa diminta.

Reaksi: Teman dari UK: "You guys are like... automatically programmed to help? That's actually incredible." Teman dari Perancis: "In France, everyone just leaves after eating. You guys stay and clean?"

Realitanya: Gotong royong itu bukan kebiasaan, itu naluri. Kita dibesarkan di lingkungan di mana kalau ada acara, semua orang bantu. Dari hajatan di kampung sampai bersih-bersih masjid. Dan ternyata, kebiasaan ini jadi salah satu yang paling dikagumi oleh teman internasional. Banyak yang bilang bahwa mahasiswa Indonesia adalah "the best flatmates" karena hal ini.

5. Foto Makanan Sebelum Makan

Situasi: Pesanan datang di restoran. Semua orang langsung makan. Kecuali lo — yang sibuk cari angle terbaik, atur pencahayaan, dan foto dari 3 angle berbeda sebelum suapan pertama.

Reaksi: Awalnya bingung. "Why do you photograph everything you eat?" Tapi setelah beberapa bulan tinggal bareng mahasiswa Indonesia, mereka ikutan. "Wait, let me take a photo first!" Virus Instagram food photography sudah menyebar.

Ending: Dua tahun kemudian, teman lo dari Polandia punya akun Instagram khusus food review. Misi berhasil.

6. Mandi 2 Kali Sehari

Situasi: Pagi hari, lo mandi sebelum ke kampus. Sore hari, lo mandi lagi sebelum keluar malam. Teman sekamar dari Inggris: "You're showering AGAIN? Didn't you just shower this morning?"

Reaksi: Di banyak negara Eropa, mandi sekali sehari itu sudah dianggap cukup. Bahkan ada yang mandi sehari sekali atau dua hari sekali di musim dingin (karena kulit kering). Jadi mandi 2x sehari itu dianggap berlebihan.

Realitanya: Kita yang dari negara tropis, di mana keringat itu teman sehari-hari, mandi 2x sehari itu kebutuhan dasar. Tapi di musim dingin Eropa, kita juga akhirnya adaptasi — kadang cuma mandi sekali. Dan itu terasa seperti pengkhianatan terhadap identitas, wkwk. "Aku sudah jadi bule, mandi cuma sekali," curhat di grup WA.

7. Panggil Semua Orang "Mas/Mbak/Kak"

Situasi: Lo di supermarket, mau tanya letak suatu barang. Otomatis: "Excuse me, Mas..." Baru sadar kasirnya bukan orang Indonesia. Atau di kampus: "Kak, eh sorry, I mean... Professor..."

Reaksi: Teman internasional yang sudah belajar sedikit bahasa Indonesia: "Why do you call everyone Mas or Kak? Even me?" Dan lo jelasin bahwa di Indonesia, kita punya sistem sapaan berdasarkan usia dan hubungan yang sangat kompleks — Mas, Mbak, Kak, Bang, Uni, Teh, Bro — dan itu tanda penghormatan.

Ending: Beberapa teman asing jadi suka dipanggil "Mas" atau "Kak" dan merasa itu "endearing". Satu lagi misi budaya berhasil.

8. Tidak Bisa Bilang "Tidak" Langsung

Situasi: "Do you want to go hiking this weekend?" Lo sebenarnya tidak mau. Tapi jawaban lo: "Hmm, sounds good, let me check my schedule ya... I'll let you know." Terjemahan: tidak.

Reaksi: Setelah beberapa kali pengalaman ini, teman asing mulai paham pola-nya. Seorang teman dari Belanda bahkan bikin "Indonesian Communication Decoder": "I'll try" = probably no. "We'll see" = definitely no. "Maybe" = no unless something changes. "Yes" = maybe. "Yes, InsyaAllah" = actually yes.

Realitanya: Budaya kita memang menghindari konfrontasi langsung. Bilang "tidak" itu dianggap kasar. Jadi kita punya seribu cara halus untuk menolak tanpa menyakiti perasaan. Di satu sisi ini membingungkan, tapi di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa kita selalu memikirkan perasaan orang lain. Tinggal belajar keseimbangan antara sopan dan jujur.

9. Ketawa Saat Nervous

Situasi: Presentasi di depan kelas. Lo lupa materi, bingung, nervous. Reaksi lo? Ketawa. Hehe. Haha. Tertawa kecil yang aneh di tengah momen serius. Professor bingung. Teman-teman bingung. Lo juga bingung kenapa ketawa.

Reaksi: "Why are you laughing? This is a serious presentation." Menjelaskan bahwa di Indonesia, tertawa saat nervous itu mekanisme coping yang umum itu... sulit. Karena di budaya Barat, tertawa di saat tidak tepat bisa dianggap tidak serius atau tidak menghargai situasi.

Realitanya: Ini bukan berarti kita tidak serius. Ini cara kita meredakan ketegangan. Dan setelah teman-teman memahami ini, mereka malah jadi lebih empati. "I actually think it's sweet that you laugh when you're nervous. It makes you more human." Aww.

10. Selalu Bilang "Maaf" Duluan Bahkan Kalau Bukan Salahnya

Situasi: Seseorang menabrak lo di lorong. Lo yang minta maaf. Seseorang menginjak kaki lo di bus. Lo yang bilang sorry. Professor membatalkan janji meeting. Lo yang bilang, "I'm sorry for the inconvenience."

Reaksi: Teman dari Amerika: "Dude, HE stepped on YOUR foot. Why are YOU apologizing?" Pertanyaan yang valid, tapi buat orang Indonesia, minta maaf itu sudah refleks. Seperti bernapas. Otomatis.

Ending heartwarming: Seorang professor di Belanda pernah bilang kepada mahasiswa Indonesia-nya: "I've noticed that Indonesian students always apologize first, even when it's not their fault. At first I found it confusing. But now I realize it's because your culture prioritizes harmony over being right. And honestly? The world needs more of that."

Penutup: Bingung Dulu, Kagum Kemudian

Semua kebiasaan di atas mungkin bikin teman asing bingung di awal. Tapi hampir selalu, setelah mereka memahami konteksnya, yang muncul bukan judgment — tapi kekaguman. Karena di balik setiap kebiasaan "aneh" kita, ada nilai-nilai yang indah: penghormatan, kebersamaan, kepedulian terhadap orang lain, dan kerendahan hati.

Jadi jangan malu dengan kebiasaan Indonesia-mu. Itu bukan kelemahan — itu superpower. Dan siapa tahu, mungkin suatu hari teman bule-mu akan makan pakai tangan, senyum ke orang asing, dan bilang "maaf" duluan — karena belajar dari kamu.

Share artikel ini ke teman-teman lo yang kuliah di luar negeri. Pasti ada yang relate sampai tertawa sendiri depan HP. Wkwk.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...