Pengalaman 7 menit baca

Dari Sudut Pandang Orang Tua: Ketika Anak Dapat Beasiswa LPDP (Kisah Nyata)

Kompilasi kisah nyata orang tua yang anaknya meraih beasiswa LPDP -- bangga, haru, dan penuh air mata


· 2058 views

Kisah nyata dikompilasi dari berbagai sumber media Indonesia. Setiap kutipan disertai sumber asli.

Pendahuluan: Beasiswa LPDP di Mata Orang Tua

Bagi kebanyakan orang tua Indonesia, singkatan "LPDP" mungkin terdengar asing. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan -- sebuah nama yang terlalu formal untuk dipahami oleh seorang ibu penjual sayur di pasar tradisional atau seorang ayah yang setiap hari mengayuh becak di bawah terik matahari Semarang.

Tapi ketika anak mereka pulang dengan mata berbinar, berkata, "Pak, Bu, saya lolos beasiswa ke luar negeri!" -- saat itulah dunia mereka berubah. Dalam satu kalimat itu, ada kebanggaan yang tak terkira, kekhawatiran yang tak terucap, dan air mata yang ditahan agar tidak jatuh di depan sang anak.

Artikel ini mengumpulkan kisah-kisah nyata orang tua yang anaknya berhasil meraih beasiswa LPDP. Bukan dari sudut pandang sang penerima beasiswa, tapi dari mata seorang ayah dan ibu yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di kampus, tapi mendukung mimpi anaknya sampai ke ujung dunia.

Mugiyono: Ayah Tukang Becak yang Mengayuh 25 Kilometer ke Wisuda Anak

Mugiyono adalah tukang becak dari Kelurahan Langenharjo, Kendal, Jawa Tengah. Penghasilannya pas-pasan -- ditambah gaji Rp450 ribu per bulan dari pekerjaan sampingannya sebagai penjaga malam sebuah sekolah. Istrinya membantu ekonomi keluarga dengan menjual nasi.

Ketika putrinya, Raeni, diterima di Universitas Negeri Semarang (UNNES) lewat beasiswa Bidikmisi, Mugiyono mungkin belum sepenuhnya memahami apa arti semua itu. Yang dia tahu: anaknya bisa kuliah tanpa membebani keluarga.

Pada hari wisuda Raeni di tahun 2014, Mugiyono tidak menyewa mobil. Tidak naik bus. Dia mengayuh becaknya sendiri -- sejauh 25 kilometer -- untuk mengantar putrinya ke Auditorium UNNES. Pemandangan itu viral. Seluruh Indonesia menangis.

Raeni lulus sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,96.

"Momen wisuda yang diantar ayahnya naik becak itu sempat membuat Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani terharu."

Sumber: Kompas.com, 23 Agustus 2023 (kompas.com/edu)

Tapi cerita Mugiyono tidak berhenti di situ. Raeni kemudian mendapat beasiswa LPDP untuk S2 di University of Birmingham, Inggris. Lalu S3, lagi-lagi dengan beasiswa LPDP, di universitas yang sama.

Sri Mulyani sendiri menceritakan kisah ini dengan suara bergetar di acara Festival LPDP pada Agustus 2023, di hadapan Presiden Jokowi. "Anak tukang becak dari Kendal, sekarang meraih gelar doktor di Inggris," ujarnya.

Sumber: Merdeka.com, 2023 (merdeka.com/uang)

Bagaimana perasaan Mugiyono? Dia tidak banyak bicara. Tapi ketika becaknya yang tua itu dihias untuk mengantar Raeni ke wisuda, seluruh Indonesia tahu jawabannya.

Ayah Robinson Sinurat: Petani Kopi yang Anaknya Kuliah di Columbia University

Di Tanjung Beringin, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, hiduplah sepasang petani yang menggarap ladang kopi dan sayur milik orang lain. Mereka punya tujuh anak yang harus disekolahkan. Robinson Sinurat adalah anak kelima.

Sejak kecil, Robinson sudah hidup jauh dari orang tuanya demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Keluarganya sering terkendala masalah keuangan. Tapi tekad mereka untuk menyekolahkan anak-anak tidak pernah padam.

Robinson berhasil meraih beasiswa LPDP dan diterima di beberapa universitas ternama -- di Amerika Serikat, Australia, Belanda, dan Inggris. Pilihannya jatuh pada Columbia University, salah satu universitas Ivy League paling prestisius di New York.

Sumber: VOA Indonesia, 2019 (voaindonesia.com)

Bisa dibayangkan apa yang dirasakan kedua orang tuanya di ladang kopi Sumatera Utara ketika mendengar kabar itu. Anak mereka, yang mereka besarkan dengan keringat di bawah matahari, sekarang berjalan di koridor universitas yang sama dengan tempat Barack Obama pernah belajar.

Robinson kemudian meraih gelar S2 kedua di Melbourne, Australia. Pedoman hidupnya: "Be Honest. Be Brave. Be Willing."

Sumber: Lintas Publik, Februari 2026 (lintaspublik.id)

Iwan Setiawan: Sopir Taksi Online yang Anaknya Tembus Cornell University

Iwan Setiawan adalah sopir taksi online di Bandung dengan penghasilan rata-rata Rp3 juta per bulan. Ketika putranya, Ilham Nugraha, berhasil masuk SBM ITB lewat beasiswa Bidikmisi, itu sudah merupakan keajaiban bagi keluarga ini.

Tapi Ilham bermimpi lebih jauh. Dia ingin kuliah S2 di Amerika.

Selama tiga tahun, Ilham menabung dari uang saku dan penghasilan riset bersama dosen. Dia bahkan mencari informasi beasiswa di warnet karena tidak punya komputer di rumah. Ketika akhirnya dia lolos beasiswa LPDP dan diterima di Cornell University -- sebuah universitas Ivy League di New York -- kisahnya viral di Twitter.

Sumber: Kompas.com Bandung, 21 Januari 2022 (bandung.kompas.com)

Yang mengharukan: Ilham bahkan harus meminjam uang dari temannya untuk membayar biaya aplikasi visa, karena beasiswa LPDP baru akan mengganti biaya tersebut di kemudian hari. Seorang anak sopir taksi online, meminjam uang untuk visa ke Amerika.

Iwan mungkin tidak pernah membayangkan anaknya akan belajar di salah satu universitas terbaik dunia. Tapi tekad seorang ayah untuk terus mengayuh -- entah itu becak atau taksi online -- itulah yang membawa anak-anak mereka sampai ke panggung dunia.

Sumber: Detik.com Edu, 2022 (detik.com/edu)

Orang Tua Dika dari Desa Cipaku: Membangun Ruang Belajar dari Bambu

Di Desa Cipaku, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, seorang ayah membuatkan tempat belajar sederhana dari bambu untuk anaknya, Dika. Tempat itu kemudian menjadi ruang belajar bagi Dika dan teman-temannya.

Dika menyelesaikan studi sarjananya pada 2015, lalu mendaftar beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dia berhasil.

Yang menarik dari kisah Dika: dia tidak pergi untuk meninggalkan desanya. Dia pergi untuk kembali. Setelah menyelesaikan studi, Dika mendirikan inisiatif pemberdayaan pemuda desa dan memberikan beasiswa kepada anak-anak muda di pedesaan.

Sumber: Kompas.com Edu, 19 Februari 2025 (kompas.com/edu)

Bagi ayah Dika, ruang bambu itu mungkin hanya sebuah gubuk sederhana. Tapi bagi Dika, itu adalah fondasi impiannya.

Perasaan yang Tidak Terucap: Apa yang Sebenarnya Dirasakan Orang Tua?

Dari semua kisah di atas, ada pola yang sama. Orang tua penerima beasiswa LPDP merasakan campuran emosi yang luar biasa kompleks:

Bangga yang Tak Terkira
"Anak saya kuliah di luar negeri" -- kalimat ini diucapkan dengan dada membusung dan mata berkaca-kaca. Untuk seorang tukang becak, petani, atau sopir taksi, pencapaian ini melampaui segala mimpi.

Sedih yang Disembunyikan
Mereka kehilangan anak di meja makan. Kursi yang biasanya ditempati anak kini kosong. Ibu memasak terlalu banyak karena lupa anaknya sudah di benua lain.

Khawatir yang Tak Henti
"Apakah dia makan teratur? Apakah cuacanya terlalu dingin? Apakah dia kesepian?" Pertanyaan-pertanyaan ini berputar di kepala orang tua setiap malam.

Bingung tapi Tetap Mendukung
Banyak orang tua yang tidak memahami apa itu LPDP, apa itu Ivy League, apa itu riset. Tapi mereka mendukung tanpa syarat. "Ibu tidak mengerti apa itu beasiswa LPDP, tapi kalau itu bisa bikin kamu sukses, Ibu dukung."

Ketika Tetangga Bertanya

Salah satu momen yang sering tidak terceritakan: ketika tetangga bertanya, "Anaknya sekolah di mana sekarang?"

Bayangkan seorang ibu penjual gorengan di kampung, menjawab dengan senyum malu-malu: "Di Inggris, Bu. Dapat beasiswa dari pemerintah." Tetangga mungkin tidak percaya. Atau mungkin iri. Atau mungkin ikut bangga.

Tapi bagi ibu itu, momen itu adalah bayaran dari semua pengorbanan -- bangun subuh menggoreng, mengantar anak sekolah di tengah hujan, menyisihkan uang untuk buku meski perut sendiri belum kenyang.

Untuk Semua Orang Tua Penerima Beasiswa LPDP

Jika Anda membaca artikel ini dan anak Anda baru saja lolos beasiswa LPDP:

  • Anda berhak bangga. Pencapaian anak Anda adalah buah dari didikan Anda.
  • Anda berhak menangis. Air mata kebanggaan tidak pernah memalukan.
  • Anda berhak khawatir. Itu tanda Anda mencintai anak Anda.
  • Anda berhak tidak mengerti. Dunia akademik memang rumit, tapi cinta orang tua lebih kuat dari jurnal internasional mana pun.

Dan untuk para penerima beasiswa LPDP: teleponlah orang tua kalian. Bukan hanya saat butuh sesuatu. Teleponlah untuk bilang, "Terima kasih sudah percaya sama aku."

Artikel ini didedikasikan untuk semua orang tua yang mendukung mimpi anak-anaknya -- dari Kendal sampai Kendal, dari becak sampai Birmingham.

Sumber Referensi

  • Kompas.com Edu -- "Cerita Raeni, dari Wisuda Diantar Ayah Naik Becak, Kini Raih Gelar Doktor" (2023)
  • Merdeka.com -- "Dengan Suara Bergetar, Sri Mulyani Cerita Anak Tukang Becak Dapat Beasiswa LPDP S3 di Inggris" (2023)
  • VOA Indonesia -- "Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS" (2019)
  • Kompas.com Bandung -- "Kisah Perjuangan Ilham Nugraha, Anak Sopir Taksi Online Berhasil Kuliah di Universitas Cornell AS" (2022)
  • Kompas.com Edu -- "Kisah Dika, Kuliah Gratis lewat LPDP, Kini Beri Beasiswa untuk Anak Muda di Desa" (2025)
  • Detik.com Edu -- "Kisah Ilham, Penerima LPDP yang Belajar Otodidak-Hemat Uang Saku untuk S2" (2022)
  • Lintas Publik -- "Robinson Sinurat Raih Gelar S2 Kedua di Melbourne" (2026)

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...