Lebaran Pertama Jauh dari Rumah
Ada momen dalam hidup mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tidak bisa disiapkan oleh orientasi kampus mana pun. Bukan soal cuaca dingin, bukan soal bahasa asing, bukan soal makanan yang berbeda. Momen itu adalah Lebaran pertama jauh dari rumah.
Karena Lebaran itu bukan cuma hari raya. Lebaran itu suara takbir dari masjid kampung, bau opor ayam dari dapur ibu sejak subuh, baju koko baru yang masih kaku, sungkeman dengan tangis haru, dan makan bersama satu keluarga besar di ruang tamu yang penuh tawa. Dan ketika semua itu tidak ada — ketika lo bangun di kamar asrama yang sepi di negara yang bahkan tidak tahu hari ini Lebaran — baru lo paham apa artinya rumah.
Malam Takbiran yang Sunyi
Di Indonesia, malam takbiran itu meriah. Suara takbir dari setiap masjid bersahut-sahutan, anak-anak keliling kampung dengan obor, dan jalanan ramai dengan orang-orang yang merayakan.
Baca Juga:
Di luar negeri? Malam takbiran itu... Minggu malam biasa. Tetangga sebelah nonton Netflix. Jalanan sepi. Tidak ada suara takbir kecuali dari HP — video YouTube atau rekaman takbiran yang diputar di speaker kecil di kamar.
Tapi mahasiswa Indonesia itu kreatif. Di banyak kota, komunitas Muslim Indonesia mengadakan takbiran sendiri. Kadang di aula kampus yang disewa, kadang di masjid kecil, kadang di apartemen seseorang. 20-30 orang berkumpul, takbir bersama, dan untuk sesaat — kalau menutup mata — rasanya seperti di rumah.
Seorang mahasiswa di Gothenburg, Swedia, cerita: "Kita takbiran di apartemen Kak Rina. Cuma 12 orang. Tapi waktu takbir mulai, semua orang nangis. Bukan sedih. Tapi kangen. Kangen banget." Momen seperti itu yang tidak bisa difoto atau diposting di Instagram. Itu cuma bisa dirasakan.
Subuh Sholat Ied: Baju Koko di Tengah Orang Biasa
Pagi Lebaran. Lo bangun subuh, mandi, pakai baju koko atau gamis terbaik. Keluar kamar. Tetangga bule lewat dengan piyama, bawa kopi, heading ke dapur. "Good morning!" katanya casual. Dia tidak tahu bahwa hari ini adalah hari terbesar dalam kalender lo.
Lo jalan ke masjid — atau aula kampus, atau community center yang disulap jadi musholla. Di jalan, orang-orang berpakaian biasa, heading ke kantor atau sekolah. Karena di kebanyakan negara non-Muslim, Idul Fitri bukan hari libur. Dunia tetap berjalan normal. Cuma lo yang beda.
Tapi ketika sampai di tempat sholat Ied dan melihat puluhan — kadang ratusan — wajah familiar, semuanya berpakaian rapi, senyum lebar, saling bersalaman... lega. Ada rasa "oh, ternyata aku tidak sendirian."
Sholat Ied di luar negeri itu spesial dengan caranya sendiri. Jamaahnya beragam — Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab, Turki, Africa, bahkan beberapa mualaf Eropa. Khutbahnya kadang bilingual atau trilingual. Dan setelah sholat, pelukan dan ucapan "Minal aidin wal faidzin" terasa lebih bermakna karena setiap orang di sana tahu rasanya Lebaran jauh dari keluarga.
Masak Opor Ayam Dadakan: Mission Impossible
Setelah sholat, dimulailah misi terbesar: masak makanan Lebaran dengan bahan seadanya di negeri orang.
Menu ideal: Ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, sayur lodeh, nastar, kue lapis
Menu realita: Nasi dari rice cooker dibentuk kotak-kotak ("ketupat" versi kreatif), opor ayam dengan santan kalengan, rendang yang sudah dimasak dari kemarin, sambal dari botol, dan kue kering yang dikirim mama lewat paket pos 2 minggu lalu
Proses masaknya itu perjuangan tersendiri. Santan? Cari di Asian store, kadang cuma ada merek Thailand. Bumbu-bumbu? Bawa dari Indonesia atau improvisasi. Daun salam? Gak ada. Skip. Daun jeruk? Gak ada. Skip. Lengkuas segar? Kalau beruntung ada di toko Asia. Kalau tidak, pakai bubuk.
Tapi hasilnya — walau tidak sempurna, walau rasanya "hampir" tapi tidak persis — tetap jadi makanan terenak di hari itu. Karena yang bikin enak bukan bumbunya. Yang bikin enak itu kebersamaan orang-orang yang sama-sama rindu rumah, masak bersama di dapur kecil, tertawa bersama saat opor-nya keasinan atau rendangnya kurang empuk.
"Ketupat" dari nasi yang dibungkus plastik wrap dan dicetak pakai gelas? Mama kalau lihat pasti geleng-geleng. Tapi di sini, itu masterpiece.
Video Call Keluarga: Momen Sungkeman yang Bikin Nangis
Ini bagian yang paling berat.
Setelah makan bersama teman-teman, lo menyendiri sebentar. Buka HP. Video call mama.
Muka mama muncul di layar. Di belakangnya, rumah penuh saudara. Suara anak-anak berebut layar: "Kak, kak! Eid Mubarak!" Adik-adik, tante, om, nenek — semua bergantian menyapa. Dan lo senyum, tertawa, bilang "Eid Mubarak" ke semua orang.
Tapi kemudian mama bilang: "Nak, mama maafin lahir batin ya." Dan suaranya bergetar sedikit. Dan lo tahu — lo TAHU — mama juga kangen. Dan saat itulah mata lo berkaca-kaca.
Sungkeman via HP. Lo minta maaf lahir batin ke mama, papa, nenek, kakek. Lewat layar 6 inci. Tidak bisa cium tangan. Tidak bisa peluk. Cuma bisa lihat wajah mereka di pixel-pixel kecil dan berharap suara lo sampai menyampaikan semua rasa sayang yang tidak bisa diucapkan.
"Sehat-sehat ya di sana, Nak. Jangan lupa makan. Jangan lupa sholat. Mama doain selalu."
Setelah video call selesai, lo duduk sendirian sebentar. Mungkin nangis. Mungkin cuma diam, menatap langit-langit kamar. Dan kemudian lo berdiri, cuci muka, dan kembali ke teman-teman. Karena mereka juga baru selesai nangis sehabis video call. Dan kalian saling paham tanpa perlu bicara.
Lebaran di Luar Negeri vs di Rumah: Kontras yang Menyakitkan
Di rumah: bangun disambut bau opor dari dapur
Di luar negeri: bangun disambut keheningan kamar asrama
Di rumah: baju koko baru, sholat di masjid besar, salaman dengan ratusan orang
Di luar negeri: baju koko yang sama kayak tahun lalu, sholat di aula kecil, salaman dengan 30 orang
Di rumah: meja makan penuh makanan buatan ibu, nenek, tante
Di luar negeri: makanan potluck buatan bersama di dapur sempit
Di rumah: sungkeman langsung, cium tangan, pelukan hangat
Di luar negeri: sungkeman via HP, tangis tertahan
Di rumah: silaturahmi keliling kampung, dapat amplop THR
Di luar negeri: Lebaran selesai jam 2 siang, besok harus masuk kuliah
Kontras ini yang paling berat. Tapi juga yang paling mengajarkan. Karena Lebaran di luar negeri mengajarkan satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh Lebaran di rumah: rasa syukur. Lo jadi bersyukur atas setiap Lebaran yang dihabiskan bersama keluarga. Lo jadi tahu bahwa semua yang dulu lo anggap biasa — suara takbir, bau ketupat, pelukan mama — itu semua adalah kemewahan.
Tips Lebaran di Luar Negeri Biar Tetap Meriah
Buat yang akan merayakan Lebaran pertama di luar negeri, ini tips dari para senior:
Sebelum Lebaran:
- Stok bahan makanan dari jauh-jauh hari (santan, bumbu, rempah)
- Koordinasi dengan komunitas Indonesia — siapa masak apa, di mana kumpulnya
- Kalau di negara non-Muslim, coba ambil cuti atau izin tidak masuk kuliah di hari H (biasanya professor pengertian kalau dijelaskan)
- Siapkan baju rapi — tidak harus baju koko baru, tapi berpakaian rapi bikin feel lebih Lebaran
- Kalau punya juniors yang baru pertama kali, ajak dan rangkul mereka
Hari H:
- Sholat Ied bersama — cari info dari masjid terdekat atau komunitas Muslim
- Masak bersama — walau sederhana, yang penting bersama
- Video call keluarga — pilih waktu yang tepat (ingat time zone)
- Bagi THR kecil-kecilan ke anak-anak di komunitas (tradisi yang indah untuk diteruskan)
- Foto bersama dan kirim ke keluarga — mereka juga kangen
Setelah Lebaran:
- Jangan terlalu keras ke diri sendiri kalau merasa sedih — it's normal
- Tetap connected dengan komunitas
- Ingat: lo merayakan Lebaran di luar negeri bukan karena terpaksa, tapi karena lo sedang mengejar mimpi yang suatu hari akan membanggakan keluarga
Penutup: Lebaran yang Berbeda, Tapi Tetap Lebaran
Lebaran di luar negeri memang berbeda. Tidak selengkap, tidak semeriah, tidak sehangat Lebaran di rumah. Tapi Lebaran di mana pun tetap Lebaran — hari kemenangan, hari saling memaafkan, hari bersyukur.
Dan ada satu hal yang cuma lo dapat dari Lebaran di luar negeri: perspektif. Lo jadi tahu bahwa keluarga itu bukan cuma orang yang satu rumah. Keluarga itu juga teman-teman sesama perantau yang masak opor bersama di dapur kecil, yang takbiran bersama sambil nangis, yang saling menguatkan ketika rindu terlalu berat.
Suatu hari, lo akan pulang. Dan Lebaran pertama di rumah setelah bertahun-tahun di luar negeri akan jadi Lebaran paling indah dalam hidup lo. Pelukan mama akan terasa lebih erat, opor ayam akan terasa lebih lezat, dan takbir akan terdengar lebih merdu. Karena lo sudah tahu rasanya tidak punya semua itu.
Untuk semua mahasiswa Indonesia yang pernah atau akan merayakan Lebaran di luar negeri: kalian kuat, kalian tidak sendirian, dan Mama selalu mendoakan kalian dari rumah. Selamat Hari Raya.
Komentar & Diskusi