Obsesi yang Tidak Bisa Dijelaskan (Tapi Akan Kita Coba)
Kalau lo pernah tinggal bareng mahasiswa Indonesia di luar negeri, lo pasti sadar satu hal: percakapan kita SELALU berputar ke makanan. Bukan kadang-kadang. SELALU.
Pagi: "Sarapan apa tadi?" Siang: "Makan siang di mana?" Sore: "Nanti makan apa?" Malam: "Eh, gue masak [nama masakan], mau?" Sebelum tidur: "Besok mau masak apa ya..."
Buat orang asing, ini aneh. "Why do you guys always talk about food?" Buat kita? Ini normal. Bahkan ini survival mechanism. Dan kalau lo gali lebih dalam, ada alasan-alasan yang sebenarnya cukup profound di balik obsesi ini.
Baca Juga:
Pertanyaan Pertama Saat Tiba: "Di Mana Asian Grocery Store?"
Baru turun dari pesawat. Jet lag berat. Mata masih berat. Tapi pertanyaan pertama di grup WA PPI bukan "bagaimana cara ke asrama" atau "di mana kantor registrasi". Pertanyaan pertama:
"Kak, Asian grocery store terdekat di mana ya?"
Ini bukan hiperbola. Ini realita yang sudah terdokumentasi dari generasi ke generasi mahasiswa Indonesia. Dan jawaban dari senior biasanya detail banget: nama toko, alamat, jam buka, apa aja yang dijual, rute transportasi, dan kadang sampai "kalau hari Selasa biasanya stok Indomie baru datang".
Asian grocery store itu lifeline. Di sanalah kita menemukan bahan-bahan yang menyambung kita ke rumah: kecap manis, sambal, santan, bumbu instan, mie instan, dan — kalau beruntung — tempe dan tahu segar. Menemukan tempe di toko Asia di kota kecil Eropa? Pengalaman spiritual.
Group Chat: 80% Tentang Makanan
Gue pernah iseng hitung persentase topik di grup WA PPI kota. Hasilnya:
Makanan: 80%
- "Hari ini masak rendang, siapa mau?" (15%)
- "Di mana beli [bahan masakan]?" (15%)
- "Ada yang jual [makanan Indonesia] homemade?" (15%)
- Foto makanan buatan sendiri + review (15%)
- Debat resep (10%)
- Info restoran/toko baru (10%)
Non-makanan: 20%
- Info beasiswa/administrasi (8%)
- Jual-beli barang (5%)
- Event PPI (4%)
- Lain-lain (3%)
Angka ini mungkin tidak scientifically accurate, tapi vibe-nya pasti relate. Grup WA mahasiswa Indonesia itu pada dasarnya food forum yang kadang-kadang membahas akademik.
Foto Makanan Indonesia Buatan Sendiri > Foto Landmark
Lo tahu momen paling bangga seorang mahasiswa Indonesia di luar negeri? Bukan saat presentasi di konferensi internasional. Bukan saat lulus cum laude. Momen paling bangga itu adalah: ketika berhasil masak makanan Indonesia yang rasanya persis kayak buatan mama.
"Guys, rendang gue hari ini BERHASIL. Empuk, bumbu meresap, warnanya coklat tua sempurna. Mama would be proud." Foto dipost di Instagram story, dikirim ke grup WA, dan — yang paling penting — dikirim ke mama via WhatsApp. Mama reply: "Bagus, Nak. Tapi kurang santan kayaknya." (Mama selalu menemukan kekurangan, dan kita cinta mama karena itu.)
Bandingkan dengan foto landmark: foto di depan Eiffel Tower dapat 50 likes. Foto rendang buatan sendiri? 80 likes plus 20 DM minta diundang makan. Makanan > Eiffel. Selalu.
"Hari Ini Masak Apa?" — Sapaan Paling Umum
Kalau di Indonesia sapaan standarnya "Mau ke mana?", di komunitas Indonesia overseas sapaan standarnya "Hari ini masak apa?" atau variasinya: "Udah makan belum?", "Tadi makan apa?", "Nanti mau masak apa?"
Ini bukan basa-basi kosong. Ini genuine concern. Karena di luar negeri, makanan itu real issue. Masak sendiri itu butuh waktu dan energi. Makan di luar itu mahal. Dan makan makanan yang tidak sesuai selera terus-menerus itu bisa bikin mental health drop.
Jadi ketika seseorang bertanya "udah makan?", itu sebenarnya versi lain dari "are you okay?" Dan ketika seseorang menjawab "belum, lagi males masak", itu sering kali kode untuk "lagi gak baik-baik aja" — dan teman yang peka akan merespons dengan "yaudah, sini makan bareng gue."
Ranking Negara Berdasarkan Kemudahan Masak Indonesian Food
Mahasiswa Indonesia punya ranking informal tentang negara mana yang paling mudah untuk masak makanan Indonesia. Ini berdasarkan ketersediaan bahan, harga, dan komunitas:
Tier S (Surga Masak Indonesia):
- Malaysia — bahan hampir sama, harga mirip, tinggal masak
- Singapura — bahan lengkap di Mustafa Centre dan Giant, tapi mahal
- Belanda — Toko Asia lengkap (sejarah colonial), komunitas besar
Tier A (Bisa Banget, dengan Sedikit Usaha):
- Australia — Asian store di kota besar lengkap, ada tahu-tempe segar
- UK — Chinatown dan toko Asia di London sangat lengkap
- Jepang — Halal Meat Shop dan toko Asia ada, tapi harga tinggi
- Korea — Bahan Asia tersedia, tapi spesifik Indonesia terbatas
Tier B (Bisa, tapi Butuh Kreativitas):
- Jerman — Toko Asia ada di kota besar, tapi di kota kecil susah
- USA — Tergantung kota; di NYC/LA mudah, di Midwest susah
- Turki — Bumbu Asia terbatas, tapi daging halal dan sayur mudah
Tier C (Survival Mode):
- Negara-negara Eropa Timur — toko Asia sangat terbatas
- Kota kecil di mana pun — harus order online atau titip dari kota besar
- Afrika — tergantung negara, banyak yang harus improvisasi total
Ranking ini kontroversial dan selalu memicu debat di grup WA. "Kok Jerman cuma Tier B?! Di Berlin banyak toko Asia!" Ya, di Berlin. Di kota kecil di Sachsen? Good luck.
Substitusi Bahan Masakan: Seni Improvisasi
Salah satu skill yang paling berkembang di luar negeri: improvisasi bahan masakan. Karena tidak semua bahan Indonesia tersedia, kreativitas itu wajib:
Cabe rawit diganti bird's eye chili (Thai chili) — mirip tapi tidak sama
Kecap manis buat sendiri dari soy sauce + brown sugar + sedikit molasses
Daun salam diganti bay leaf — beda rasa tapi fungsi sama
Lengkuas segar diganti galangal powder — kurang aroma tapi lumayan
Serai segar kadang ada di toko Asia, kalau gak ada ya skip
Tempe — di beberapa negara bisa beli yang lokal (Jerman punya brand tempe sendiri!), atau... bikin sendiri (ya, ada mahasiswa yang bikin tempe dari nol)
Petai — tidak ada pengganti. Kalau kangen petai, satu-satunya cara: titip dari Indonesia. Atau terima nasib.
Seni substitusi ini diturunkan dari senior ke junior seperti ilmu rahasia. "Kak, rendang tanpa daun jeruk gimana?" — "Pakai lime zest sedikit aja, gak perfect tapi close enough." Pengetahuan praktis yang tidak diajarkan di universitas mana pun.
Ketika Berhasil Bikin Rendang yang Enak: National Achievement
Momen seorang mahasiswa Indonesia berhasil bikin rendang yang enak di luar negeri itu setara dengan momen Neil Armstrong mendarat di bulan. Ini achievement level national pride.
Prosesnya: 4-6 jam di dapur, bolak-balik aduk santan, cek bumbu, tes rasa setiap 30 menit. Tetangga mulai komplain soal bau (yang menurut kita wangi surga). Fire alarm sempat berbunyi sekali (atau dua kali). Tapi akhirnya... rendang jadi. Warnanya coklat gelap sempurna. Dagingnya empuk. Bumbunya meresap. SEMPURNA.
Langkah selanjutnya sudah otomatis:
1. Foto dari 5 angle berbeda (termasuk close-up yang bikin orang ngiler)
2. Post di Instagram story dengan caption "Rendang di perantauan"
3. Kirim foto ke mama — "Ma, gimana?" Mama: "Coba kurangi garamnya" (mama SELALU ada kritik)
4. Share ke grup WA — instant 30 replies: "UNDANG GUE", "SISA GAK?", "RESEPNYA DONG"
5. Bagi ke tetangga dan teman internasional — diplomasi rendang dimulai
Dan mulai hari itu, lo dikenal sebagai "the one who makes amazing rendang". Gelar akademik bisa berubah, tapi title ini permanen.
Insight Serius: Makanan = Koneksi ke Rumah
Di balik semua humor tentang obsesi makanan, ada kebenaran yang lebih dalam: bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri, makanan adalah jembatan terakhir ke rumah.
Ketika lo masak nasi goreng di dapur asrama, aroma bawang putih dan kecap manis itu membawa lo kembali ke dapur mama. Ketika lo makan Indomie jam 2 malam setelah begadang ngerjain tugas, itu bukan cuma makanan — itu comfort, familiarity, dan reminder bahwa lo punya akar.
Banyak mahasiswa yang mengalami fase di mana satu-satunya hal yang bisa meredakan homesickness adalah makan makanan Indonesia. Bukan karena lapar secara fisik — tapi karena lapar secara emosional. Dan makanan, dalam budaya Indonesia, memang selalu lebih dari sekadar nutrisi. Makanan itu cinta, kebersamaan, dan identitas.
Jadi kalau ada yang bertanya "kenapa mahasiswa Indonesia selalu bicara soal makanan?" — jawabannya sederhana: karena makanan itu rumah kita yang bisa kita bawa ke mana pun.
Penutup: Terus Masak, Terus Rindu, Terus Berjuang
Kepada semua mahasiswa Indonesia di luar negeri yang sedang berdiri di depan kompor kecil, mengaduk nasi goreng, mencium aroma yang membawa kalian pulang sesaat — kalian tidak aneh. Kalian tidak lebay. Kalian cuma manusia yang cinta rumah dan mengekspresikannya lewat makanan.
Dan suatu hari, ketika kalian pulang dan duduk di meja makan mama, dan mama menaruh rendang yang sempurna di depan kalian, dan kalian bilang "Mah, rendang mama tuh beda banget sama buatan aku di sana" — momen itu akan jadi salah satu yang paling indah dalam hidup kalian.
Karena ya, rendang buatan sendiri memang enak. Tapi rendang mama? Itu level yang tidak akan pernah bisa kita capai. Dan itu okay. Yang penting kita terus mencoba.
Share ke teman yang pernah posting foto rendang buatan sendiri di Instagram story jam 1 pagi. We see you. We respect you. Wkwk.
Komentar & Diskusi