Pengalaman 7 menit baca

LDR Saat Beasiswa: Cerita Pasangan yang Terpisah Benua

Cinta yang diuji oleh zona waktu, jarak ribuan kilometer, dan tekanan beasiswa -- apakah bisa bertahan?


· 1450 views

Sebelum Berangkat: Janji yang Terasa Mudah

"Kita pasti bisa. Kan cuma 2 tahun." Itu yang saya bilang ke Rani, pacar saya, di bandara Soekarno-Hatta saat saya berangkat ke University of Leeds dengan beasiswa LPDP pada September 2024. Rani menangis, saya sok tegar, dan kami yakin LDR itu cuma soal kedewasaan dan komitmen.

Sekarang, setelah 18 bulan menjalaninya, saya bisa bilang: LDR saat beasiswa adalah salah satu hal paling berat yang pernah saya jalani. Bukan karena kami tidak saling cinta. Justru karena cinta itu yang membuat jaraknya terasa semakin menyakitkan.

Realita LDR: Bukan Sekadar Rindu

Zona Waktu yang Mengacaukan Segalanya

Indonesia dan Inggris berbeda 7 jam (6 jam saat daylight saving). Kedengarannya tidak terlalu jauh? Coba jalani ini setiap hari:

  • Saya selesai kuliah jam 5 sore waktu UK = jam 12 malam di Indonesia. Rani sudah tidur
  • Rani bangun jam 6 pagi = jam 11 malam di UK. Saya sedang mengerjakan tugas atau sudah tidur
  • Weekend saya = hari kerja Rani (Sabtu-Minggu saya libur, tapi dia kerja sampai Sabtu siang)

"Golden hour" kami -- waktu di mana kami berdua available -- hanya sekitar 1-2 jam sehari, biasanya sekitar jam 8-10 malam waktu UK (jam 3-5 pagi waktu Indonesia, kalau Rani mau bangun pagi) atau jam 4-6 sore waktu UK (jam 11 malam - 1 pagi di Indonesia).

Di awal, kami video call setiap hari. Setelah 3 bulan, jadi 3-4 kali seminggu. Setelah 6 bulan, kadang cuma seminggu sekali kalau saya sedang deadline atau Rani sedang sibuk kerja. Bukan karena tidak mau, tapi karena kelelahan itu nyata.

Percakapan yang Makin Sulit

Di bulan-bulan pertama, kami selalu punya hal untuk diceritakan. Saya cerita tentang kampus, kota Leeds, teman-teman baru. Rani cerita tentang kerjaan, gosip kantor, keluarga.

Tapi setelah beberapa bulan, percakapan mulai terasa repetitif. "Hari ini gimana?" "Ya gitu-gitu aja." "Lagi ngapain?" "Lagi capek." Tidak ada lagi cerita baru yang exciting karena kehidupan sehari-hari itu memang monoton.

Yang lebih sulit: kamu tidak bisa share pengalaman secara real-time. Saat saya melihat pemandangan indah di Lake District dan ingin berbagi momen itu, yang bisa saya lakukan hanya kirim foto. Foto yang Rani lihat 7 jam kemudian, di layar HP, sambil ngantuk. Momen itu sudah lewat. Perasaannya sudah berbeda.

"Hal terberat dari LDR bukan saat kamu merindukan pasangan di momen sedih. Hal terberat adalah saat kamu mengalami momen bahagia dan orang yang paling ingin kamu ajak merayakan ada di belahan dunia lain."

Konflik yang Muncul Karena Jarak

Cemburu yang Tidak Rasional

Saya orangnya logis. Atau setidaknya saya pikir begitu. Tapi LDR membuat rasa cemburu menjadi monster yang sulit dikontrol.

Rani pernah posting Instagram story bersama teman-teman kantornya, termasuk seorang pria yang saya tidak kenal. Saya langsung chat: "Siapa tuh?" Padahal itu cuma rekan kerja biasa. Tapi otak saya yang sedang kesepian dan insecure langsung membuat skenario terburuk.

Sebaliknya, Rani juga pernah marah ketika saya posting foto group study bersama teman-teman, termasuk seorang perempuan dari kelas saya. "Kenapa harus foto berdua?" Padahal itu foto ramai-ramai yang di-crop oleh yang upload.

Kami berdua sadar: cemburu ini bukan tentang ketidakpercayaan. Ini tentang ketidakberdayaan. Kamu tidak bisa ada di sana untuk "menandai" wilayahmu, dan itu membuat otakmu membuat cerita yang tidak ada.

Pertengkaran yang Sulit Diselesaikan

Di hubungan jarak dekat, kalau bertengkar, kamu bisa ketemu, bicara tatap muka, pelukan, selesai. Di LDR? Pertengkaran lewat chat itu neraka.

Teks tidak punya nada suara. "Oke" bisa berarti "oke, aku setuju" atau "oke, terserah kamu." Emoji tidak bisa menggantikan ekspresi wajah. Dan kalau salah satu sedang marah dan memutuskan untuk tidak membalas chat, kamu hanya bisa menatap layar menunggu -- karena kamu tidak bisa datang ke rumahnya dan bicara langsung.

Pertengkaran terbesar kami terjadi di bulan ke-8. Rani merasa saya prioritaskan kuliah daripada hubungan. Saya merasa Rani tidak memahami tekanan beasiswa. Kami tidak bicara selama 5 hari. Lima hari tanpa kontak di LDR terasa seperti 5 bulan.

Cerita dari Pasangan Lain

Dimas dan Sari: LDR ke Jerman, Berakhir Putus

Dimas, teman saya di PPI UK, menjalani LDR dengan pacarnya Sari selama beasiswa S2 di Jerman. Setelah 14 bulan, mereka putus.

"Bukan karena ada orang ketiga," kata Dimas. "Kami simply tumbuh ke arah yang berbeda. Saya berubah -- lebih independen, lebih terbuka dengan perspektif baru. Sari juga berubah -- dia punya karier yang berkembang, teman-teman baru, kehidupan yang berjalan tanpa saya. Di suatu titik, kami sadar bahwa kami masih saling sayang, tapi kami sudah menjadi orang yang berbeda dari saat awal LDR."

Mega dan Arif: LDR ke Australia, Sekarang Menikah

Mega, alumna AAS, menjalani LDR 2 tahun dengan Arif yang di Jakarta. Sekarang mereka sudah menikah dan punya anak.

"Kuncinya: kami punya end date yang jelas," kata Mega. "Sejak awal, kami sepakat bahwa setelah saya lulus, saya pulang dan kami menikah. Itu membuat setiap hari LDR punya tujuan. Kami bukan sedang menjalani LDR tanpa akhir -- kami sedang menghitung mundur menuju pernikahan."

"Yang juga membantu: Arif berkunjung sekali selama saya di Melbourne. Biayanya tidak murah -- sekitar Rp15 juta untuk tiket dan akomodasi. Tapi 10 hari bersama di Melbourne itu mengisi ulang 'tangki cinta' kami untuk beberapa bulan ke depan."

Tips Menjalani LDR Saat Beasiswa

Dari pengalaman saya dan teman-teman, ini tips yang bisa saya berikan:

1. Tentukan Ekspektasi di Awal

Sebelum berangkat, duduk bersama pasangan dan bicarakan:

  • Seberapa sering kalian akan berkomunikasi? (Realistis, bukan idealis)
  • Platform apa yang akan digunakan? (Video call lebih baik dari chat untuk percakapan penting)
  • Bagaimana kalau ada konflik? (Jangan pernah cold-shoulder lewat chat)
  • Apa end date-nya? (Kapan LDR ini berakhir?)

2. Quality Over Quantity

Lebih baik video call 30 menit dengan penuh perhatian daripada chat sepanjang hari tapi setengah hati. Saat video call, taruh HP, tutup laptop, dan benar-benar hadir.

3. Punya Kegiatan Bersama

Nonton film bareng via teleparty, main game online bareng, masak resep yang sama di waktu yang sama, atau bahkan baca buku yang sama dan diskusikan setiap minggu. Ini menciptakan pengalaman bersama meskipun terpisah jarak.

4. Beri Ruang untuk Kehidupan Masing-Masing

Ini paradoks LDR: kamu harus dekat tapi juga harus memberi ruang. Pasanganmu punya kehidupan sendiri, dan kamu juga. Cemburu karena pasanganmu punya teman atau kegiatan di luar hubungan adalah resep kehancuran.

5. Rencanakan Pertemuan

Kalau memungkinkan secara finansial, rencanakan kunjungan. Satu kali kunjungan selama masa beasiswa bisa membuat perbedaan besar. Mulai tabung dari sekarang.

6. Jujur tentang Perasaan

Kalau rindu, bilang. Kalau marah, bilang. Kalau ragu tentang hubungan, bilang. LDR yang bertahan dibangun di atas kejujuran yang kadang tidak nyaman, bukan kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja.

7. Jangan Abaikan Mental Health

LDR bisa memicu anxiety, insecurity, dan bahkan depresi. Kalau kamu merasa overwhelmed, bicarakan dengan teman, mentor, atau konselor kampus. Tidak ada yang lemah dalam meminta bantuan.

Fakta yang perlu diketahui: Menurut berbagai survei, sekitar 40-50% hubungan LDR jarak jauh berakhir putus. Tapi itu juga berarti 50-60% bertahan. Kuncinya bukan jarak -- kuncinya adalah komitmen, komunikasi, dan kesepakatan bersama.

Epilog: Kami Masih Bersama

Saya dan Rani masih bersama sampai hari ini. Bukan karena hubungan kami sempurna -- jauh dari itu. Kami pernah hampir putus dua kali. Kami sering bertengkar tentang hal-hal sepele yang sebenarnya berakar dari rindu yang terpendam.

Tapi kami masih bersama karena kami memilih untuk bersama setiap hari. LDR bukan tentang bertahan -- itu tentang memilih. Memilih untuk mengangkat video call meskipun capek. Memilih untuk jujur meskipun menyakitkan. Memilih untuk percaya meskipun cemburu.

Empat bulan lagi saya lulus dan pulang ke Indonesia. Kami sudah merencanakan: saya akan melamarnya di minggu pertama saya tiba. Bukan karena LDR membuat cinta kami lebih kuat -- tapi karena LDR membuktikan bahwa cinta kami cukup kuat untuk bertahan dari ujian terberat.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...