Pengalaman 8 menit baca

Curhat Mahasiswa Indonesia di Eropa: Yang Tidak Pernah Diceritakan di Instagram

Di balik foto-foto estetik di depan menara Eiffel dan jalan-jalan cobblestone, ada cerita yang jarang ter-upload


· 1138 views

Instagram vs Realita

Coba buka Instagram dan ketik hashtag #MahasiswaIndonesiaDiEropa. Yang muncul: foto di depan Menara Eiffel, selfie di tepi kanal Amsterdam, jalan-jalan di kota tua Praha, atau makan gelato di Roma. Semuanya terlihat sempurna, estetik, dan membuat iri.

Tapi kamu tahu apa yang tidak pernah di-post? Malam-malam menangis di kamar kos karena homesick. Makan nasi pakai telur rebus selama seminggu karena uang tinggal sedikit. Duduk sendirian di kantin universitas karena tidak punya teman dekat. Panik saat hujan salju pertama dan tidak tahu harus pakai baju apa.

Saya Dina, mahasiswa S2 di Universitas Leiden, Belanda, penerima beasiswa Erasmus Mundus. Dan ini adalah cerita jujur saya -- yang tidak akan pernah kamu temukan di feed Instagram saya.

Bulan Pertama: Euforia yang Cepat Memudar

Saya mendarat di Amsterdam Schiphol pada akhir Agustus. Cuaca masih hangat, langit biru, dan saya merasa seperti protagonis dalam film Eropa. Orientation week di Leiden sangat menyenangkan -- ada pub crawl, canal tour, dan banyak acara perkenalan.

Tapi euforia itu bertahan kurang dari sebulan.

Begitu kuliah dimulai, saya menyadari beberapa hal yang mengubah seluruh ekspektasi saya:

1. Cuaca yang Merusak Mental

Dari Oktober sampai Maret, Belanda seperti ditutup selimut abu-abu. Matahari terbit jam 8:30 pagi dan terbenam jam 4:30 sore. Sisa waktunya? Gelap, dingin, hujan, angin. Suhu berkisar 0-8 derajat Celsius. Sering kali, saya tidak melihat matahari selama berhari-hari.

Bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan 12 jam sinar matahari, ini adalah pukulan psikologis yang sangat berat. Saya mulai memahami kenapa winter depression (Seasonal Affective Disorder) adalah masalah nyata di Eropa Utara. Saya sendiri mengalami gejala: tidur berlebihan, tidak berenergi, dan kehilangan motivasi.

"Ada satu minggu di bulan November di mana saya tidak keluar kamar sama sekali kecuali untuk ke supermarket. Saya makan, tidur, dan menatap langit-langit. Itu adalah minggu tergelap dalam hidup saya -- secara literal dan figuratif."

2. Biaya Hidup yang Mencekik

Belanda adalah salah satu negara termahal di Eropa Barat. Berikut pengeluaran bulanan saya yang sebenarnya:

  • Sewa kamar: EUR 550/bulan (kamar di shared house, bukan apartemen sendiri). Di Amsterdam, harga ini bisa EUR 800-1.200
  • Groceries: EUR 200-250/bulan (masak sendiri hampir setiap hari)
  • Asuransi kesehatan: EUR 30/bulan (mahasiswa mendapat tarif khusus)
  • Transportasi: EUR 50-80/bulan (sepeda + sesekali kereta)
  • Utilitas + internet: EUR 80-100/bulan (termasuk di sewa, tapi kadang ada biaya tambahan untuk gas dan listrik di musim dingin)
  • Telepon: EUR 10-15/bulan
  • Lain-lain: EUR 100-150/bulan

Total: sekitar EUR 1.100-1.300 per bulan, atau sekitar Rp18-21 juta. Beasiswa Erasmus Mundus memberikan EUR 1.400/bulan, jadi secara teori cukup. Tapi "cukup" di sini berarti hidup sangat hemat -- tidak ada makan di restoran, tidak ada shopping, dan setiap pengeluaran dihitung.

3. Krisis Tempat Tinggal

Ini yang paling bikin stres dan jarang dibahas: Belanda sedang mengalami krisis perumahan yang parah. Mencari kamar kos sebagai mahasiswa internasional di Leiden, Amsterdam, atau Utrecht itu seperti perang. Saya mulai mencari kamar 3 bulan sebelum berangkat dan tetap kesulitan.

Banyak iklan yang scam -- minta transfer deposit sebelum kamu melihat kamar. Ada juga yang meminta deposit puluhan ribu euro. Saya nyaris tertipu oleh iklan di Kamernet yang ternyata palsu.

Tips: gunakan platform resmi universitas, grup Facebook PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di kota tujuanmu, dan website seperti Kamernet atau Pararius. Dan mulai cari minimal 4-5 bulan sebelum berangkat.

Hubungan Sosial: Ramah Tapi Tidak Hangat

Orang Belanda terkenal direct (langsung) dan friendly. Mereka akan menyapa, mengajak bicara, dan terlihat terbuka. Tapi ada perbedaan besar antara friendly dan warm.

Di Indonesia, kalau kamu kenal seseorang di acara kampus, dalam dua minggu kalian sudah bisa jadi teman dekat -- makan bareng, curhat, nongkrong tanpa rencana. Di Belanda, pertemanan berkembang sangat lambat. Orang Belanda sudah punya lingkaran sosial yang terbentuk sejak kecil, dan memasuki lingkaran itu sebagai orang asing hampir mustahil.

Teman-teman kuliah saya ramah di kelas dan saat group project, tapi begitu di luar kampus, semua sibuk sendiri. Undangan "let's get coffee sometime" sering kali hanya basa-basi -- kalau kamu benar-benar mengajak, mereka akan bilang "oh, I need to check my agenda" dan kemudian tidak ada follow-up.

Yang akhirnya membantu: Saya bergabung dengan PPI Leiden dan komunitas mahasiswa internasional. Teman-teman terdekat saya di Belanda ternyata sesama mahasiswa internasional -- dari Kolombia, Nigeria, India, dan Vietnam. Kami sama-sama "orang luar" dan itu yang menyatukan kami.

Pengalaman di Negara Eropa Lain: Perspektif Teman-Teman

Karena Erasmus Mundus, saya punya jaringan teman Indonesia yang tersebar di seluruh Eropa. Berikut cerita mereka:

Reza di Jerman (Beasiswa DAAD, TU Munich)

"Jerman itu efisien tapi dingin. Birokrasinya luar biasa -- untuk setiap hal kecil, kamu butuh surat, formulir, dan janji temu. Buka rekening bank? 2 minggu. Daftar Anmeldung (registrasi alamat)? Antri 3 jam di Rathaus. Yang bagus: kuliah gratis, beneran gratis. Saya cuma bayar semester ticket EUR 150 yang sudah termasuk transportasi publik se-Bavaria. Tapi biaya hidup di Munich mahal -- sewa kamar EUR 600-800, dan makanan di kantin kampus EUR 3-5 per makan."

Anita di Swedia (Beasiswa SI, Lund University)

"Swedia indah tapi gelap. Dari November sampai Februari, matahari cuma muncul 6-7 jam sehari. Suhu -10 sampai -15 derajat itu biasa. Tapi yang bikin saya bertahan: komunitas Indonesia di Lund sangat solid. Setiap minggu ada acara masak bersama di dapur bersama asrama. Menu favorit: nasi goreng, ayam goreng, dan soto. Biaya hidup sekitar SEK 9.000-10.000/bulan (sekitar Rp13-15 juta), dan beasiswa SI memberikan SEK 10.000/bulan, jadi pas-pasan."

Bayu di Prancis (Beasiswa Eiffel, Sciences Po Paris)

"Paris itu overrated kalau kamu mahasiswa miskin. Sewa studio apartment 15m2 di arrondissement 13: EUR 750/bulan. Makanan murah di kantin kampus CROUS: EUR 3.30 per makan -- ini penyelamat. Yang bikin frustrasi: birokrasi Prancis. Buka rekening bank butuh alamat tetap, tapi sewa apartemen butuh rekening bank. Lingkaran setan. Dan orang Prancis, terutama di Paris, tidak suka bicara bahasa Inggris meskipun mereka bisa. Saya harus belajar bahasa Prancis dengan serius untuk bertahan."

Hal-Hal yang Tidak Ada di Brosur Beasiswa

Homesick Itu Nyata dan Berat

Saya pikir saya orang yang mandiri. Saya sudah merantau dari Padang ke Jakarta untuk kuliah S1. Tapi homesick di Eropa itu level yang berbeda. Bukan cuma rindu keluarga -- saya rindu suara adzan, rindu kehangatan orang-orang yang spontan ramah, rindu bisa makan nasi Padang kapanpun mau, rindu cuaca yang hangat.

Momen paling berat: Lebaran pertama di Belanda. Di Indonesia, Lebaran adalah momen keluarga besar berkumpul, makan-makan, saling maafin. Di Leiden, saya Shalat Ied di musholla kecil di basement sebuah gedung, dihadiri sekitar 30 orang. Setelah shalat, kami makan bersama -- rendang dari katering halal Turki (rasanya beda jauh dari rendang Padang asli). Saya menangis di kamar setelahnya.

Diskriminasi Halus yang Mengganggu

Saya tidak pernah mengalami rasisme terang-terangan di Belanda. Tapi ada bentuk diskriminasi halus yang kadang terasa:

  • Orang di toko yang mengikutiku dengan mata curiga
  • Pertanyaan "where are you REALLY from?" ketika saya sudah bilang saya tinggal di Leiden
  • Asumsi bahwa karena saya pakai hijab, saya pasti "oppressed" dan butuh "diselamatkan"
  • Ditanya soal terorisme setelah mereka tahu saya dari Indonesia (negara Muslim terbesar di dunia)

Ini tidak terjadi setiap hari, tapi cukup sering untuk membuat kamu sadar bahwa kamu adalah "orang lain" di tempat ini.

Yang Membuat Semuanya Worth It

Meskipun semua tantangan di atas, saya tidak menyesal sedikit pun. Karena Eropa juga memberikan saya hal-hal yang tidak bisa saya dapat di tempat lain:

  • Pendidikan berkualitas dunia -- metode pembelajaran kritis, akses riset terbuka, dan exposure ke pemikiran global
  • Perspektif baru -- tinggal di lingkungan multikultural mengubah cara saya melihat dunia dan Indonesia
  • Kemandirian -- dari masak sendiri sampai mengurus pajak dan asuransi, saya belajar jadi dewasa yang sesungguhnya
  • Travel -- ya, ini memang salah satu bonus terbaik. Dari Leiden, saya sudah mengunjungi 8 negara Eropa dengan budget backpacker. Flixbus EUR 9 ke Brussels, Ryanair EUR 20 ke Barcelona
  • Jaringan internasional -- teman-teman dari 40+ negara yang sekarang menjadi jaringan profesional
  • Kepercayaan diri -- kalau saya bisa bertahan di Eropa dengan semua tantangannya, saya bisa menghadapi apapun

Saran untuk Kamu yang Mau Kuliah di Eropa

  1. Siapkan mental, bukan cuma dokumen -- proses adaptasi akan berat. Itu normal. Beri diri kamu waktu minimal 3-6 bulan untuk benar-benar settle
  2. Bawa obat-obatan dari Indonesia -- Paracetamol, obat flu, obat maag, minyak kayu putih. Obat di Eropa mahal dan butuh resep dokter untuk banyak obat yang di Indonesia bisa beli bebas
  3. Belajar masak sebelum berangkat -- ini skill survival. Minimal bisa masak nasi, tumis sayur, dan goreng ayam. Budget makan bisa hemat 50% kalau masak sendiri
  4. Siapkan dana darurat -- minimal EUR 1.000-2.000 sebagai buffer. Ada biaya-biaya tak terduga: deposit kamar, winter coat, peralatan dapur, biaya kedatangan pertama sebelum beasiswa cair
  5. Cari komunitas Indonesia sejak awal -- PPI di setiap kota besar Eropa. Mereka adalah support system terbaikmu
  6. Jangan bandingkan hidupmu dengan Instagram orang lain -- semua orang sedang berjuang. Mereka cuma tidak posting bagian sulitnya
"Eropa mengajarkan saya bahwa kenyamanan bukan tujuan hidup. Pertumbuhan justru terjadi di saat-saat paling tidak nyaman. Dan ketika nanti saya pulang ke Indonesia, saya akan membawa pulang bukan cuma ijazah, tapi juga versi diri saya yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih bersyukur."

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...