Sebelum Berangkat: Saya Tidak Bisa Masak
Mari saya mulai dengan pengakuan memalukan: sebelum berangkat ke Swedia dengan beasiswa SI (Swedish Institute) pada 2024, saya tidak bisa masak apa-apa. Literally nol. Di Indonesia, saya makan di warteg, pesan GoFood, atau makan masakan ibu. Mesin rice cooker pun saya tidak yakin bisa operasikan.
Tapi di Lund, Swedia -- kota kecil dengan sangat sedikit pilihan makanan murah dan hampir nol makanan Indonesia -- saya harus belajar masak atau kelaparan. Makan di luar setiap hari? Satu porsi kebab (makanan murah termurah) harganya SEK 89 (sekitar Rp130.000). Makan di restoran kampus SEK 75-100 per porsi. Kalau makan di luar 3 kali sehari, saya butuh sekitar Rp10-12 juta per bulan hanya untuk makan. Beasiswa saya SEK 10.000/bulan -- tidak cukup.
Masak sendiri? Budget makan bisa ditekan ke SEK 2.000-2.500/bulan (Rp3-3,7 juta). Selisihnya bisa Rp7-8 juta per bulan. Cukup motivasi untuk belajar masak.
Baca Juga:
Minggu Pertama: Bencana di Dapur
Kamar saya di koridor asrama Delphi, Lund, memiliki dapur bersama yang dipakai 12 orang. Dapur standar Swedia: kompor listrik (bukan gas!), oven, microwave, dan kulkas bersama.
Percobaan masak pertama saya: nasi goreng. Hasilnya? Nasi yang lengket menjadi satu gumpalan besar, telur gosong di satu sisi dan mentah di sisi lain, dan kecap kebanyakan sehingga seluruh masakan berwarna hitam pekat. Teman sekamar saya dari Jerman melihat kreasi saya dan bertanya dengan wajah serius: "Is that... food?"
Saya makan gumpalan hitam itu sambil menangis -- bukan karena sedih, tapi karena rasanya asin luar biasa.
Belajar dari YouTube
Channel YouTube yang menyelamatkan hidup saya:
- Devina Hermawan -- resep Indonesia yang simpel dengan penjelasan detail untuk pemula
- Ade Koerniawan -- resep masakan Indonesia yang cocok dengan bahan yang tersedia di luar negeri
- Joshua Weissman -- "But Cheaper" series yang mengajarkan masak enak dengan budget minimal
- Maangchi -- masakan Korea yang bahan-bahannya relatif mudah ditemukan di Asia mart Eropa
Dalam 2 minggu, saya sudah bisa masak: nasi (yang tidak menggumpal), telur dadar, tumis sayur, dan ayam goreng sederhana. Dalam sebulan, repertoire saya bertambah: nasi goreng, mie goreng, sup sayur, dan chicken katsu. Bukan masterchef, tapi cukup untuk bertahan hidup.
Strategi Belanja Hemat di 5 Negara
Saya mengumpulkan tips dari teman-teman mahasiswa Indonesia di berbagai negara:
Swedia (pengalaman sendiri)
- Lidl dan Willys -- supermarket termurah. Hindari ICA dan Coop untuk belanja harian
- Asiatiska livs (Asian grocery store) -- tempat beli kecap, sambal, mie instan, tahu, tempe frozen, dan bumbu Asia
- Marknaderna (pasar lokal) -- sayuran dan buah lebih murah, terutama menjelang tutup
- Too Good To Go app -- beli makanan dari restoran dan bakery yang akan expired dengan diskon 50-70%
Budget belanja saya: SEK 500-600/minggu (Rp750-900 ribu) untuk semua bahan makanan.
Jerman (dari teman Fajar di Berlin)
- Aldi dan Lidl -- supermarket paling murah di Jerman
- Turkish market -- sumber bumbu, daging halal, sayuran murah
- Dong Xuan Center (Berlin) -- pasar Asia terbesar di Jerman. Surga untuk bahan masakan Indonesia
- Terlalu Gut Untuk Die Tonne -- aplikasi anti-food waste seperti Too Good To Go
Budget: EUR 30-40/minggu (Rp500-670 ribu).
Jepang (dari teman Adi di Tsukuba)
- Gyomu Super -- supermarket grosir dengan harga paling murah
- Don Quijote (Donki) -- toko diskon yang jual berbagai macam barang murah termasuk makanan
- Supermarket malam -- setelah jam 8 malam, banyak supermarket Jepang yang diskon 30-50% untuk makanan segar
- HalalDeliJapan -- belanja daging halal online
Budget: 6.000-8.000 yen/minggu (Rp600-800 ribu).
Inggris (dari teman Sinta di Edinburgh)
- Aldi, Lidl, dan ASDA -- supermarket termurah
- Reduced section -- setiap supermarket punya rak "reduced" untuk makanan mendekati best before date. Diskon 50-75%
- Asian supermarket -- Wing Yip, See Woo, atau toko Asia lokal untuk bumbu dan bahan khas
Budget: GBP 25-35/minggu (Rp500-700 ribu).
Australia (dari teman Tika di Melbourne)
- Aldi -- jauh lebih murah dari Coles dan Woolworths
- Asian grocery di Springvale atau Box Hill -- surga bahan masakan Asia dengan harga murah
- Farmer's market -- di akhir jam operasi, pedagang sering jual sayuran murah
Budget: AUD 50-70/minggu (Rp500-700 ribu).
10 Resep Andalan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri
Resep-resep ini dipilih berdasarkan 3 kriteria: murah, mudah, dan bahan-bahannya relatif tersedia di mana pun.
1. Nasi Goreng (The Ultimate Comfort Food)
Bahan: nasi sisa kemarin, telur, kecap manis, bawang putih, garam, minyak. Optional: sayuran apapun yang ada di kulkas. Waktu: 10 menit. Cost: sekitar Rp15-20 ribu.
2. Indomie Upgrade
Bahan: Indomie goreng + telur ceplok + sayuran (wortel, bok choy, atau bayam). Satu bungkus Indomie di Asian store Eropa sekitar EUR 0.80-1.50. Waktu: 7 menit. Cost: sekitar Rp20-30 ribu.
3. Ayam Kecap
Bahan: paha ayam, kecap manis, bawang merah, bawang putih, jahe. Masak di satu wajan. Waktu: 25 menit. Cost: sekitar Rp40-50 ribu.
4. Tumis Tahu Tempe
Bahan: tahu dan tempe (tersedia frozen di Asian store), kecap, cabai, bawang. Protein murah! Waktu: 15 menit. Cost: sekitar Rp25-35 ribu.
5. Sup Sayur
Bahan: wortel, kentang, brokoli, kaldu ayam bubuk, garam, merica. Comfort food saat cuaca dingin. Waktu: 20 menit. Cost: sekitar Rp20-30 ribu.
6. Chicken Katsu
Bahan: dada ayam, tepung roti (panko), telur, tepung terigu. Goreng sampai golden. Waktu: 20 menit. Cost: sekitar Rp35-45 ribu.
7. Pasta Aglio e Olio
Bahan: spaghetti, bawang putih, olive oil, cabai kering, parsley. Resep Italia yang super simpel dan murah. Waktu: 15 menit. Cost: sekitar Rp15-25 ribu.
8. Omelette Sayur
Bahan: telur (3 butir), sayuran apapun (paprika, tomat, bayam), keju (optional). Waktu: 10 menit. Cost: sekitar Rp15-25 ribu.
9. Curry Jepang (Kare Raisu)
Bahan: curry roux block (beli di Asian store), ayam/sayuran, kentang, wortel, nasi. Buat banyak, simpan untuk beberapa hari. Waktu: 30 menit. Cost: sekitar Rp40-50 ribu per porsi besar.
10. Nasi Kuning Sederhana
Bahan: beras, santan (coconut cream kaleng), kunyit bubuk, serai, daun salam (kalau ada). Masak di rice cooker. Waktu: 30 menit. Cost: sekitar Rp20-30 ribu.
Peralatan Dapur Wajib untuk Mahasiswa
Kamu tidak butuh dapur lengkap. Cukup ini:
- Rice cooker kecil -- investasi terbaik. Bisa untuk masak nasi, kukus sayur, bahkan bikin kue. Di Jepang beli Zojirushi kecil 3.000-5.000 yen. Di Eropa, beli di Amazon atau Asian store EUR 20-40
- Satu wajan anti lengket -- untuk tumis, goreng, dan basically semua masakan
- Satu panci sedang -- untuk rebus pasta, bikin sup, masak mie
- Pisau chef yang layak -- tidak perlu mahal, tapi yang tajam dan nyaman dipegang
- Talenan -- plastik lebih higienis dan mudah dicuci
- Container makanan -- untuk meal prep dan bawa bekal ke kampus
Bumbu dan Bahan yang Wajib Dibawa dari Indonesia
Ini checklist yang saya berikan ke setiap teman yang mau berangkat beasiswa:
- Kecap manis (Bango/ABC) -- 2-3 botol kecil
- Sambal ABC/sambal terasi sachet -- 20-30 sachet
- Bumbu racik (Indofood) -- rendang, soto, opor, gulai
- Santan bubuk -- 10-15 bungkus
- Terasi -- 2-3 bungkus (hati-hati, baunya bisa membuat koper kamu dikucilkan di baggage claim)
- Indomie -- sebanyak yang koper bisa tampung (serius)
- Kerupuk -- 5-10 bungkus
- Kopi sachet (Kapal Api/Good Day) -- untuk homesick emergency
Catatan penting: cek regulasi customs negara tujuan. Beberapa negara melarang impor daging dan produk hewani. Australia sangat ketat -- jangan bawa apapun yang mengandung daging atau produk susu tanpa deklarasi.
Momen Terbaik: Ketika Masakan Indonesia Menyatukan
Momen paling membanggakan saya di Swedia: saya membuat nasi goreng untuk acara international food night di asrama. Saya masak 3 kg nasi goreng dengan segala bumbu -- kecap, sambal, telur, ayam, krupuk sebagai topping.
Antrian di meja Indonesia adalah yang terpanjang. Teman-teman dari Eropa, Afrika, dan Amerika Latin meminta resep. Seorang teman dari Spanyol bilang: "This is the best fried rice I've ever had." Seorang teman dari Nigeria bilang: "Can you teach me?"
Di malam itu, saya bukan lagi mahasiswa asing yang kesepian. Saya adalah orang yang membawa sepotong Indonesia ke Swedia, dan orang-orang menyukainya.
Masak sendiri di luar negeri memang dimulai dari kebutuhan bertahan hidup. Tapi seiring waktu, itu menjadi cara untuk menjaga identitas, membangun komunitas, dan -- yang paling penting -- membuat perut dan hati tetap hangat di negeri orang.
Komentar & Diskusi