Pengalaman 7 menit baca

Pulang ke Indonesia Setelah Beasiswa: Reverse Culture Shock yang Tidak Siap

Ketika negara sendiri terasa asing, dan kamu merasa tidak lagi sepenuhnya milik di mana pun


· 689 views

Pulang Harusnya Bahagia, Kan?

Setelah 2 tahun kuliah S2 di University of Melbourne dengan beasiswa AAS (Australia Awards Scholarship), saya akhirnya pulang ke Indonesia pada Desember 2025. Di bandara Soekarno-Hatta, keluarga besar menyambut saya dengan spanduk kecil bertuliskan "Selamat Datang Sarjana Australia!" Saya tersenyum, memeluk ibu yang menangis bahagia, dan menghirup udara Jakarta yang panas dan polusi.

Tapi di dalam hati, ada perasaan aneh yang tidak bisa saya jelaskan. Bukan sedih, bukan senang -- lebih seperti kebingungan yang dalam. Seperti kamu pulang ke rumah yang sudah direnovasi total -- alamatnya sama, tapi isinya terasa berbeda.

Yang tidak pernah ada yang ceritakan tentang beasiswa: reverse culture shock -- kaget saat kembali ke negara sendiri -- bisa lebih berat daripada culture shock saat pertama kali ke luar negeri.

Minggu Pertama: Semuanya Terasa Janggal

Lalu Lintas yang Memicu Anxiety

Di Melbourne, saya terbiasa dengan jalan yang tertib, pejalan kaki yang dihormati, dan transportasi umum yang tepat waktu. Naik tram ke kampus: 15 menit, selalu.

Di Jakarta? Hari pertama saya naik ojol dari rumah ke tempat kerja. Jarak 12 km, waktu tempuh: 1 jam 45 menit. Sepanjang perjalanan, motor-motor menyerobot dari segala arah, klakson berbunyi terus-menerus, dan asap kendaraan membuat saya batuk. Saya yang dulu terbiasa dengan kekacauan ini tiba-tiba merasa overwhelmed.

Bukan karena lalu lintas Jakarta berubah -- saya yang berubah. Standar saya untuk "normal" sudah bergeser setelah 2 tahun di kota yang sangat teratur.

Makanan yang Tidak Se-enak Ingatan

Selama di Melbourne, saya sering bermimpi tentang nasi goreng abang-abang, soto Betawi, dan bakso pinggir jalan. Saya bilang ke diri sendiri, "Tunggu sampai pulang, mau makan puas-puasan!"

Tapi ketika akhirnya makan di warung langganan dekat rumah, rasanya... biasa saja. Bukan karena makanannya berubah -- lidah dan ekspektasi saya yang berubah. Setelah 2 tahun makan multicultural food di Melbourne -- Thai, Vietnamese, Korean, Middle Eastern -- referensi rasa saya meluas. Makanan Indonesia masih enak, tapi tidak lagi "luar biasa" seperti yang saya bayangkan selama homesick.

Anehnya, saya justru rindu flat white dari cafe di Lygon Street dan meat pie dari bakery dekat kampus.

"Ironi terbesar reverse culture shock: kamu pulang karena rindu Indonesia, tapi begitu sampai, kamu justru rindu negara tempat kamu beasiswa."

Tantangan yang Sebenarnya: Kembali Bekerja di Indonesia

Gaji yang Bikin Kaget

Di Melbourne, tunjangan beasiswa saya AUD 3.500/bulan (sekitar Rp36 juta), ditambah penghasilan part-time AUD 1.200-1.500/bulan. Total sekitar Rp48-50 juta per bulan. Memang ini di kota mahal, tapi tetap terasa nyaman.

Di Indonesia, gaji awal saya sebagai peneliti di lembaga think tank di Jakarta: Rp8 juta per bulan. Dengan gelar S2 dari universitas top 50 dunia. Di kota dengan biaya hidup yang makin mahal.

Saya tidak mengharapkan gaji setara Australia, tapi gap-nya sangat besar. Teman-teman S2 saya dari negara lain yang pulang ke negaranya (India, Vietnam, Thailand) mengalami hal serupa. Kami menyebutnya "the salary shock."

Budaya Kerja yang Memfrustrasikan

Di universitas di Australia, saya terbiasa dengan:

  • Komunikasi langsung dan efisien -- email dijawab dalam 24 jam, meeting punya agenda jelas, keputusan dibuat cepat
  • Meritokrasi -- ide dinilai berdasarkan kualitas, bukan siapa yang mengajukan
  • Work-life balance -- jam 5 sore semua pulang, weekend adalah milik pribadi
  • Transparansi -- informasi dibagikan terbuka, feedback diberikan konstruktif

Di tempat kerja baru saya di Jakarta:

  • Email dari atasan kadang baru dibalas setelah di-follow up 3 kali
  • Meeting bisa berlangsung 2 jam tanpa kesimpulan jelas
  • Keputusan sering bergantung pada senioritas, bukan kualitas ide
  • "Lembur" dianggap tanda dedikasi, bukan tanda inefisiensi
  • Chat WhatsApp kerja masuk sampai jam 11 malam dan weekend

Saya sering frustrasi dan tanpa sadar membandingkan: "Di Australia, ini tidak akan terjadi." Kalimat itu, yang kadang saya ucapkan tanpa sadar, membuat rekan kerja saya iritasi. Dan saya sadar: tidak ada yang suka orang yang terus-terusan membandingkan negaranya dengan "di luar negeri."

Hubungan Sosial yang Berubah

Teman Lama yang Terasa Asing

Saya kumpul dengan geng SMA setelah 2 tahun tidak ketemu. Mereka membahas: cicilan mobil, gosip tetangga, drama keluarga, dan rencana mudik Lebaran. Topik-topik yang dulu terasa familiar, sekarang terasa... jauh.

Saya ingin membahas isu perubahan iklim, kebijakan pendidikan, atau pengalaman riset saya. Tapi setiap kali saya mulai bicara tentang itu, saya melihat mata mereka berkaca-kaca -- bukan karena terharu, tapi karena bosan.

Bukan salah mereka. Bukan salah saya. Kami simply sudah hidup di realita yang berbeda selama 2 tahun, dan gap itu tidak mudah dijembatani.

Label "Orang Luar Negeri"

Di keluarga besar, saya sekarang adalah "yang kuliah di Australia." Setiap kali ada acara keluarga, saya ditanya:

  • "Gimana di Australia? Enak ya?" (Pertanyaan yang terlalu luas untuk dijawab)
  • "Sekarang gajinya berapa?" (Pertanyaan yang tidak nyaman)
  • "Kapan nikah? Di sana dapat bule?" (Stereotip yang melelahkan)
  • "Kok pulang? Kenapa nggak kerja di sana aja?" (Menimbulkan rasa bersalah)

Yang paling menyakitkan: ada anggota keluarga yang mengira saya "sombong" karena cara bicara saya berubah. Saya kadang mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris tanpa sadar -- bukan karena pamer, tapi karena 2 tahun berkomunikasi dalam bahasa Inggris membuat beberapa kata lebih mudah diucapkan dalam bahasa itu. Tapi persepsi orang lain tidak selalu memahami itu.

Fase-Fase Reverse Culture Shock

Setelah membaca banyak literatur dan berbicara dengan sesama alumni beasiswa, saya menyadari bahwa reverse culture shock punya pola yang mirip dengan culture shock biasa:

  1. Disenchantment (Bulan 1-2): Semuanya di Indonesia terasa salah, lambat, dan frustrasi. Kamu terus-terusan membandingkan
  2. Gradual Readjustment (Bulan 3-6): Kamu mulai menerima bahwa Indonesia punya kekurangan dan kelebihan, sama seperti negara manapun. Kamu mulai menemukan hal-hal yang kamu hargai dari Indonesia
  3. Integration (Bulan 6+): Kamu berhasil mengintegrasikan pengalaman luar negeri dengan realita Indonesia. Kamu tidak lagi membandingkan, tapi mengambil yang terbaik dari kedua dunia
Yang membantu saya melewati reverse culture shock: Bergabung dengan komunitas alumni beasiswa (LPDP Alumni, AAS Alumni Network). Di sini saya bertemu orang-orang yang mengalami hal yang sama. Kami saling curhat, saling support, dan saling mengingatkan bahwa perasaan ini normal dan akan berlalu.

Kontribusi: Alasan Kamu Pulang

Di titik terendah reverse culture shock, saya hampir menyesal telah pulang. "Kenapa saya tidak stay di Australia saja?" pikir saya.

Tapi kemudian saya ingat: saya pulang bukan untuk diri sendiri. Saya pulang karena Indonesia yang membiayai pendidikan saya, dan Indonesia membutuhkan orang-orang yang membawa perspektif baru.

Pelan-pelan, saya mulai menemukan cara untuk berkontribusi:

  • Saya membuat program mentoring untuk anak-anak SMA di daerah asal saya yang ingin apply beasiswa
  • Saya menulis policy brief tentang pendidikan yang berdasarkan riset S2 saya
  • Saya mengajak teman-teman alumni beasiswa untuk membuat podcast berbagi pengalaman
  • Saya membawa metode riset dan etos kerja dari Australia ke kantor saya -- bukan dengan memaksa, tapi dengan memberi contoh

Perlahan, frustrasi berubah menjadi motivasi. Indonesia memang punya banyak masalah -- tapi itu justru alasan kenapa kami dibutuhkan di sini.

Tips untuk Kamu yang Akan Pulang

  1. Jangan berharap Indonesia menyambut kamu sebagai pahlawan -- kehidupan terus berjalan selama kamu pergi. Kembali dengan humble dan mau beradaptasi
  2. Beri diri kamu waktu -- 3-6 bulan untuk readjustment itu normal. Jangan panik kalau di bulan pertama semuanya terasa salah
  3. Jangan terus membandingkan -- "Di luar negeri, bla bla bla" adalah kalimat yang akan membuat orang iritasi dan mengisolasi kamu
  4. Cari komunitas alumni -- orang yang pernah mengalami hal yang sama. Mereka mengerti tanpa kamu harus menjelaskan
  5. Temukan purpose -- kenapa kamu pulang? Kontribusi apa yang bisa kamu berikan? Fokus pada itu, dan frustrasi akan berkurang
  6. Rawat hubungan lama -- teman dan keluarga mungkin terasa berbeda, tapi mereka adalah akarmu. Jangan putus hubungan hanya karena gap pengalaman
  7. Bawa pulang yang baik, tinggalkan yang tidak perlu -- ambil etos kerja, critical thinking, dan perspektif global. Tinggalkan sifat menghakimi

Reverse culture shock memang berat. Tapi kalau kamu bisa melewatinya, kamu akan menjadi versi terbaik dari dirimu: seseorang yang memahami dua dunia dan bisa menjembatani keduanya.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...