Pengalaman 7 menit baca

Puasa Ramadan di Luar Negeri: Dari Skandinavia sampai Jepang (19 Jam Puasa!)

Pengalaman mahasiswa Indonesia menjalankan ibadah puasa di negara minoritas Muslim dengan durasi puasa ekstrem


· 1974 views

Ramadan di Indonesia vs di Luar Negeri

Di Indonesia, Ramadan itu magical. Suara adzan Maghrib menggema dari masjid-masjid, pasar takjil bermunculan di setiap jalan, sahur ditemani suara tukang kentongan, dan buka puasa selalu ramai bersama keluarga atau teman.

Di luar negeri? Tidak ada adzan. Tidak ada pasar takjil. Tidak ada teman yang mengingatkan sahur. Dan kadang, durasi puasanya bisa mencapai 19 jam.

Saya mengumpulkan pengalaman dari mahasiswa Indonesia yang menjalankan Ramadan 2026 di berbagai negara -- dari yang ekstrem sampai yang surprisingly menyenangkan.

Ramadan 2026: Durasi Puasa di Berbagai Negara

Ramadan 2026 (1447 H) jatuh pada 18-19 Februari hingga 19-20 Maret. Karena jatuh di akhir musim dingin menuju musim semi di belahan bumi utara, durasi puasa bervariasi:

  • Indonesia: 13-13.5 jam (standar, nyaman)
  • Jepang (Tokyo): 12-13 jam (musim dingin jadi relatif pendek)
  • Turki (Istanbul): 12.5-13.5 jam
  • Jerman (Berlin): 12-14 jam
  • Inggris (London): 12-14 jam
  • Belanda (Amsterdam): 12-14 jam
  • Swedia (Stockholm): 11.5-14 jam
  • Norwegia (Oslo): 11.5-14.5 jam
  • Finlandia (Helsinki): 11.5-15 jam

Tahun 2026 relatif "ringan" karena Ramadan jatuh di musim dingin -- berarti siang hari pendek. Bandingkan dengan Ramadan di musim panas (seperti 2015-2016), di mana puasa di Skandinavia bisa 19-21 jam! Banyak ulama yang mengizinkan mengikuti jadwal Mekkah atau negara Muslim terdekat dalam kasus ekstrem seperti itu.

Hana di Finlandia: "Puasa Pendek Tapi Gelap Total"

Hana, 25 tahun, mahasiswa S2 di University of Helsinki, beasiswa pemerintah Finlandia.

"Ramadan 2026 di Helsinki itu unik. Durasi puasanya ternyata cuma sekitar 12 jam di awal karena masih musim dingin -- matahari terbit lambat dan terbenam cepat. Tapi masalahnya bukan durasi puasa. Masalahnya: gelap hampir sepanjang hari."

"Di bulan Februari, Helsinki cuma dapat sinar matahari sekitar 8-9 jam sehari, dan sering kali tertutup awan. Sahur di kegelapan total, puasa di kegelapan, buka puasa di kegelapan. Rasanya seperti tidak ada perbedaan antara siang dan malam."

"Yang membuat bertahan: komunitas Muslim di Helsinki ternyata cukup besar -- banyak imigran dari Somalia, Irak, dan Turki. Masjid kampus kecil tapi hangat. Setiap malam ada buka puasa bersama, dan makanannya surprising -- nasi biryani Somalia, kebab Turki, dan sesekali ada yang masak rendang."

"Momen paling mengharukan: seorang nenek Finland non-Muslim yang tinggal di sebelah asrama saya mengetuk pintu membawa kantong berisi roti dan sup. Dia bilang, 'I heard you are fasting. I thought you might need this for when you eat again.' Saya hampir menangis."

Bayu di Jepang: "Puasa Tanpa Pemberitahuan"

Bayu, 26 tahun, mahasiswa S2 di Tohoku University, Sendai, beasiswa MEXT.

"Di Indonesia, semua orang tahu kamu puasa. Kantin menyesuaikan, rekan kerja menghormati, bahkan non-Muslim pun ikut jaga perasaan. Di Jepang? Tidak ada yang tahu kamu puasa kecuali kamu bilang sendiri."

"Dosen saya mengadakan meeting lab jam 12 siang dengan snack dan minuman. Saya duduk di antara 10 orang yang makan, dengan perut kosong, dan tidak ada yang sadar. Bukan karena mereka tidak peduli -- mereka literally tidak tahu apa itu Ramadan."

"Saya akhirnya menjelaskan ke dosen pembimbing saya tentang puasa. Beliau sangat respectful dan bahkan memindahkan jam meeting ke sore hari supaya saya sudah lebih berenergi. Orang Jepang memang tidak tahu tentang Islam, tapi kalau dijelaskan, mereka sangat menghormati."

Tips Puasa di Jepang:

  • Beli daging halal online dari HalalDeliJapan atau Tokyo Halal Deli untuk sahur dan buka
  • Bawa dates (kurma) dari Indonesia atau beli di Kaldi Coffee Farm
  • Download app Muslim Pro untuk waktu shalat yang akurat
  • Cari masjid terdekat di halalmedia.jp
  • Konbini (FamilyMart, Lawson) menjual onigiri dengan isian sayuran yang aman dimakan

Reza di Jerman: "Komunitas Turki Menyelamatkan Ramadan Saya"

Reza, 27 tahun, mahasiswa S2 di TU Munich, beasiswa DAAD.

"Jerman punya populasi Turki yang sangat besar -- sekitar 3 juta orang. Dan Turki = Muslim = Ramadan = makanan halal berlimpah."

"Di Munich, saya menemukan masjid-masjid Turki yang setiap malam menyediakan buka puasa gratis (iftar) untuk siapa saja. Menunya rotasi: pilav (nasi Turki), lahmacun, mercimek corbasi (sup lentil), dan berbagai macam kebab. Kualitasnya restoran, tapi gratis."

"Yang berbeda dari Indonesia: tidak ada tarawih keliling atau ceramah habis Subuh di pengeras suara. Ibadahnya lebih personal dan quiet. Tapi justru itu membuat saya lebih fokus pada esensi puasa -- hubungan personal dengan Allah, bukan ritual sosial."

Sinta di Inggris: "Ramadan Multikultural"

Sinta, 27 tahun, mahasiswa S2 di Edinburgh, beasiswa Chevening.

"Edinburgh punya komunitas Muslim yang beragam: Pakistan, Arab, Somalia, Malaysia, Indonesia. Ramadan di sini adalah pengalaman multikultural yang luar biasa."

"Edinburgh Central Mosque setiap malam menyediakan iftar gratis untuk 200-300 orang. Menunya berganti setiap hari -- satu malam masakan Pakistan (biryani, curry), malam berikutnya Arab (mansaf, hummus), kadang ada masakan Somalia. Dan seminggu sekali, PPI Edinburgh masak nasi goreng untuk semua jamaah. Antrian terpanjang selalu di meja Indonesia!"

"Yang bikin unik: banyak mahasiswa non-Muslim yang ikut buka puasa bersama karena penasaran. Universitas Edinburgh bahkan menyediakan quiet room untuk shalat selama Ramadan dan memperbolehkan penyesuaian jadwal ujian."

Nadia di Belanda: "Puasa Sambil Bersepeda di Angin Dingin"

Nadia, 25 tahun, mahasiswa di Leiden University, beasiswa Erasmus Mundus.

"Transportasi utama di Belanda adalah sepeda. Bayangkan bersepeda 3 km ke kampus di cuaca 5 derajat Celsius, melawan angin, dengan perut kosong. Setiap kayuhan pedal terasa seperti ujian kesabaran."

"Tapi ada sisi lucu: teman-teman Belanda saya sangat curious tentang puasa. Mereka bertanya: 'So you can't drink water? AT ALL? Even in this cold?' Ketika saya bilang ya, mereka menatap saya seperti saya superhero. Beberapa dari mereka bahkan mencoba ikut puasa satu hari untuk solidarity -- dan gagal jam 2 siang."

Tips universal puasa di luar negeri:
  • Sahur yang bernutrisi tinggi: oatmeal, telur, kurma, pisang, dan banyak air
  • Bawa snack kurma dan air untuk buka darurat kalau masih di kampus saat Maghrib
  • Komunikasikan ke dosen dan teman bahwa kamu sedang puasa -- kebanyakan akan sangat menghormati
  • Manfaatkan energi terbaik di pagi hari untuk tugas akademik berat
  • Jangan skip sahur meskipun ngantuk -- kamu akan menyesal siang harinya
  • Cari masjid atau musholla terdekat untuk tarawih -- ini juga cara membangun komunitas

Tantangan Terbesar: Bukan Lapar, Tapi Kesepian

Semua mahasiswa yang saya wawancarai sepakat: tantangan terbesar puasa di luar negeri bukan lapar atau haus. Tantangan terbesarnya adalah kesepian.

Di Indonesia, Ramadan adalah bulan paling sosial -- buka puasa bersama setiap hari, tarawih berjamaah, sahur bareng teman. Di luar negeri, kamu sering sahur sendirian jam 4 pagi di dapur gelap, buka puasa sendirian di kamar kos, dan shalat tarawih di musholla kecil dengan belasan orang.

"Ramadan pertama di luar negeri adalah Ramadan paling berat sekaligus paling bermakna dalam hidup saya," kata Hana. "Karena di saat kamu kehilangan semua keramaian dan ritual sosial, kamu menemukan esensi puasa yang sebenarnya: hubungan personal antara kamu dan Tuhan. Dan hubungan itu tidak membutuhkan adzan dari pengeras suara atau pasar takjil di pinggir jalan."

Lebaran di Luar Negeri: Bitter Sweet

Semua cerita tentang Ramadan di luar negeri tidak lengkap tanpa membahas Lebaran.

"Hari raya Idul Fitri di luar negeri itu sweet dan bitter sekaligus," kata Reza. "Sweet karena kamu merayakan bersama sesama mahasiswa Muslim dari berbagai negara. Bitter karena kamu tahu bahwa di Indonesia, keluargamu sedang berkumpul, dan kamu tidak ada di sana."

Sinta menambahkan: "Saya shalat Ied di Edinburgh Central Mosque bersama ratusan Muslim dari 20+ negara. Setelah shalat, kami berpelukan, mengucapkan selamat dalam bahasa masing-masing. Lalu saya video call keluarga di Semarang dan melihat mereka semua berkumpul makan opor ayam dan ketupat. Saya tersenyum di layar, tapi setelah call selesai, saya menangis di kamar."

Tapi justru momen-momen seperti inilah yang membuat pengalaman Ramadan di luar negeri tidak tergantikan. Kamu belajar bahwa iman tidak bergantung pada lokasi. Dan bahwa ukhuwah bisa ditemukan di mana pun di dunia ini.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...