Hari yang Tidak Pernah Saya Bayangkan Akan Tiba
Ada momen di semester kedua ketika saya duduk di perpustakaan University of Manchester jam 2 pagi, mengerjakan disertasi yang rasanya tidak akan pernah selesai, dengan mata merah karena kurang tidur dan perut kosong karena lupa makan. Saya menatap layar laptop dan berpikir: "Apa saya benar-benar bisa menyelesaikan ini?"
Setahun kemudian, saya berdiri di Bridgewater Hall, Manchester, mengenakan jubah wisuda hitam dan topi mortarboard, mendengar nama saya dipanggil untuk menerima ijazah MSc Educational Leadership. Di barisan penonton, ibu saya -- yang baru pertama kali naik pesawat dalam hidupnya -- menangis bahagia.
Itu adalah momen paling membanggakan dalam hidup saya. Bukan karena gelarnya. Tapi karena perjalanan untuk sampai ke sana.
Baca Juga:
Flashback: Perjalanan yang Hampir Tidak Selesai
Semester 1: Impostor Syndrome
Saya datang ke Manchester dengan beasiswa LPDP, merasa bangga dan percaya diri. Tapi begitu kuliah dimulai, rasa percaya diri itu runtuh.
Teman-teman sekelas saya: seorang mantan guru di sekolah elit London, seorang policy advisor dari pemerintah Kenya, seorang PhD dropout dari MIT. Dan saya? Guru SMA dari kota kecil di Jawa Tengah. Impostor syndrome menghantam keras.
Di kelas pertama, dosen bertanya tentang "critical pedagogy framework by Freire." Semua orang mengangguk seolah ini pengetahuan dasar. Saya bahkan tidak tahu siapa Freire. Saya pulang dan Googling nama itu sambil panik.
Tiga bulan pertama, saya merasa seperti penipu -- seseorang yang seharusnya tidak ada di sini, yang suatu saat akan "ketahuan" tidak cukup pintar.
Semester 2: Titik Terendah
Di semester kedua, saya harus menulis disertasi 15.000 kata. Topik saya: implementasi literasi digital di sekolah-sekolah pedesaan Indonesia. Kedengarannya jelas, kan? Tapi prosesnya adalah neraka akademik.
Dosen pembimbing saya memberikan feedback yang membuat saya ingin menangis: "Your argument is not clear. Your methodology needs significant revision. Your literature review is too descriptive, not critical enough." Setiap feedback terasa seperti tamparan.
Ada satu malam di bulan April ketika saya serius mempertimbangkan untuk menyerah. Saya sudah tidak tidur 36 jam, deadline revisi besok pagi, dan saya baru sadar bahwa data riset saya punya masalah metodologis yang serius. Saya menelepon teman di Indonesia jam 3 pagi waktu UK (jam 10 pagi WIB) dan menangis di telepon.
Teman saya bilang sesuatu yang sederhana tapi powerfull: "Ingat kenapa kamu ada di sana. Ingat siapa yang membiayai kamu. Dan ingat siapa yang percaya kamu bisa."
Saya menyeka air mata, membuat kopi, dan kembali menulis sampai pagi.
Persiapan Wisuda: Yang Tidak Ada di Foto
Biaya Wisuda yang Tidak Murah
Ini yang jarang dibahas: wisuda di luar negeri itu mahal. Dan biayanya biasanya tidak ditanggung beasiswa. Berikut pengeluaran saya:
- Sewa jubah wisuda: GBP 45 (Rp900.000) -- ya, kamu harus SEWA, bukan dapat gratis
- Foto profesional: GBP 30-50 untuk paket foto (Rp600.000-1 juta)
- Tiket pesawat ibu dari Indonesia: Rp12 juta (Jakarta - Manchester PP)
- Akomodasi ibu selama 5 hari: GBP 250 untuk hotel budget (Rp5 juta)
- Makan dan transportasi selama ibu di Manchester: sekitar GBP 150 (Rp3 juta)
- Pakaian saya di balik jubah: GBP 40 untuk kemeja dan celana baru (Rp800.000)
Total: sekitar Rp22 juta untuk satu hari wisuda. Bagi banyak keluarga Indonesia, ini jumlah yang signifikan. Beberapa teman saya memilih tidak mengajak keluarga karena biayanya terlalu besar.
Drama Keluarga yang Datang
Mengajak ibu saya ke Manchester adalah proyek tersendiri. Beliau tidak pernah keluar negeri, tidak bisa bahasa Inggris, dan takut naik pesawat. Saya harus:
- Mengurus visa UK untuk beliau (proses 3 minggu, biaya sekitar Rp3,5 juta)
- Memesankan tiket pesawat dengan transit yang tidak terlalu rumit
- Membuat panduan perjalanan step-by-step dalam bahasa Indonesia
- Koordinasi dengan teman di Jakarta untuk mengantar beliau ke bandara
- Menjemput di Manchester Airport dengan jantung berdebar -- takut beliau tersesat di transit
Ketika ibu saya keluar dari arrival gate di Manchester Airport, dengan wajah lelah tapi mata berbinar, saya memeluknya dan kami menangis berdua di tengah bandara. Orang-orang di sekitar pasti mengira ada drama keluarga. Memang ada -- drama keluarga bahagia.
Hari H: Wisuda
Pagi hari wisuda, saya bangun jam 5 pagi meskipun acara dimulai jam 10. Terlalu excited untuk tidur.
Ibu saya sudah menyiapkan batik yang dia bawa dari Indonesia -- batik buatan tangan dari Pekalongan yang dia simpan khusus untuk hari ini. "Pakai ini di balik jubah," katanya. "Biar kamu ingat dari mana asalmu."
Prosesi yang Megah
Wisuda di universitas Inggris punya tradisi yang sangat formal dan megah. Di Bridgewater Hall, Manchester:
- Prosesi masuk diiringi musik organ
- Dosen dan profesor mengenakan jubah akademik warna-warni yang menunjukkan almamater dan bidang keahlian mereka
- Pidato dari Vice-Chancellor dan guest speaker
- Setiap wisudawan dipanggil satu per satu, berjalan melintasi panggung, berjabat tangan dengan Chancellor, dan menerima ijazah
"Ketika nama saya dipanggil -- dengan pronounciation yang agak meleset tapi cukup dekat -- saya berjalan melintasi panggung dengan kaki yang gemetar. Bukan karena gugup di depan orang. Tapi karena berat emosi dari seluruh perjalanan yang meledak di momen itu."
"Di panggung, saya sempat melihat ke arah penonton dan menemukan ibu saya. Beliau berdiri, melambaikan tangan kecil, dengan air mata mengalir. Di sebelahnya, teman-teman PPI UK yang datang mendukung mengangkat spanduk kecil bertuliskan 'MERDEKA!' -- inside joke kami sesama mahasiswa Indonesia."
"Detik ketika tangan saya menerima ijazah, yang terlintas bukan tentang nilai atau disertasi. Yang terlintas adalah wajah ibu yang bekerja keras membiayai saya sampai S1, guru-guru SMA yang mendorong saya untuk bermimpi besar, dan 8 kali penolakan beasiswa yang akhirnya berbuah manis. Semua itu terkemas dalam satu momen: 15 detik melintasi panggung."
Cerita Wisuda dari Mahasiswa Lain
Mega di Melbourne: Wisuda dengan Toga dan Hijab
"University of Melbourne sangat inklusif. Mereka bahkan punya panduan khusus untuk mahasiswa berhijab yang wisuda -- bagaimana memakai mortarboard di atas hijab. Saya wisuda dengan hijab warna maroon yang match dengan warna universitas. Foto saya memegang ijazah dengan Melbourne skyline di belakang menjadi foto profil LinkedIn saya sampai sekarang."
Adi di Tokyo: Wisuda ala Jepang
"Wisuda di universitas Jepang sangat berbeda dari Barat. Di University of Tsukuba, tidak ada jubah atau mortarboard. Saya mengenakan jas formal, menerima gulungan ijazah, dan membungkuk ke dosen pembimbing. Sederhana tapi sangat bermakna. Yang paling berkesan: dosen pembimbing saya -- profesor Jepang yang biasanya sangat formal -- menepuk bahu saya dan bilang dalam bahasa Indonesia yang patah-patah: 'Selamat, kamu sudah bekerja keras.' Ternyata beliau diam-diam belajar kalimat itu untuk saya."
Nadia di Leiden: Wisuda di Gereja Bersejarah
"Leiden University menyelenggarakan wisuda di Pieterskerk -- gereja abad ke-14 yang megah. Bayangkan: kamu duduk di kursi kayu tua yang sudah berusia ratusan tahun, di bawah langit-langit gothic yang menjulang tinggi, mendengar nama kamu dipanggil dengan gema yang memantul dari dinding batu. Rasanya seperti adegan di film Harry Potter, tapi ini nyata dan ini tentang kamu."
Setelah Wisuda: Mixed Feelings
Yang tidak banyak orang bicarakan: setelah wisuda, ada kekosongan yang aneh.
Selama 1-2 tahun, hidupmu punya struktur: kuliah, riset, deadline, ujian. Setelah wisuda, semua itu hilang. Kamu harus meninggalkan kota yang sudah menjadi rumah, berpisah dengan teman-teman yang sudah menjadi keluarga, dan menghadapi pertanyaan besar: "Sekarang apa?"
Beberapa teman mengalami post-graduation depression -- perasaan kosong dan kehilangan tujuan setelah achievement besar tercapai. Ini normal dan valid.
Saran saya: beri diri kamu waktu untuk merayakan sebelum memikirkan langkah selanjutnya. Kamu sudah berjuang keras. Momen ini milikmu. Nikmati.
Pesan untuk Kamu yang Sedang Berjuang
Kalau kamu sedang di tengah perjalanan beasiswa -- semester sulit, disertasi yang tidak selesai, impostor syndrome yang menghantui -- saya ingin bilang:
- Kamu lebih kuat dari yang kamu pikir. Setiap mahasiswa yang berdiri di panggung wisuda pernah merasa ingin menyerah. Mereka berhasil bukan karena mereka tidak pernah merasa lemah -- tapi karena mereka terus berjalan meskipun merasa lemah
- Minta bantuan. Dosen pembimbing, teman, konselor kampus -- mereka ada untuk membantu. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, itu tanda kecerdasan
- Ingat kenapa kamu di sini. Di saat-saat terberat, kembali ke alasan awal kamu menempuh beasiswa ini. Alasan itu adalah bahan bakarmu
- Hari wisuda itu akan datang. Mungkin terasa jauh sekarang, tapi akan datang. Dan ketika kamu berdiri di panggung itu, semua perjuangan akan terasa worth it
Sekarang, satu tahun setelah wisuda, saya sudah kembali di Indonesia, mengajar dan membangun program literasi yang saya impikan. Ijazah Manchester terpajang di dinding ruang kerja saya, berdampingan dengan foto wisuda bersama ibu. Setiap kali saya melihatnya, saya ingat: perjalanan itu berat, tapi hasilnya tak ternilai.
Komentar & Diskusi