Di Balik Setiap Unicorn Ada Sebuah Perjalanan Pendidikan
Indonesia adalah rumah bagi beberapa startup unicorn (valuasi di atas 1 miliar USD) yang mengubah cara hidup jutaan orang — dari transportasi online hingga e-commerce. Tetapi tahukah kamu bahwa di balik kesuksesan startup-startup ini, ada founder dan key people yang perjalanan hidupnya dimulai dari bangku kuliah di luar negeri — sebagian dengan beasiswa?
Artikel ini bukan sekadar daftar profil orang kaya. Ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan internasional — terutama yang didanai beasiswa — bisa menjadi benih yang menumbuhkan ide-ide bernilai miliaran dolar. Dari ruang kelas di Harvard hingga kantor Gojek, dari Purdue University hingga Traveloka — koneksi antara beasiswa dan startup unicorn jauh lebih erat dari yang kamu kira.
Nadiem Makarim — Gojek (Brown University, LSE, Harvard Business School)
Nadiem Anwar Makarim, pendiri Gojek sekaligus mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, memiliki riwayat pendidikan internasional yang sangat kuat:
Baca Juga:
SMA: United World College of Southeast Asia (UWC SEA), Singapura. UWC adalah jaringan sekolah internasional yang terkenal dengan program beasiswa dan keberagaman siswanya dari seluruh dunia.
S1: Brown University, AS — jurusan Hubungan Internasional (International Relations), lulus 2006. Brown adalah salah satu 8 universitas Ivy League di Amerika Serikat.
Program pertukaran: London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris — salah satu universitas ilmu sosial terbaik di dunia.
S2: Harvard Business School, AS — MBA (Master of Business Administration).
Setelah lulus dari Brown, Nadiem bekerja di McKinsey & Company sebagai konsultan manajemen selama 3 tahun. Pengalaman di McKinsey, dikombinasikan dengan pendidikan MBA di Harvard, memberikannya framework bisnis dan strategic thinking yang kemudian ia terapkan dalam membangun Gojek.
Koneksi pendidikan-startup: Di Harvard Business School, Nadiem terpapar dengan case studies tentang platform economy, two-sided marketplace, dan startup scaling. Ide Gojek — menghubungkan ojek dengan penumpang melalui aplikasi — lahir dari kombinasi pengalaman hidup di Jakarta, pendidikan bisnis di Harvard, dan pemahaman tentang potensi teknologi mobile. Gojek didirikan pada 2010 dan menjadi unicorn pertama Indonesia pada 2016, kini bernilai lebih dari 10 miliar USD.
Ferry Unardi — Traveloka (Purdue University, Harvard Business School)
Ferry Unardi, lahir pada 16 Januari 1988 di Padang, Sumatera Barat, adalah pendiri dan CEO Traveloka. Perjalanan pendidikannya adalah kisah inspiratif tentang bagaimana anak Indonesia dari kota kecil bisa sampai ke Harvard.
S1: Purdue University, Indiana, AS — jurusan Science and Engineering. Ferry merantau ke Amerika untuk kuliah S1 di Purdue, universitas negeri yang terkenal dengan program tekniknya.
Pengalaman kerja: Setelah lulus pada 2008, Ferry bekerja di Microsoft di Seattle selama 3 tahun, mendapatkan pengalaman berharga di perusahaan teknologi terbesar dunia.
S2: Harvard Business School, AS — MBA. Ferry mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Harvard Business School. Tetapi inilah yang membuat kisahnya unik: Ferry memutuskan untuk berhenti dari Harvard demi mendirikan Traveloka.
Koneksi pendidikan-startup: Ide Traveloka lahir dari pengalaman pribadi Ferry yang kesulitan mencari tiket pesawat murah saat bolak-balik antara AS dan Indonesia. Di Harvard, ia bertemu dengan Derianto Kusuma dan Albert Zhang — dua co-founder Traveloka yang juga memiliki background pendidikan internasional. Pada Oktober 2012, Traveloka resmi diluncurkan. Ferry meninggalkan Harvard untuk fokus penuh membangun bisnisnya. Keputusan ini membuahkan hasil: Traveloka menjadi unicorn dengan valuasi mencapai sekitar 26,2 triliun rupiah.
Pelajaran dari Ferry: Beasiswa membuka pintu ke Harvard, tetapi yang membuat Ferry sukses adalah keberanian untuk mengambil risiko — bahkan jika itu berarti meninggalkan kampus paling bergengsi di dunia. Pendidikan memberikan fondasi, tetapi eksekusi dan timing yang tepat mengubah ide menjadi unicorn.
Achmad Zaky — Bukalapak (ITB, Oregon State University)
Achmad Zaky, pendiri Bukalapak, memiliki perjalanan pendidikan yang sedikit berbeda dari Nadiem dan Ferry. Zaky adalah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Informatika (angkatan 2004), dan prestasinya membawa dia ke program pendidikan internasional.
Pengalaman internasional: Berkat prestasinya di bidang teknologi dan akademik, Zaky mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Oregon State University selama dua bulan pada 2008. Meskipun program ini relatif singkat, exposure ke ekosistem teknologi dan pendidikan Amerika memberikan Zaky perspektif baru tentang potensi e-commerce.
Pengalaman MUN: Zaky juga mewakili ITB di Harvard National Model United Nations pada 2009, memberikan pengalaman internasional dan networking di kalangan mahasiswa global.
Koneksi pendidikan-startup: Bukalapak didirikan pada 2010, tidak lama setelah pengalaman pendidikan internasional Zaky. Visi Bukalapak — memberdayakan UMKM Indonesia melalui platform e-commerce — mencerminkan pemahaman Zaky tentang bagaimana teknologi bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata di Indonesia. Bukalapak menjadi unicorn dan go public di Bursa Efek Indonesia pada 2021.
Setelah sukses dengan Bukalapak, Zaky mendirikan Achmad Zaky Foundation yang fokus pada pendidikan dan kewirausahaan. Ia juga mendirikan Cakrawala University, memberikan beasiswa kepada generasi muda yang berpotensi menjadi talenta digital. Ini menunjukkan bahwa founder yang pernah merasakan manfaat beasiswa cenderung memberikan kembali ke ekosistem pendidikan.
William Tanuwijaya — Tokopedia (Binus, Harvard Kennedy School)
William Tanuwijaya, co-founder Tokopedia (kini bagian dari GoTo Group), memiliki kisah perjalanan dari bawah yang sangat menginspirasi. Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, William menempuh S1 di Universitas Bina Nusantara (BINUS) jurusan Teknik Informatika.
Selama kuliah, William bekerja paruh waktu sebagai penjaga warnet selama 12 jam sehari untuk membiayai kuliah dan kehidupannya. Pengalaman di warnet inilah yang memberikannya pemahaman mendalam tentang potensi internet di Indonesia. Ia lulus dari BINUS pada 2003.
Setelah Tokopedia sukses, William kemudian mengikuti program di Harvard Kennedy School, memperdalam pengetahuan tentang kebijakan publik dan leadership. Perjalanan William menunjukkan bahwa pendidikan dan exposure internasional tidak selalu harus di awal karir — bisa juga di tengah atau setelah mencapai kesuksesan.
Koneksi pendidikan-startup: Tokopedia didirikan pada 2009 oleh William bersama Leontinus Alpha Edison. William menggabungkan keahlian teknis dari BINUS dengan pemahaman pasar Indonesia untuk membangun platform e-commerce yang kini menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Pola yang Menghubungkan Beasiswa dan Startup
Dari profil-profil di atas, ada beberapa pola menarik yang bisa kita identifikasi:
1. Pendidikan internasional membuka perspektif global. Nadiem di Harvard melihat bagaimana platform economy mengubah industri di Amerika. Ferry di Purdue dan Harvard memahami bagaimana teknologi bisa memecahkan masalah sehari-hari. Pengalaman ini memberikan mereka "lensa" untuk melihat peluang di Indonesia yang tidak terlihat dari dalam.
2. Network dari kampus menjadi co-founder dan investor. Ferry bertemu co-founder Traveloka di Harvard. Nadiem membangun network di McKinsey dan Harvard yang kemudian menjadi investor dan advisor Gojek. Di dunia startup, network adalah aset yang tak ternilai — dan kampus internasional adalah tempat terbaik untuk membangunnya.
3. Beasiswa sebagai equalizer. Tidak semua founder unicorn berasal dari keluarga kaya. Ferry Unardi dari Padang, Achmad Zaky dari Sragen, William Tanuwijaya dari Pematangsiantar — beasiswa dan pendidikan berkualitas memberikan mereka kesempatan yang setara dengan siapa pun di dunia.
4. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Ferry meninggalkan Harvard untuk membangun Traveloka. Nadiem meninggalkan McKinsey untuk mendirikan Gojek. Pendidikan memberikan fondasi, tetapi keberanian untuk mengambil risiko adalah yang mengubah segalanya.
Pendidikan Founder Startup Lainnya di Indonesia
Ahmad Alkatiri — Co-founder Gojek: Lulusan Northwestern University, AS.
Kevin Aluwi — Co-CEO Gojek: Lulusan University of Oregon, AS, jurusan Business Administration.
Belva Devara — Founder Ruangguru: Lulusan Harvard Kennedy School dan Stanford Graduate School of Business. Belva meraih beasiswa untuk program MPA di Harvard dan MBA di Stanford.
Iman Usman — Co-founder Ruangguru: Lulusan Columbia University dan Harvard Graduate School of Education. Iman mendapatkan beasiswa LPDP.
Apa yang Bisa Kamu Pelajari?
Jika kamu bermimpi mendirikan startup yang mengubah Indonesia, berikut takeaway dari artikel ini:
1. Pendidikan internasional bukan keharusan, tetapi keuntungan besar. Tidak semua founder sukses kuliah di luar negeri — William Tanuwijaya memulai dari BINUS dan warnet. Tetapi bagi yang punya kesempatan, pendidikan internasional memberikan perspektif, network, dan kredibilitas yang sangat berharga.
2. Beasiswa adalah investasi, bukan charity. Setiap rupiah yang diinvestasikan pemerintah untuk beasiswa pendidikan bisa menghasilkan return yang luar biasa — dalam bentuk startup, lapangan kerja, dan inovasi yang mengubah industri. Ini seharusnya memotivasi kamu untuk mendaftar tanpa rasa malu atau sungkan.
3. Kombinasikan ilmu dengan pengalaman lokal. Semua unicorn Indonesia memecahkan masalah lokal Indonesia dengan pendekatan yang diinformasikan oleh pengalaman global. Pendidikan di luar negeri paling berharga ketika dikombinasikan dengan pemahaman mendalam tentang konteks Indonesia.
4. Jangan tunda untuk memulai. Ferry mendirikan Traveloka saat masih di Harvard. Nadiem mendirikan Gojek setelah kembali dari Harvard. Zaky mendirikan Bukalapak setelah lulus ITB. Tidak ada waktu yang "sempurna" untuk memulai — yang penting mulai.
Penutup: Dari Application Beasiswa ke Unicorn
Kisah Nadiem, Ferry, Zaky, dan William menunjukkan satu hal yang jelas: jalan menuju unicorn sering dimulai dari sebuah application — entah itu application beasiswa, application kuliah, atau application kerja. Setiap langkah kecil dalam perjalanan pendidikan bisa berujung pada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan.
Unicorn Indonesia berikutnya mungkin dimulai dari seorang mahasiswa yang sedang membaca artikel ini — seseorang yang akan mendaftar beasiswa, kuliah di universitas top dunia, membangun network, dan kembali ke Indonesia dengan ide yang mengubah jutaan kehidupan.
Apakah itu kamu?
Temukan beasiswa yang cocok untukmu di beasiswa.net/daftar
Komentar & Diskusi