Surat Pertama
Dari: Aku yang sekarang, duduk di perpustakaan University of Edinburgh, Skotlandia
Kepada: Aku yang dulu, terbaring di kasur kamar kost di Yogyakarta, baru saja ditolak LPDP untuk ketiga kalinya
Dear aku yang sedang frustasi,
Aku tahu kamu sedang di titik terendah. Aku tahu karena aku pernah menjadi kamu.
Baca Juga:
Kamu baru membuka email penolakan LPDP yang ketiga. Layar HP-mu buram karena air mata. Di grup WhatsApp, teman-temanmu posting surat penerimaan mereka dengan caption "Alhamdulillah" dan emoji pesawat. Dan kamu? Kamu menatap langit-langit kamar kost, bertanya pada diri sendiri: "Apa yang salah dengan aku?"
Aku mau bilang sesuatu yang mungkin tidak bisa kamu terima sekarang, tapi suatu hari kamu akan mengerti:
Tidak ada yang salah denganmu. Waktunya saja yang belum tepat.
Yang Aku Harap Aku Tahu tentang Penolakan
Kamu pikir penolakan berarti kamu tidak cukup baik. Kamu salah.
Penolakan LPDP yang ketiga membuatmu merasa hancur. Tapi tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi? Kamu bersaing dengan 20.000+ pelamar untuk beberapa ribu slot. Matematikanya saja sudah menjelaskan bahwa BANYAK orang hebat yang akan ditolak.
Yang tidak kamu tahu saat ini: penolakan-penolakan itu sedang mempersiapkanmu. Setiap essay yang kamu tulis membuatmu lebih baik dalam menulis. Setiap interview yang gagal mengajarkanmu cara berbicara dengan lebih meyakinkan. Setiap penolakan membentuk tekadmu menjadi lebih keras.
Dua tahun dari sekarang, kamu akan duduk di depan panel interview Chevening, dan kamu akan menjawab pertanyaan mereka dengan ketenangan dan kedalaman yang hanya bisa datang dari seseorang yang sudah jatuh berkali-kali dan bangkit lagi. Dan mereka akan terkesan. Bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu AUTENTIK.
Yang Aku Harap Aku Tahu tentang Proses
Kamu sekarang terlalu fokus pada HASIL. Diterima atau ditolak. Lolos atau gagal. Hitam atau putih.
Saran dari aku yang lebih tua: nikmati prosesnya. Ya, aku tahu ini terdengar klise dan menyebalkan. Tapi dengarkan.
Proses menulis essay memaksamu untuk merefleksikan hidupmu — siapa kamu, apa yang kamu perjuangkan, ke mana kamu mau pergi. Banyak orang menjalani hidup tanpa pernah bertanya pertanyaan-pertanyaan ini. Kamu dipaksa bertanya, dan itu HADIAH.
Proses belajar bahasa Inggris membukakan pintu ke dunia literatur, podcast, dan perspektif yang tidak tersedia dalam bahasa Indonesia. Itu HADIAH juga.
Proses networking dengan alumni memperkenalkanmu pada orang-orang luar biasa yang akan menjadi temanmu seumur hidup. Itu HADIAH yang tidak ternilai.
Jadi berhenti mengejar hasil. Hargai prosesnya.
Yang Aku Harap Aku Tahu tentang Perbandingan
Kamu suka membandingkan dirimu dengan orang lain. Aku tahu karena aku juga dulu begitu.
"Si A sudah diterima. Si B sudah berangkat. Si C sudah posting foto di Eropa. Aku masih di sini."
Berhenti. Kamu tidak tahu cerita lengkap mereka. Kamu tidak tahu berapa kali mereka ditolak sebelumnya. Kamu tidak tahu berapa malam mereka menangis. Kamu tidak tahu apa yang mereka korbankan.
Dan yang lebih penting: timeline mereka bukan timeline-mu. Bunga mekar di musim yang berbeda-beda. Tidak ada bunga yang "terlambat" mekar — dia hanya mekar di waktunya sendiri.
Yang Aku Harap Aku Tahu tentang Diri Sendiri
Kamu menghabiskan terlalu banyak energi untuk merasa tidak cukup. Tidak cukup pintar. Tidak cukup berpengalaman. Tidak cukup fasih berbahasa Inggris. Tidak cukup "wah."
Aku mau memberitahumu sesuatu: kamu LEBIH dari cukup.
Pengalamanmu 3 tahun mengajar di sekolah pelosok? Itu luar biasa. Kamu membawa cahaya ke tempat yang gelap. Tidak banyak orang yang melakukan itu.
Kemampuanmu bertahan di kota besar dengan gaji kecil, mengirim uang pulang ke orangtua, sambil tetap belajar dan bermimpi? Itu KEKUATAN yang tidak dimiliki banyak orang.
Hatimu yang masih lembut meskipun hidup sudah keras padamu? Itu KEINDAHAN yang panel seleksi akan lihat dan hargai.
Kamu pikir kelemahanmu adalah penghambat. Suatu hari kamu akan sadar: kelemahanmu adalah bagian dari cerita yang membuatmu unik.
Yang Aku Harap Aku Lakukan Berbeda
Aku tidak sempurna. Dan ada hal-hal yang aku harap aku lakukan berbeda:
1. Jangan Isolasi Diri
Setelah ditolak ketiga kalinya, kamu akan mengunci diri di kamar kost selama 2 minggu. Kamu akan menolak ajakan teman. Kamu akan merasa dunia runtuh.
Jangan lakukan itu. Keluarlah. Bicara dengan seseorang. Menangis di depan teman itu tidak memalukan — itu manusiawi. Isolasi hanya membuat segalanya lebih buruk.
2. Minta Bantuan Lebih Awal
Kamu terlalu bangga untuk minta tolong. Kamu menulis essay sendirian, tidak pernah minta review. Kamu menghadapi interview tanpa latihan dengan siapapun.
Saran: MINTA BANTUAN. Gabung komunitas beasiswa. Minta alumni review essay-mu. Latihan interview dengan teman. Kamu tidak harus melakukan ini sendirian.
3. Jaga Kesehatanmu
Di masa-masa terburuk, kamu akan lupa makan, lupa tidur, lupa olahraga. Tubuhmu akan protes — kamu akan sakit. Dan saat sakit, semuanya terasa lebih gelap.
Tubuh dan pikiran itu terhubung. Jaga tubuhmu, dan pikiranmu akan lebih kuat menghadapi penolakan.
4. Tulis Jurnal
Aku berharap aku menulis jurnal selama proses itu. Karena sekarang, di Edinburgh, ketika aku mencoba mengingat perasaan-perasaan itu, detailnya sudah kabur. Dan detail itu penting — bukan untuk dikenang dengan sedih, tapi untuk mengingatkan betapa jauhnya aku sudah berjalan.
Sekarang, dari Edinburgh
Aku menulis surat ini dari pojok perpustakaan favoritku di Edinburgh. Di luar, salju turun pelan. Mahasiswa-mahasiswa berjalan dengan coffee di tangan. Dan aku duduk di sini, laptop terbuka, surat untukmu di layar.
Hidupku di sini tidak sempurna. Ada hari-hari sulit. Ada malam-malam sepi. Ada momen di mana impostor syndrome berbisik: "Kamu tidak seharusnya di sini."
Tapi ada juga momen-momen ajaib. Pertama kali paper-ku di-accept di konferensi internasional. Pertama kali aku presentasi tanpa grogi. Persahabatan dengan orang-orang dari seluruh dunia yang tidak pernah aku bayangkan. Dan video call dengan ibu setiap Minggu malam, di mana beliau selalu bilang: "Ibu bangga sama kamu, Nak."
Semua ini terjadi karena kamu — aku yang dulu — tidak menyerah setelah penolakan ketiga. Karena kamu bangkit lagi. Karena kamu menulis essay keempat, kelima, kesepuluh.
Pesan Terakhir
Jadi ini pesanku untukmu, untuk aku yang sedang terbaring di kamar kost dengan email penolakan di layar:
Bangun. Cuci muka. Makan. Keluar kamar. Dan mulai menulis essay berikutnya. Bukan karena kamu yakin akan lolos. Tapi karena proses menulisnya sendiri sedang mengubahmu menjadi orang yang LAYAK untuk lolos. Setiap penolakan bukan akhir cerita. Setiap penolakan adalah BAB baru. Dan babmu yang paling indah belum ditulis.
Dengan cinta dari masa depanmu,
Aku yang sekarang
P.S. Warung kopi di depan kost-mu itu? Yang sering kamu datangi waktu sedih? Simpan kenangan itu baik-baik. Suatu hari, kamu akan duduk di coffee shop di Edinburgh, dan kamu akan rindu warung kopi itu lebih dari apapun di dunia.
P.P.S. Ibu baik-baik saja. Beliau sehat. Dan beliau lebih bangga padamu dari yang bisa kamu bayangkan.
Komentar & Diskusi