Pengalaman 5 menit baca

Anak Indonesia di Balik Vaksin COVID: Kisah yang Harus Kamu Tahu

Dari laboratorium Oxford hingga WHO — ilmuwan Indonesia menyelamatkan jutaan nyawa lewat beasiswa dan kerja keras


· 1808 views

Ketika Dunia Butuh Vaksin, Ada Anak Indonesia di Balik Layar

Tahun 2020, dunia berhenti. COVID-19 merenggut jutaan nyawa, ekonomi lumpuh, dan satu pertanyaan menghantui seluruh umat manusia: kapan vaksinnya datang? Yang banyak orang tidak tahu — di balik salah satu vaksin terpenting dalam sejarah, ada anak Indonesia yang bekerja 18 jam sehari di laboratorium Oxford, Inggris.

Ini bukan cerita fiksi. Ini kisah nyata tentang bagaimana beasiswa, tekad, dan kecintaan pada sains bisa menyelamatkan jutaan nyawa.

Carina Citra Dewi Joe: Pemilik Paten Vaksin AstraZeneca

Nama Carina Joe mungkin tidak sepopuler artis atau politisi. Tapi namanya terukir dalam sejarah kedokteran dunia sebagai salah satu pemilik hak paten vaksin Oxford-AstraZeneca — vaksin yang digunakan di lebih dari 170 negara.

Lahir di Jakarta, Carina menempuh pendidikan master dan doktoral di bidang bioteknologi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia. Selama studi, ia magang di Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), lembaga riset terbesar Australia, di divisi manufaktur skala besar untuk protein rekombinan dan antibodi monoklonal terapeutik.

Pada 2019, Carina bergabung dengan Jenner Institute di University of Oxford — salah satu pusat riset vaksin terkemuka dunia. Ketika pandemi melanda, Carina menjadi bagian dari tim yang berlomba dengan waktu.

Kontribusi utamanya: mengembangkan metode produksi massal vaksin. Ia berhasil meningkatkan hasil produksi hingga 10 kali lipat dari proses sebelumnya — terobosan yang memungkinkan vaksin diproduksi dalam skala miliaran dosis. Tanpa penemuan ini, distribusi vaksin ke seluruh dunia akan jauh lebih lambat.

Bayangkan: seorang anak Jakarta, bekerja sendirian di laboratorium hingga 18 jam sehari, menguji formula demi formula. Dan hasilnya menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia — termasuk di Indonesia.

Dr. Ines Atmosukarto: Ilmuwan Vaksin dari Keluarga Saintis

Kecintaan Ines Atmosukarto pada sains bukan kebetulan. Ayahnya seorang insinyur, ibunya ahli fisika nuklir, dan kakeknya juga ilmuwan. Sains mengalir dalam darahnya.

Ines meraih Bachelor of Science dengan First Class Honours di bidang Biokimia dari University of Adelaide pada 1995, lalu melanjutkan PhD di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler. Karirnya membawanya ke John Curtin School of Medical Research di Australian National University (ANU) dan kemudian menjadi CEO Lipotek Pty Ltd — perusahaan yang mengembangkan teknologi vaksin dan pengobatan kanker.

Pada 2004, Ines menjadi salah satu dari lima perempuan di dunia yang menerima UNESCO L'Oreal Fellowship for Women in Science. Tiga tahun kemudian, ia mendapat Femina Award sebagai salah satu dari 35 perempuan profesional top di bidangnya.

Selama pandemi COVID-19, Ines menjadi suara penting dalam diskusi publik tentang pengembangan vaksin dan tantangan vaksinasi Indonesia. Keahliannya membantu masyarakat memahami sains di balik vaksin dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang.

Prof. Adi Utarini: Pahlawan Kesehatan dari Yogyakarta

Meskipun fokus risetnya bukan COVID secara langsung, Prof. Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada layak disebut sebagai pahlawan kesehatan Indonesia yang diakui dunia.

Adi Utarini memimpin uji klinis perintis teknologi Wolbachia untuk memberantas demam berdarah — penyakit yang membunuh ribuan orang Indonesia setiap tahun. Timnya berhasil mengurangi kasus demam berdarah hingga 77 persen di beberapa kota besar Indonesia.

Pencapaiannya membuatnya masuk dalam daftar Nature's 10 pada 2020 — sepuluh orang yang membentuk sains dunia menurut jurnal Nature, salah satu jurnal ilmiah paling bergengsi di planet ini. Pada 2021, TIME Magazine memasukkannya dalam daftar 100 Most Influential People — sejajar dengan presiden, CEO, dan tokoh dunia lainnya.

Adi Utarini membuktikan bahwa ilmuwan Indonesia tidak hanya bisa bersaing di level dunia — mereka bisa memimpin.

IndoVac: Ketika Indonesia Membuat Vaksinnya Sendiri

Indonesia tidak hanya mengirim ilmuwan ke luar negeri. Indonesia juga membuktikan kemampuan dalam negeri. IndoVac, vaksin COVID-19 yang dikembangkan bersama oleh Bio Farma dan Baylor College of Medicine di Houston, Texas, diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai bukti bahwa Indonesia bisa mandiri dalam produksi vaksin.

Banyak ilmuwan yang terlibat dalam proyek ini adalah alumni beasiswa — mereka yang belajar di luar negeri, menguasai teknologi terdepan, lalu pulang untuk membangun Indonesia.

Pelajaran untuk Pencari Beasiswa

Ada benang merah dari semua kisah di atas:

Pertama, beasiswa membuka pintu. Carina Joe belajar di Australia. Ines Atmosukarto memulai di University of Adelaide. Tanpa akses pendidikan berkualitas — yang sering dimungkinkan oleh beasiswa — kontribusi mereka mungkin tidak pernah terwujud.

Kedua, ilmu yang dipelajari bisa menyelamatkan nyawa. Ini bukan hiperbola. Vaksin AstraZeneca secara harfiah menyelamatkan jutaan nyawa. Dan ada anak Indonesia di balik proses produksinya.

Ketiga, Indonesia butuh lebih banyak Carina dan Ines. Pandemi berikutnya bukan soal apakah, tapi kapan. Indonesia butuh ilmuwan yang siap — dan itu dimulai dari kamu yang sekarang sedang membaca artikel ini.

Beasiswa Bukan Cuma untuk Diri Sendiri

Ketika kamu menulis motivation letter, kamu mungkin berpikir tentang karir, gaji, atau prestise. Tapi kisah para pahlawan vaksin Indonesia mengingatkan kita bahwa beasiswa punya dimensi yang jauh lebih besar.

Carina Joe tidak belajar di Oxford untuk dirinya sendiri. Ia belajar karena ingin berkontribusi pada sains — dan kontribusinya menyelamatkan jutaan nyawa di 170 negara.

Ines Atmosukarto tidak meraih PhD untuk menambah gelar di kartu nama. Ia melakukannya karena percaya bahwa vaksin bisa mengubah dunia — dan ia benar.

Adi Utarini tidak riset selama bertahun-tahun untuk publikasi jurnal semata. Ia melakukannya karena anak-anak Indonesia terus meninggal karena demam berdarah — dan ia ingin menghentikannya.

Beasiswa bukan cuma untuk diri sendiri — tapi untuk menyelamatkan jutaan nyawa.

Jadi, ketika kamu ragu untuk apply beasiswa, ingat: mungkin suatu hari nanti, ilmu yang kamu pelajari akan menyelamatkan seseorang. Mungkin jutaan orang. Dan semuanya dimulai dari satu aplikasi beasiswa.

Mulai perjalanan beasiswa kamu di beasiswa.net/daftar.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...