Pengalaman 8 menit baca

15 Ulah Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri yang Bikin Bule Heran

Dari fire alarm bunyi gara-gara goreng sambal sampai nawar harga di flea market Eropa


· 1813 views

Kita Memang Beda, dan Itu Indah (Kadang Bikin Malu Juga Sih)

Kalau lo pernah kuliah di luar negeri dengan beasiswa, atau kenal seseorang yang pernah, pasti lo tahu: mahasiswa Indonesia itu spesies unik. Kita punya kebiasaan-kebiasaan yang bikin teman internasional kita antara kagum, bingung, atau geleng-geleng kepala. Dan jujur? Kita juga kadang malu sendiri. Tapi ya sudahlah, namanya juga anak rantau.

Berikut 15 ulah mahasiswa Indonesia di luar negeri yang universal banget — mau lo di Jepang, Jerman, Australia, atau bahkan di pelosok Finlandia — pasti relate.

1. Masak Nasi Pakai Rice Cooker di Kamar Asrama (Sampai Fire Alarm Bunyi)

Ini klasik. Setiap angkatan pasti ada minimal satu orang yang bikin fire alarm bunyi karena masak di kamar. Bukan cuma nasi — goreng bawang, goreng sambal, bahkan ada yang nekat goreng tempe pakai wajan kecil dan kompor portable yang sebenarnya dilarang.

Cerita nyata: seorang mahasiswa Indonesia di Sheffield, UK, bikin seluruh gedung asrama dievakuasi jam 11 malam karena masak rendang. Security datang, dia bilang, "Sorry, I was just making... Indonesian soup." Rendang = soup? Ya sudahlah, yang penting tidak kena denda.

Pro tip: kalau mau masak yang berbau kuat, buka jendela, nyalakan exhaust fan, dan taruh handuk basah di bawah pintu. Survival skill dasar mahasiswa Indonesia.

2. Bawa Sambal ABC dan Indomie Satu Koper Penuh

Koper pertama: baju secukupnya, dokumen, laptop. Koper kedua: 20 bungkus Indomie, 5 botol sambal ABC, kecap manis, bumbu rendang instan, kerupuk, dan Tolak Angin. Prioritas jelas.

Gue pernah lihat mahasiswa yang bawa 30kg Indomie dan cuma 10kg baju. Ketika ditanya, dia bilang, "Baju bisa beli di sana, Indomie goreng rasa original belum tentu ada." Valid point, sih.

Yang bikin lucu: customs kadang bingung. "What is this?" — "Instant noodles." — "ALL of this?" — "...Yes." Tatapan judgmental petugas bandara sudah jadi ritual tahunan mahasiswa Indonesia.

3. Nawar Harga di Flea Market Eropa

Naluri berbisnis orang Indonesia tidak bisa dimatikan hanya karena pindah benua. Di flea market Amsterdam, mahasiswa Indonesia dengan percaya diri: "Five euros? I give you three." Penjualnya melongo karena di Eropa, harga di flea market itu biasanya sudah final.

Tapi kadang berhasil! Dan kalau berhasil, rasanya seperti menang Olimpiade. Langsung cerita di grup WA: "Gue nawar jaket €30 jadi €15 di pasar loak Berlin!" Replies: 20 emoji tepuk tangan.

4. Bilang "Ya Nanti" Tapi Maksudnya "Tidak"

Ini yang paling bikin teman internasional frustrasi. "Can you come to my party Saturday?" — "Ya, nanti ya, insya Allah." Terjemahan sebenarnya: 80% kemungkinan tidak datang.

Orang Indonesia memang terkenal tidak bisa bilang "tidak" langsung. Kita lebih memilih jawaban ambigu yang menurut kita sopan, tapi menurut orang Barat itu membingungkan. Seorang teman dari Belanda pernah bilang, "I've learned that when my Indonesian friends say 'maybe', it means 'no'. When they say 'yes', it means 'maybe'. And when they say 'definitely', it means 'maybe yes'." Akurat banget, anjir.

5. Rubber Time di Acara PPI

Acara PPI jam 10.00? Yang datang jam 10: panitia (itu pun belum semua). Jam 10.30: mulai ada yang muncul. Jam 11.00: "Yuk mulai aja, yang lain nyusul." Mahasiswa Indonesia membawa jam karet ke mana pun mereka pergi.

Yang lucu, kalau acara kolaborasi dengan mahasiswa internasional, kita mendadak bisa tepat waktu. Tapi kalau sesama Indonesia? "Santai aja, yang lain juga belum datang." Lingkaran setan yang indah.

6. Selalu Cari Masjid/Musholla Bahkan di Kota Kecil

Baru sampai di kota kecil di Eropa Timur? Belum cari apartemen, belum daftar ulang ke universitas, tapi sudah googling "mosque near me". Dan kalau tidak ada masjid? Cari aula, ruangan kosong, atau bahkan pojok perpustakaan yang sepi untuk sholat.

Komunitas Muslim Indonesia di luar negeri itu solid banget. Di kota sekecil apa pun, kalau ada 3 orang Indonesia Muslim, pasti ada pengajian rutin. Biasanya di apartemen seseorang, potluck, dan setelah pengajian ya ngobrol sampai tengah malam.

7. Foto di Depan SEMUA Landmark

Eiffel Tower? Foto. Colosseum? Foto. Big Ben? Foto. Patung kecil di taman yang tidak ada di Google Maps? FOTO.

Dan bukan cuma selfie. Kita butuh foto dari minimal 5 angle berbeda, lalu minta orang lewat untuk fotoin kita — "One more, please? Can you take from this angle?" Orang asing yang dimintain tolong kadang sampai bingung karena kita minta difotoin berkali-kali.

Tujuannya? Tentu saja untuk dipost di Instagram dengan caption "Alhamdulillah, rezeki anak beasiswa" dan dikirim ke grup keluarga. Mama harus tahu anaknya baik-baik saja (dan sedang berpose di depan menara terkenal).

8. Group WhatsApp PPI yang Isinya "Ada yang Jual Indomie?"

Setiap negara punya grup WA PPI. Dan kontennya universal: 40% jual-beli makanan Indonesia, 30% info beasiswa dan administrasi, 20% drama organisasi, 10% meme. Pesan paling populer sepanjang masa: "Ada yang jual Indomie?" dan "Ada yang mau nitip barang dari Indo?"

Grup WA PPI itu seperti marketplace, forum, dan sinetron digabung jadi satu. Drama-nya sudah level telenovela (kita bahas lebih detail di artikel terpisah, wkwk).

9. Masak Rendang di Dapur Bersama — Baunya Sampai 3 Lantai

Rendang itu membutuhkan waktu masak 4-6 jam. Bayangkan aroma rempah-rempah — serai, lengkuas, cabai, santan — menguar selama 6 jam di student housing Eropa yang ventilasinya standar. Hasilnya: bau rendang sampai ke lorong, naik ke lantai 2, dan kadang sampai lantai 3.

Reaksi tetangga bervariasi. Ada yang ketuk pintu dan bilang, "It smells amazing, what are you cooking?" (ini yang baik). Ada juga yang pasang catatan di dapur bersama: "Please be mindful of strong cooking smells" (ini yang pasif-agresif ala Eropa).

Tapi ya, kita tetap masak rendang. Karena rendang itu bukan makanan. Rendang itu identitas.

10. Nonton Bareng Timnas di Dini Hari

AFF Cup, kualifikasi Piala Dunia, atau bahkan friendly match yang tidak penting — kalau timnas main, mahasiswa Indonesia kumpul. Di London, jam 2 pagi, di apartemen sempit, 15 orang duduk lesehan nonton streaming (yang buffer setiap 5 menit) sambil makan Indomie.

Yang lebih absurd: kita teriak-teriak di jam 3 pagi di negara yang tetangganya tidur jam 9 malam. "GOOOLLL!" di Jerman jam 3 pagi itu bisa bikin tetangga memanggil polisi. Tapi worth it. Semangat nasionalisme tidak kenal zona waktu.

11. Bilang "Tidak Pedas" Padahal Tamu Bule Kepedasan

"Try this, it's not spicy." Teman bule percaya, makan satu suap, langsung merah mukanya, keringatan, dan nyari air. Kita? Ketawa. "Oh sorry, for Indonesian standard it's not spicy."

Level pedas orang Indonesia itu memang berbeda dimensi. Yang kita anggap "sedikit pedas" itu di skala internasional sudah masuk kategori "extreme". Satu cabai rawit yang kita anggap garnish, buat orang Eropa itu senjata biologis. Tapi justru ini jadi ice breaker yang ampuh — semua orang ingat momen mereka "ditipu" makan sambal Indonesia.

12. Selalu Bawa Oleh-Oleh: Kopi, Batik, Kerupuk

Setiap kali pulang dari Indonesia, koper kita penuh oleh-oleh. Bukan untuk diri sendiri — untuk dibagikan ke teman, professor, tetangga. Kopi Toraja untuk professor pembimbing, batik untuk teman sekelas, kerupuk untuk teman satu flat.

Ini sebenarnya kebiasaan yang bikin orang asing kagum. "Your culture of gift-giving is so beautiful," kata teman dari Swedia. Ya, memang indah — walau kadang koper kita sampai overweight dan bayar excess baggage lebih mahal dari oleh-olehnya.

13. Panic Buying Indomie Saat Ada yang Pulang dari Indonesia

"GUYS, Andi pulang dari Indo minggu depan! Siapa mau titip Indomie?" Dalam 1 jam, list-nya sudah: Indomie goreng x20, Indomie soto x10, Indomie rendang x15, Indomie ayam bawang x10. Andi yang tadinya bawa koper sendiri, sekarang harus sewa koper tambahan.

Panic buying Indomie itu real. Apalagi kalau stok di Asian grocery store sedang kosong. Situasinya bisa jadi darurat nasional level PPI. "Indomie di Toko Azia habis" bisa jadi berita utama di grup WA.

14. Bikin Arisan di Luar Negeri

Orang Indonesia itu di mana pun tetap bikin arisan. Di Tokyo, London, Sydney, Berlin — pasti ada arisan. Bedanya, kalau di Indonesia arisan pakai rupiah, di luar negeri pakai euro, yen, atau pound. Dan meeting arisan-nya bukan di rumah Bu RT tapi di apartemen seseorang sambil makan nasi goreng.

Arisan di luar negeri itu bukan cuma soal uang. Itu ritual sosial. Tempat curhat, tempat gosip, tempat tukar resep masakan, dan tempat jual makanan frozen buatan sendiri. Multifungsi.

15. Ajari Teman Internasional Bilang "Anjay" Tanpa Tahu Artinya

"Hey, repeat after me: ANN-JAY." Teman bule nurut. "Anjay!" — "Great! Now say it when you're surprised." Dan begitulah seorang mahasiswa Jerman mulai bilang "anjay" setiap kali kaget, tanpa tahu bahwa kata itu... well, kontroversial.

Kita juga suka mengajarkan "gila lu", "mantap", dan "wkwk". Bayangkan chat dari mahasiswa Korea: "Wkwk that was fun!" Berhasil. Misi diplomasi budaya Indonesia melalui slang berhasil dilaksanakan.

Penutup: Kita Memang Unik, dan Itu Kekuatan Kita

Semua "ulah" di atas bukan kelemahan. Itu identitas. Di tengah tekanan akademik, homesickness, dan tantangan hidup di negeri orang, kebiasaan-kebiasaan ini yang bikin kita tetap waras. Rice cooker di kamar? Itu survival. Indomie satu koper? Itu cinta tanah air. Jam karet? Okay, yang itu memang harus diperbaiki, wkwk.

Tapi serius — mahasiswa Indonesia di luar negeri itu spesial. Kita adaptif, hangat, dan selalu bawa semangat gotong royong ke mana pun kita pergi. Dan kalau ada satu hal yang bisa menyatukan semua mahasiswa Indonesia di seluruh dunia, itu bukan ideologi atau politik. Itu Indomie goreng.

Jadi, yang mana yang paling lo banget? Share ke grup WA PPI-mu dan lihat siapa yang paling merasa tertohok. Wkwk.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...