Pengalaman 6 menit baca

Umur 30, Saya Resign dari Gaji 25 Juta untuk Ambil Beasiswa — Gila atau Berani?

Dari comfort zone gaji dua digit ke stipend Rp8 juta/bulan — 2 tahun yang mempertaruhkan segalanya


· 1481 views

Email Resign yang Paling Sulit Saya Tulis

Tanggal 15 Maret 2024. Saya duduk di depan laptop di kantor lantai 22 gedung perkantoran di Sudirman. Di layar: email resign yang sudah saya draft 7 kali dalam 3 bulan terakhir.

Posisi saya: Senior Associate di consulting firm. Gaji: Rp25 juta per bulan plus bonus tahunan. Umur: 30 tahun. Karir stabil, rekening bank aman, jenjang karir jelas. Di mata semua orang, saya sudah "berhasil."

Yang mereka tidak tahu: setiap Minggu malam, saya merasakan dread yang semakin besar menghadapi Senin. Bukan karena pekerjaan buruk — tapi karena saya tahu ada sesuatu yang hilang.

Klik. Send. Resign. Untuk beasiswa yang stipend-nya sepertiga gaji saya.

Kenapa Resign di Puncak Karir?

Saya lulus S1 Ekonomi dari universitas swasta di Jakarta, umur 22. Langsung kerja. 8 tahun naik dari junior analyst ke senior associate. Gaji naik dari Rp5 juta ke Rp25 juta. Secara linear, karir saya sukses.

Tapi di tahun ke-6, saya mulai merasakan: saya tumbuh secara vertikal tapi tidak horizontal. Skill saya sangat spesifik — financial modelling, due diligence, market analysis. Semua untuk kepentingan klien korporat. Saya ahli di satu lorong kecil dan buta terhadap seluruh bangunan.

Saya ingin transisi ke development economics — bidang yang mempertemukan ekonomi dengan dampak sosial. Bidang yang butuh gelar S2 dari institusi yang diakui secara internasional.

Dan saya ingin belajar, bukan cuma mengambil gelar. Belajar sungguhan — 2 tahun full-time, tenggelam dalam literatur, debat, riset.

Beasiswa: AAS ke Australia

Saya apply ke Australia Awards Scholarship (AAS) untuk S2 Development Economics di universitas di Melbourne. AAS dipilih karena:

  • Fully funded: tuition, living allowance, tiket pesawat, asuransi
  • Living allowance-nya cukup untuk hidup di Australia (walau ketat)
  • Program S2 yang saya incar ada di universitas partner AAS
  • Tidak ada batasan umur (krusial di umur 30)

Proses seleksi AAS panjang: short-listing berdasarkan dokumen, IELTS, interview. Total dari submit aplikasi sampai pengumuman: sekitar 8 bulan.

Saya apply sambil masih kerja. Persiapan malam hari dan weekend. IELTS 7.5 di percobaan pertama — keuntungan sudah terbiasa kerja dalam bahasa Inggris.

Reaksi yang Menyakitkan

Ketika saya ceritakan rencana resign ke orang-orang terdekat, responsnya seperti saya mengumumkan mau terjun dari tebing:

Orangtua: "Kamu sudah 30 tahun, sudah mapan, kenapa dilepas? Teman-temanmu sudah punya rumah. Kapan kamu mau settle down?"

Pacar (sekarang istri): Dia butuh waktu 2 minggu untuk memproses. Bukan karena tidak mendukung — tapi karena kita sudah merencanakan nikah tahun itu, dan beasiswa berarti menunda 2 tahun.

Teman kantor: "Gila ya lo. Gaji segitu dilepas? Nanti kalau balik belum tentu dapat yang sama."

Atasan: Yang ini justru paling supportive. Beliau bilang: "Saya sendiri menyesal tidak ambil kesempatan ini di umur kamu. Go."

Financial Sacrifice: Angka yang Nyata

Mari kita hitung dengan jujur:

Penghasilan yang hilang selama 2 tahun:

  • Gaji: Rp25 juta x 24 bulan = Rp600 juta
  • Bonus tahunan: ~Rp50 juta x 2 = Rp100 juta
  • Total opportunity cost: ~Rp700 juta

Yang saya dapat dari beasiswa:

  • Living allowance: ~AUD 3.500/bulan (~Rp35 juta di kurs saat ini, tapi habis untuk biaya hidup di Melbourne)
  • Tuition: ditanggung penuh
  • Net savings selama 2 tahun: Rp0 (semua habis untuk hidup)

Secara financial, saya kehilangan Rp700 juta dalam 2 tahun. Uang yang bisa untuk DP rumah, tabungan nikah, atau investasi.

Ini bukan keputusan yang bisa diambil dengan mata tertutup. Saya dan pasangan saya habiskan 3 bulan untuk mendiskusikan ini — spreadsheet financial planning, skenario terburuk, plan B kalau gagal.

2 Tahun di Melbourne: Dari Comfort Zone ke Growth Zone

Bulan pertama di Melbourne, saya mengalami identity crisis ringan. Selama 8 tahun, identitas saya terikat pada pekerjaan. "Saya Senior Associate di ABC Consulting." Tiba-tiba, saya "cuma" mahasiswa lagi. Duduk di kelas dengan orang-orang yang lebih muda 5-8 tahun.

Tapi justru itu yang saya butuhkan: didekonstruksi dan direkonstruksi.

Mata kuliah yang paling mengubah perspektif saya: Poverty and Inequality. Selama 8 tahun di consulting, saya melihat ekonomi dari sudut pandang corporate growth. Di kelas ini, saya belajar melihat ekonomi dari sudut pandang orang-orang yang tertinggal.

Momen paling powerful: field research di komunitas Aboriginal. Pertama kalinya saya keluar dari bubble corporate dan melihat bagaimana kebijakan ekonomi berdampak langsung pada kehidupan manusia. "Ini kenapa saya resign," pikir saya.

Kehidupan Sehari-hari: Dari Gaji 25 Juta ke Stipend Ketat

Adjustment paling concrete: lifestyle downgrade drastis.

  • Dulu makan siang di restoran bersama klien. Sekarang bawa bekal nasi dari rumah.
  • Dulu Grab ke mana-mana. Sekarang naik tram dan sepeda.
  • Dulu beli baju brand tiap bulan. Sekarang thrift shop.
  • Dulu weekend ke kafe fancy. Sekarang weekend di perpustakaan.

Apakah saya tersiksa? Honestly, tidak. Ada kebebasan aneh dalam kesederhanaan. Tanpa pressure untuk "tampil" sesuai status corporate, saya justru merasa lebih ringan.

Tapi momen-momen sulit tetap ada. Terutama ketika mantan kolega posting di LinkedIn tentang promosi, bonus, atau liburan ke Eropa — sementara saya memutar otak apakah budget minggu ini cukup untuk beli avocado.

Lulus: Dan Kemudian Apa?

Dua tahun berlalu. Lulus dengan distinction. Thesis tentang impact assessment of microfinance programs in Southeast Asia — dosen pembimbing bilang ini salah satu yang terbaik di angkatan.

Kembali ke Indonesia. Apakah langsung dapat kerja dengan gaji lebih tinggi?

Tidak instan. Butuh 3 bulan untuk menemukan posisi yang tepat. Bukan karena tidak ada tawaran — tapi karena saya sekarang lebih selektif. Saya tidak mau kembali ke consulting yang sama.

Akhirnya: posisi di development consulting firm yang bekerja dengan World Bank, ADB, dan pemerintah daerah. Gaji: Rp35 juta per bulan — lebih tinggi dari sebelumnya, PLUS pekerjaan yang aligned dengan passion saya.

Tapi yang lebih penting dari gaji: saya bangun setiap pagi tanpa dread di dada.

2 Tahun Kemudian: Retrospektif

Sekarang umur 32. Sudah menikah (ya, pacar saya menunggu). Sudah punya rencana KPR (terlambat 2 tahun dibanding rencana awal, tapi tetap terwujud). Gaji sudah di atas level sebelum resign.

Apakah keputusan itu gila? Dari sudut pandang financial jangka pendek: ya, agak gila.

Apakah keputusan itu berani? Dari sudut pandang karir dan personal growth jangka panjang: absolutely.

Apakah saya akan melakukannya lagi? Tanpa ragu.

Untuk Kamu yang Sedang Mempertimbangkan

1. Hitung financial-nya dengan jujur. Opportunity cost itu nyata. Pastikan kamu punya tabungan darurat dan rencana keuangan yang clear.

2. Bicara dengan pasangan/keluarga jauh sebelum deadline. Ini keputusan yang mempengaruhi semua orang, bukan cuma kamu.

3. Resign karena LARI MENUJU sesuatu, bukan LARI DARI sesuatu. Kalau kamu resign karena benci kerja, beasiswa bukan solusi. Kalau kamu resign karena ada visi jelas, maka beasiswa adalah kendaraan.

4. AAS, Fulbright, dan Chevening secara khusus menghargai pengalaman kerja. Umur 30 dengan 7-8 tahun pengalaman itu sweet spot untuk beasiswa-beasiswa ini.

5. Career pivot setelah beasiswa itu realistis. Banyak alumni beasiswa yang berhasil pindah bidang. Gelar S2 + pengalaman kerja sebelumnya = kombinasi yang sangat kuat.

Pesan Terakhir

Kadang kamu harus mundur 2 langkah untuk maju 10 langkah. Resign dari gaji 25 juta terasa seperti kemunduran. Tapi 2 tahun kemudian, saya berada di tempat yang jauh lebih baik — secara karir, secara personal, secara emotional.

Umur 30 bukan terlambat untuk beasiswa. Umur 30 mungkin justru timing yang paling tepat — karena kamu tahu persis apa yang kamu mau dan kenapa kamu mau-nya.

Cek panduan beasiswa untuk profesional mid-career di beasiswa.net. Jangan biarkan comfort zone menahan kamu dari growth zone.

Komentar & Diskusi

Komentar langsung tampil. Spam otomatis difilter.
Memuat komentar...