"Emang Ibu-ibu Bisa Dapat Beasiswa?"
Pertanyaan itu datang dari tetangga saya, disampaikan dengan nada yang campuran antara kagum dan ragu. Saya baru saja cerita bahwa saya diterima beasiswa AAS ke Australia.
Umur saya 35 tahun. Anak saya dua: Raka (7 tahun) dan Nadia (4 tahun). Suami saya PNS di dinas pendidikan. Dan ya — ibu-ibu bisa dapat beasiswa.
Tapi perjalanan ke sana? Itu cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar "apply, diterima, berangkat."
Baca Juga:
Kenapa Saya Apply di Umur 35
Saya lulusan S1 Pendidikan dari universitas negeri di Makassar. Setelah lulus, saya langsung mengajar di SMP negeri. 12 tahun jadi guru. Menikah di umur 26. Anak pertama di umur 28. Anak kedua di umur 31.
Selama 12 tahun, saya melihat masalah yang sama berulang di dunia pendidikan Indonesia: kurikulum yang tidak relevan, metode pengajaran yang ketinggalan zaman, dan guru-guru yang tidak punya kesempatan untuk belajar lagi. Termasuk saya sendiri.
Di umur 33, saya menghadiri workshop pendidikan di Makassar yang diisi oleh alumni AAS. Setelah sesi, saya bertanya: "Apakah ada batasan umur untuk apply?"
Jawabnya: "Tidak. AAS malah menghargai pengalaman. Dan mereka punya kebijakan khusus untuk applicant yang membawa keluarga."
Malam itu, di kamar, saya buka website AAS dan membaca setiap halaman sampai jam 2 pagi. Anak-anak tidur di sebelah saya. Suami sudah tidur. Dan saya duduk di sana dengan layar laptop menyala, mulai bermimpi lagi setelah bertahun-tahun hanya fokus pada rutinitas.
Prepare IELTS dengan Anak Balita
Ini bagian yang paling sering ditanya: "Gimana caranya belajar IELTS sambil urus anak?"
Jawaban jujur: dengan sangat, sangat sulit.
Jadwal harian saya saat persiapan:
- 05.00: Bangun, belajar IELTS 1 jam sebelum anak-anak bangun
- 06.00: Urus anak-anak, sarapan, antar sekolah
- 07.00-14.00: Mengajar di sekolah
- 14.30-17.00: Jemput anak, main sama anak, masak
- 19.00-20.30: Temani anak belajar dan tidur
- 21.00-23.00: Belajar IELTS lagi
Total waktu belajar IELTS per hari: 3 jam. Dicuri dari waktu tidur.
Saya butuh 6 bulan persiapan. IELTS pertama: 6.0 — kurang untuk AAS yang butuh minimal 6.5. Writing saya yang paling lemah karena selama 12 tahun mengajar, saya hampir tidak pernah menulis dalam bahasa Inggris.
IELTS kedua, 3 bulan kemudian: 6.5. Pas di minimum. Saya menangis di parkiran tempat tes. Bukan karena skornya sempurna — tapi karena akhirnya cukup.
Suami: Partner yang Harus Rela Berkorban
Beasiswa untuk applicant yang membawa keluarga artinya suami saya harus rela meninggalkan pekerjaannya. Sebagai PNS, dia mengambil cuti di luar tanggungan negara (CLTN) — yang berarti selama 2 tahun, tidak ada gaji dari pemerintah.
Ini bukan keputusan saya sendiri. Ini keputusan keluarga. Kami duduk bersama, buat spreadsheet (ya, saya suka spreadsheet):
Penghasilan yang hilang: Gaji suami Rp7 juta/bulan x 24 bulan = Rp168 juta
Yang ditanggung AAS: Living allowance yang meningkat untuk yang membawa keluarga, establishment allowance, tiket pesawat keluarga, contribution to school fee untuk anak.
Yang TIDAK ditanggung: Banyak hal kecil yang menumpuk — perlengkapan anak, winter clothing untuk 4 orang, makanan halal yang lebih mahal, dan unexpected expenses.
Suami saya bilang: "Kamu sudah 12 tahun mengurus kita semua. Sekarang giliran aku yang support kamu."
Kalau saya bilang saya tidak menangis mendengar itu, saya bohong.
Proses Seleksi AAS: Lebih Lama dari yang Dibayangkan
Timeline seleksi AAS saya:
- Mei 2023: Submit aplikasi online
- September 2023: Short-listed untuk interview
- November 2023: Interview di Jakarta (biaya ke Jakarta dari Makassar: Rp3 juta sendiri)
- Maret 2024: Pengumuman diterima
- Juli 2024: Pre-departure training di Jakarta (2 minggu)
- Agustus 2024: Berangkat ke Australia
Total dari mulai persiapan sampai berangkat: hampir 2 tahun. Kesabaran yang diuji di setiap tahap.
Interview AAS termasuk pertanyaan tentang bagaimana saya akan mengelola studi dan keluarga. Saya jawab jujur: "Saya tidak punya jawaban sempurna. Yang saya punya adalah 12 tahun pengalaman multitasking sebagai guru dan ibu, support system keluarga yang kuat, dan rencana yang realistis."
Melbourne dengan 2 Anak: Realita Sehari-hari
Tiba di Melbourne bulan Agustus — winter Australia. Anak-anak yang tidak pernah merasakan suhu di bawah 20 derajat tiba-tiba harus pakai jaket tebal berlapis-lapis. Nadia menangis setiap pagi selama minggu pertama karena kedinginan.
Sekolah anak: Raka masuk primary school (gratis untuk dependent visa). Nadia masuk childcare — yang ini MAHAL. AAS memberikan childcare allowance, tapi tidak menutup sepenuhnya. Biaya childcare di Melbourne sekitar AUD 100-120/hari. Subsidi dari pemerintah Australia dan AAS menutup sekitar 70%. Sisanya dari living allowance.
Time management kuliah + parenting:
- Kuliah siang saat anak-anak di sekolah/daycare
- Belajar malam setelah anak-anak tidur
- Weekend: family time WAJIB — ini non-negotiable untuk kesehatan mental anak-anak DAN saya
- Suami handle semua urusan domestik: masak, bersih-bersih, antar-jemput anak
Yang tidak terduga: Raka di-bully di sekolah karena bahasa Inggrisnya belum lancar. Saya harus meeting dengan guru dan counselor sekolah. Nadia menolak makan di childcare karena makanannya "beda" — kami harus bawakan bekal setiap hari.
Saya sempat breakdown di bulan ke-3. Duduk di kamar mandi kampus, menangis, berpikir: "Apakah saya egois membawa anak-anak ke sini?"
Yang menyelamatkan: komunitas mahasiswa Indonesia di Melbourne. Mereka bukan cuma teman — mereka jadi extended family. Arisan, masak bareng, playdate untuk anak-anak. Saya tidak sendirian.
Akademik: Bukan Mudah, Tapi Possible
Kuliah S2 di umur 35 itu berbeda. Otak saya tidak secepat umur 22 — tapi pengalaman 12 tahun mengajar membuat saya punya perspektif yang mahasiswa muda tidak punya.
Ketika kelas membahas teori pendidikan, saya bisa bilang: "Di kenyataan di kelas saya di Makassar, teori ini tidak bekerja karena..." Dosen-dosen menghargai itu. Teman-teman sekelas menghargai itu.
Nilai akhir saya: GPA 3.7. Thesis tentang teacher professional development in rural Indonesia — dengan data dari sekolah-sekolah di Sulawesi yang saya kumpulkan melalui kolega guru.
Bukan yang tertinggi di kelas. Tapi untuk seseorang yang belajar sambil mengurus 2 anak di negara asing — saya bangga.
Kembali ke Indonesia: Apa yang Berubah
Setelah 2 tahun, kami kembali ke Makassar. Yang berubah:
Karir: Saya sekarang tidak hanya mengajar — tapi juga terlibat dalam pelatihan guru di tingkat provinsi. Gelar S2 dari Australia membuka akses ke project-project Kemendikbud yang sebelumnya tidak terjangkau.
Anak-anak: Raka sekarang bilingual. Nadia lebih percaya diri dan adaptif. 2 tahun di Australia membentuk mereka juga — bukan cuma saya.
Perspektif: Saya melihat masalah pendidikan Indonesia dengan lensa yang lebih luas. Bukan cuma keluhan — tapi dengan framework untuk solusi.
Untuk Ibu-ibu yang Bermimpi Beasiswa
1. AAS secara eksplisit menyambut applicant yang sudah berkeluarga. Ini bukan penghambat — banyak kebijakan yang memang dirancang untuk akomodasi keluarga.
2. Mulai dari IELTS. Ini biasanya barrier terbesar. Belajar 1-2 jam sehari selama 6 bulan sudah cukup untuk kebanyakan orang. Curi waktu dari mana saja yang bisa.
3. Libatkan suami/keluarga dari awal. Ini bukan keputusan solo. Suami, orangtua, saudara — semua perlu tahu dan mendukung rencana.
4. Cari komunitas. Alumni AAS, grup ibu-ibu penerima beasiswa di Facebook/Telegram — mereka punya informasi dan support yang invaluable.
5. Jangan tunggu anak-anak besar. Tidak ada waktu "sempurna" untuk apply. Anak balita punya tantangan tersendiri, anak SD juga. Setiap umur punya cara untuk dikelola.
6. Ingat: kamu tidak hanya melakukan ini untuk dirimu. Anak-anak yang melihat ibunya belajar, berjuang, dan berhasil — itu pelajaran yang lebih powerful dari apapun yang diajarkan di sekolah.
Pesan Terakhir
Menjadi ibu bukan penghalang — justru motivasi terbesar. Setiap kali saya ingin menyerah selama 2 tahun itu, saya melihat Raka dan Nadia, dan saya ingat: saya melakukan ini supaya mereka tahu bahwa belajar tidak punya batas usia, gender, atau status.
Kalau kamu ibu rumah tangga, guru, pekerja, atau apapun — dan kamu bermimpi beasiswa: mimpi itu valid. Beasiswa.net punya panduan lengkap untuk beasiswa AAS dan program lain yang ramah keluarga. Mulailah dari sana. Dan percaya bahwa kamu bisa.
Komentar & Diskusi